Pertemuan APP 1 & 2: Dengan Dasar Kasih, Keterlibatan Itu Berbuah Suka Cita

8 Maret 2021
  • Bagikan ke:
Pertemuan APP 1 & 2: Dengan Dasar Kasih, Keterlibatan Itu Berbuah Suka Cita

APP 1 & 2: Persaudaraan dalam keluarga & dalam masyarakat.

Tahun Refleksi 2021 Keuskupan Agung Jakarta mengajak umat di lingkup keuskupan ini melihat kembali apa yang sudah dilakukan di tahun sebelumnya (Tahun Keadilan Sosial) untuk kemudian memperbaikinya di masa depan. Dengan kata lain, ada ajakan untuk pertobatan.

Tema Tahun Refleksi, yaitu “Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, dan Semakin Menjadi Berkat”, merupakan kesatuan tak terpisahkan. Kasih menjadi dasar keterlibatan yang membawa berkat suka cita, baik bagi anggota keluarga maupun sesama di masyarakat.

Maria1-A--_2

Peserta APP 1 Lingkungan Fabiola 1.

Dua permenungan itu yang dapat ditarik dari Pertemuan APP 1 Lingkungan Fabiola 1 pada hari Sabtu, 27 Februari 2021 dan Pertemuan APP 2 Wilayah Kristoforus, Sabtu, 6 Maret 2021, yang keduanya diselenggarakan secara virtual.

Dalam pertemuan APP 1 Lingkungan Fabiola 1 menghadirkan Pastor Leonarndus Ansis Bas, Pr (Romo Leo), yang berasal dari Manggarai, Flores, NTT. Sesuai panduan APP 2021 KAJ, pertemuan ini bertema “Persaudaraan dalam Keluarga” dengan bacaan Yoh 2:1-11 tentang Perkawinan di Kana ketika Yesus menampakkan kemuliaan-Nya dengan mukjizat mengubah air menjadi anggur.

Maria2--_4

Romo Leonardus Ansis Bas, Pr, asli Manggarai, Flores, NTT.

Anggur menjadi tanda suka cita. Pada saat kekurangan anggur, Maria bunda Yesus percaya bahwa putranya mampu melakukan sesuatu yang bisa “menyelamatkan muka” keluarga yang sedang berpesta.

Ketika terjadi kekurangan anggur itulah, Maria dan Yesus menjadi model atau gambaran keterlibatan dalam keluarga untuk menghadirkan atau membuahkan suka cita karena kasih.

Maria1-B--_2

Sebagian peserta APP 1 dari Ligkungan Fabiola 1.

Berkaca pada kisah di Kana tersebut, Romo Leo berbagi pengalaman tentang kehidupan dalam keluarganya. Ia mendapatkan pendidikan keras dari bapaknya, bahkan sampai menimbulkan trauma hingga dia dewasa. Akan tetapi di kemudian hari ia sadar bahwa sikap bapaknya itu didasari kasih pada anaknya.

Romo Leo mengatakan bahwa dengan demikian tidak ada keluarga yang sempurna. “Dibutuhkan kesetiaan, kemauan bertahan, dan saling mengingatkan bagaimana menyelesaikan suatu persoalan, dan semuanya itu tentu harus dilandasi dengan kasih yang telah diajarkan Tuhan,” katanya.

Ricky gerung--_1

Wujud persaudaraan dalam masyarakat Gereja St Bernadet.

Sharing dan refleksi beberapa peserta dapat dirangkum sebagai niat aksi nyata untuk saling mengasihi, saling setia dan memberi maaf, saling mengerti, serta melakukan hal-hal kecil yang berkontribusi bagi kebersamaan dalam keluarga dan diharapkan bisa menguatkan perjalanan hidup persaudaraan dalam rumah tangga.

Wajah Tuhan pada sesama

Pertemuan APP 2 bertema “Persaudaraan dalam Masyarakat”. Di Wilayah Kristoforus pemandunya adalah katekis senior, Bp JC Simbolon, yang mengajak umat untuk merefleksikan hidup beriman di tengah masyarakat, khususnya di masa pandemi ini, serta menemukan kehadiran Allah dalam diri saudara-saudara di sekitar kita.

Silvy2--

Pertemua APP 2 Kristoforus dipandu Bp JC Simbolon.

Sesuai buku panduan, umat diajak merenungkan Luk 10:25-37 tentang “Orang Samaria yang Murah Hati”. Ahli Taurat yang awalnya ingin mencobai Yesus justru akhirnya disadarkan tentang hukum kasih. Pada sesama, khususnya yang lemah, kecil, tertindas, miskin, dan difabel (LKTMD) hadir wajah Allah yang memanggil kita.

Apa yang telah dilakukan Paus Fransiskus dengan menemui Imam Besar Ahmad Al-Tayyeb di Abu Dhabi, kata Pak Simbolon, merupakan contoh nyata bagaimana Sri Paus menunjukkan bahwa semua manusia ciptaan Tuhan setara dalam hak, kewajiban dan martabat, dan Tuhan telah memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara.

Silvy1--

Sebagian peserta pertemuan APP 2 Wilayah Kristoforus.

Berita yang sedang hangat hari itu, yakni kunjungan Paus Fransiskus ke tanah kelahiran Nabi Abraham, Ur, di Irak, dengan ajakan untuk mengakhiri kekerasan merupakan contoh wujud nyata kasih kepada sesama tanpa melihat latar belakang perbedaan-perbedaannya.

Merasa mendapatkan pelajaran sangat penting, salah satu peserta, Silvy Tjong, mengaku seperti disadarkan bahwa mencintai Tuhan tidak serta merta terjadi hanya dengan berdoa dan bersikap baik pada orang yang baik kepada dirinya.

Romo Lamm--_3

Gereja Bernadet menghadirkan kasih Allah bagi sesama.

“Hari ini saya menyadari, bagaimana bisa mencintai Tuhan yang tidak kamu lihat sedangkan saudara yang terlihat tidak kamu perhatikan? Hal ini sangat mengena di hati saya. Saya ingin berkomitmen untuk bisa melihat wajah Tuhan pada diri setiap orang yang saya temui meski orang itu tidak menyukai saya,” tulis Silvy lewat aplikasi WhatsApp. “Pertemuan APP ini sungguh bermanfaat,” imbuhnya.


Teks: Maria, ps/ Foto-foto: Buku Panduan APP 2021 KAJ, Screenshot: Maria, Silvy Tjong, dok. Komsos

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna