Go-Kil Januari 2021: Belajar Rendah Hati dari Yohanes Pembaptis dan Yesus

13 Januari 2021
  • Bagikan ke:
Go-Kil Januari 2021: Belajar Rendah Hati dari Yohanes Pembaptis dan Yesus

Go-Kil perdana SKKS tahun 2021, 9 Januari.

Bagaimana cara melatih kerendahan hati, karena dalam praktiknya unsur manusiawi seperti kesombongan dan egoisme lebih mengedepan sehingga bisa menjadi batu sandungan dalam pelayanan, bahkan penyebab orang lain mundur teratur atau menghilang?

Pertanyaan itu muncul dalam sesi tanya-jawab dari seorang peserta Go Kitab Suci Lingkungan (Go-Kil) perdana tahun 2021 yang diselenggarakan secara daring oleh Sie Kerasulan Kitab Suci, Sabtu (9/1), pukul 17.00-18.40, dengan petugas pemandu Tim Wilayah Monika.

Sr Mariska PIJ atas no 2 dari kiri saat mengulas Alkitab Namanya Cicilia Winarni Pembaca Alkitab Ibu Martina Widi sebelah kanan bu Lita--

Sr Mariska, PIJ (paling atas ke-2 dari kiri).

Sr Mariska, PIJ, sebagai salah satu pengulas dan pemberi renungan dalam ibadat Go-Kil tersebut, menjelaskan secara singkat bahwa kerendahan hati harus terus dilatih dan diperjuangkan, seperti yang dicontohkan Yohanes Pembaptis dan Yesus, yang keduanya juga melakukan pembentukan pribadi.

“Untuk mencapai sikap kerendahan hati dibutuhkan pengenalan pribadi masing-masing dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, relasi yang mendalam dengan Sang Pencipta sehingga lebih mudah memahami orang lain,” kata Sr Mariska, PIJ, yang bernama asli Caecilia Winarni itu.

Sebagian materi Sr Mariska PIJ--

Sebagian materi Sr Mariska, PIJ.

Dua tokoh istimewa

Go-Kil sore itu, sesuai panduan materi dari KAJ, merenungkan Injil Markus 1:7-11 tentang dua tokoh istimewa dalam Karya Penyelamatan Allah, yaitu Yohanes Pembaptis dan Yesus. Pengulas dan pemberi renungannya adalah dua Suster Sang Timur, yaitu Sr Mariska, PIJ, dan Sr Clarissa, PIJ.

Dalam sesi ulasan dan renungan mereka, Sr Mariska menyampaikan tiga poin penting  tentang Yohanes Pembaptis dan Yesus. Di antaranya ada persamaan sifat kedua tokoh itu, yaitu sama-sama setia dan taat kepada kehendak Allah yang mengutusnya.

churchojesuschrist dot org-

Yohanes membaptis Yesus (churchojesustchrist.org)

Kemudian, Yohanes Pembaptis dan Yesus juga melakukan pembentukan dan pengolahan pribadi dengan berpuasa dan mati raga; dan penyerahan diri secara total, yaitu bentuk kesadaran diri sebagai abdi atau pelayan Allah yang siap dipakai sebagai alat untuk mewartakan keselamatan.

Melengkapi ulasan Sr Mariska, Sr Clarissa mengingatkan tentang teladan dari  Yohanes Pembaptis dan Yesus yang bisa dijadikan pegangan dalam pelayanan, apapun bentuk pelayanan itu, yaitu adanya kerendahan hati. Kekuatan sebuah pelayanan terletak pada kedalaman relasi dengan Allah Bapa.

Bu Aning dibawah p Tulus pemandu lagu--

Peserta Go-Kil berasal dari 21 Wilayah.

"Kerendahan hati melahirkan pribadi yang melakukan sesuatu atas dasar suka cita dan tulus ikhlas. Pribadi yang rendah hati selalu berusaha melakukan sesuatu sebaik mungkin, (apakah) berhasil atau gagal, ditolak atau diterima, disanjung atau dikritik, tetap dilakukan dengan suka cita dan diserahkan sepenuhnya kepada Allah," tegas Sr Clarissa.

Pribadi yang rendah hati juga harus berani meminta maaf jika melakukan kesalahan dan berani juga memberi maaf dengan tulus walaupun sebenarnya ada sesuatu yang menyakitkan secara manusiawi. “Teruslah berbuat baik dan bermurah hati seperti teladan yang diberikan Yesus,” ajak Sr Clarissa.

Sebagian petugas P Edwin doa Angelus Sr Clarissa pemberi renungan P Krispinus Moderator--

Korwil Monika YP Dwi Marthana Rossa (baris 2, ke-2 dari kiri).

Berpindah iman

Pada bagian lain ulasannya, Suster Mariska juga mengingatkan makna pembaptisan sebagai lambang pengudusan dari Allah Bapa dan tugas perutusan kita sebagai Imam, Nabi, dan Raja kepada sesama.

Berkaitan dengan itu, dalam sesi tanya jawab ada pertanyaan peserta, apakah kita turut bertanggung jawab jika ada sesama umat yang berpindah iman atau keyakinan?

Menjawab pertanyaan itu, Sr Mariska mengatakan perlunya dievaluasi sumber masalahnya secara mendalam, apakah kita termasuk pihak yang berkontribusi menjadi penyebab orang kecewa dan berpindah keyakinan atau tidak.

“Jika ya, kita wajib bertanggung jawab dan menuntun kembali ke jalan yang benar. Jika tidak, kita juga harus membantu dan merangkulnya kembali. Tetapi semua kembali pada pilihan bebas masing-masing pribadi,” katanya.

embh--_1

Peserta Go-Kil 9 Januari 2021.

Tugas Wilayah Yohanes

Dalam Go-Kil tersebut, Tim Monika yang bertugas terdiri dari Ibu Maria Melati, pemimpin ibadat; Leonardus dan Marcella, mewakili OMK, pembaca Doa Umat; Ibu Martina Widi, pembaca Alkitab; Pak Edwin, pembawa Doa Angelus; Pak Krispinus Parman, moderator, dan Ibu Aning, pemandu lagu. Di akhir ibadat dinyanyikan Hidup Ini Adalah Kesempatan.

Di akhir pertemuan, Ketua SKKS Ibu V Etty Iswanti menyampaikan terima kasih dan menginformasikan bahwa petugas pertemuan bulan Februari adalah Wilayah Yohanes.


Teks: Maria Melati K Satriyani/ Foto-foto: Screenshot

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna