Bahan-bahan dan peralatan yang digunakan.
Beberapa warga di Lingkungan Sesilia 4 pada hari Sabtu 10 Oktober 2020 belajar bersama membuat Eco Enzim. Kegiatan tersebut atas ajakan Ibu Tri Cory Anggreeni untuk mengisi waktu ketika kita banyak mengahbiskan waktu di rumah saat pandemi, sekaligus memanfaatkan sisa-sisa sayur dan buah dari sisa memasak.

Isi dalam toples.
“Ketertarikan akan eco enzime ini berawal dari ketidaksengajaan mengikuti sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Gereja Maria Kusuma Karmel. Dari webinar itu saya jadi tahu kalau sisa sisa potongan sayuran dan kulit buah serta makanan lainnya dapat diubah menjadi cairan yang bermanfaat sekaligus mengurangi timbunan sampah,” kenang Bu Cory, sapaan akrabnya.

Proses akhir pembuatan eco enzim.
“Setelah mengikuti webinar itu langsung saya praktikkan bersama keluarga dan menjadi kebiasaan baru. Jika ada sisa potongan sayur dan kulit buah tidak langsung dibuang tetapi dikumpulkan di tempat khusus. Nah biasalah orang zaman sekarang apa yang kita lakukan pasti difoto dan upload di medsos sehingga temen-temen di lingkungan jadi tahu dan kepingin,” ungkapnya.

Diberi tanggal.
Dijelaskan, eco enzim adalah cairan alami serba guna yang merupakan hasil fermentasi dari limbah dapur organik seperti ampas, potongan sisa sayuran, kulit buah, gula dan air. Dengan mengolah eco enzim kita telah mengolah sebagian besar sampah kita sehingga mengurangi beban Tempat Pembuangan sampah Akir/TPA.

Warga Sesilia 4 dengan eco enzim-nya.
Eco enzim ini dapat digunakan sebagai pembersih alami yang bebas bahan kimia dan lembut di tangan karena bebas bahan kimia untuk mencuci buah dan sayur, mengepel, dan cuci tangan. Cairan ini juga dapat digunakan untuk penolak serangga seperti semut dan penyubur tanaman.
“Maka mari kita manfaatkan sampah rumah tangga kita sebagai bentuk peduli lingkungan dengan membuat eco enzyme,” ajaknya.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Cory