Foto bareng Dirjen Bimas Katolik Bp Bayu Samodro (berpeci).
Bekerja sama dengan Komisi Keluarga KWI, Direktorat Jenderal Bimas Katolik Kementerian Agama mengadakan kegiatan Penyusunan Modul Pembinaan Keluarga Bahagia dengan tema Moderasi Beragama: Umat Rukun, Indonesia Maju dan Mandiri.
Kegiatan tersebut berlangsung 25-29 Oktober 2020, di Hotel A One, Jl Wahid Hasyim, Jakarta, diikuti oleh 35 orang peserta dari perwakilan Bimas Katolik DKI Jakarta, Pengawas Guru Agama Katolik DKI, dan Penyuluh Agama Katolik Provinsi Banten.

Bp Albertus Triyatmojo resmi membuka acara.
Tiga orang peserta di antaranya berasal dari Paroki Ciledug, yaitu Bp Fransiscus Xaverius Eko Pranowo, Ibu Fransisca Dyah Dwi Purwarinaningsih—keduanya utusan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) paroki—dan Ibu Maria Melati K Satriyani, Penyuluh Agama Katolik Provinsi Banten.
Acara dibuka oleh Bp Albertus Triyatmojo, Direktur Urusan Agama Katolik, mewakili Bp Yohanes Bayu Samodro, Dirjen Bimas Katolik Kemenag, yang sedang ada acara lain pada waktu yang sama.

Peserta mengikuti pemaparan narasumber.
Ketua Pelaksana, Ibu Yustina Sardiyem dari Subdirektorat Kelembagaan Kemenag, mengatakan, tujuan kegiatan itu adalah meningkatkan kemampuan dan potensi para pendamping calon pasutri maupun pastoral pasca-perkawinan menurut pandangan agama Katolik.

Bp Bayu Samodro dan Bp Benny sebagai narasumber.
Lima narasumber yang hadir sebagai acuan: Albertus Triyatmojo (dengan kompetensi: Kebijaksanaan Pemerintah di Bidang Urusan Agama Katolik); Benediktus Haro (Penguatan Moderasi Beragama); Direktur Jenderal Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro (Katekese Keluarga dalam Perspektif Tugas dan Fungsi Dirjen Bimas Katolik); Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI, Romo Yohanes Aristanto Hari Setiawan, MSF (Katekese Perkawinan); dan Chaterine DML Martosudarno (Psikologi Keluarga).

Pemaparan materi Moderasi Beragama oleh Pak Benny.
Moderasi Beragama sebagai tema kegiatan tentang hidup perkawinan dan keluarga itu dibahas oleh Bp Benediktus Haro yang akrab disapa Pak Benny.
Menurut Pak Benny, moderasi beragama sangat penting karena keluarga (melalui orangtua) berperan sebagai pendidik utama dan peletak dasar nilai-nilai hidup Kristiani.

Ice breaking, berjoget dengan iringan lagu Ewer-ewer.
Melalui pengajaran agama dalam keluarga diharapkan anak-anak mampu menangkal sikap dan tindakan intoleran dan radikal serta sikap fanatisme yang berlebihan dalam hidup beragama.
Melalui keluarga diharapkan anak-anak bisa merawat Kebhinekaan Indonesia tanpa harus mencabut tradisi dan budaya yang sudah ada, misalnya kebiasaan bersilaturahmi saat peringatan hari-hari keagamaan.

Pemaparan materi Romo Aristanto, MSF, dan Ibu Chaterine.
Narasumber Romo Yohanes Aristanto Hari Setiawan, MSF dan Ibu Chaterine DML Martosudarno memaparkan 10 tema pokok dalam perkawinan, antara lain Kasih, Pusat Hidup Manusia, Cinta Kasih Suami-Istri, Kesetiaan dan Perkawinan Katolik yang Tak Terceraikan, dan Tanggung Jawab Berkeluarga.
Sesudah menerima dan mendalami materi narasumber, pada hari ke-3 dan ke-4 peserta dibagi dalam kelompok-kelompok diskusi kecil. Hasilnya dibahas bersama dalam rapat pleno.

Diskusi kelompok-kelompok kecil sesudah mendalami materi.
Karena belum final, dalam beberapa hari mendatang kegiatan tersebut masih akan dilanjutkan. Menurut Bp Benediktus Haro, materi yang tersusun akan dikirimkan ke 37 keuskupan dan Kepala Bidang Pembimas Katolik di 34 Provinsi untuk mendapatkan umpan balik sebagai bahan penyempurnaan.
Teks: Maria Melati/ Foto-foto: Panitia, Kelompok Penyuluh Bimas Katolik Provinsi Banten