Romo Matius: Peraturan Dibuat demi Keselamatan Kita Bersama

26 Oktober 2020
  • Bagikan ke:
Romo Matius: Peraturan Dibuat demi Keselamatan Kita Bersama

Pastor Rekan Paroki Ciledug, Romo Matius Pawai, CICM.

“Hari ini merupakan Minggu ke-2 paroki kita tercinta menyelenggarakan misa offline atau misa yang dihadiri umat meskipun terbatas,” kata Romo Matius Pawai, CICM, mengawali homilinya pada Misa Hari Minggu Biasa XXX, Minggu 25 Oktober 2020, di Gereja Santa Bernadet Ciledug.

“Delapan bulan bukan waktu yang pendek sejak merebaknya virus corona. Umat tidak bisa menghadiri Perayaan Ekaristi di gereja. Tentu ada kerinduan yang besar,  kapan kami dapat kembali hadir di gereja untuk dapat berjumpa dan menyambut Tuhan dalam suasana yang menyenangkan,” lanjut Romo Matius, sapaan akrabnya.

off1--

Umat menjalani tahap pemeriksaan di gerbang.

Kemudian Romo Matius mengatakan, dulu kita boleh berkumpul begitu saja dan sekarang kita berada pada situasi yang baru bernama new normal; suasana hidup baru yang memaksa kita semua untuk berhadapan dengan beraneka macam peraturan yang baru. “Kita semua harus mengikuti itu demi keselamatan kita dan juga keselamatan sesama yang ada di sekitar kita,” tegasnya.

off2--

Tahap pemeriksaan suhu dengan thermo gun.

“Di paroki kita ada tim baru bernama TGKP (Tim Gugus Kendali Penyebaran, red) Covid-19. Tim inilah yang sibuk dan bekerja keras untuk dapat menyiapkan misa offline ini. Berbagai aturan dibuat bukan untuk menyenangkan diri mereka tetapi untuk membantu kita semua agar selamat,” katanya lagi.

Selain tim TGKP, imbuh Romo Matius, ada juga Tim Admin Belarasa yang bertugas mendata umat yang akan mengikuti misa offline. “Mereka semua bekerja dari pagi sampai pagi semata-mata untuk menjaga umat di Paroki ini agar tetap dalam kondisi yang prima,” ujarnya.

off6--

Mencuci tangan sebelum memasuki gereja.

“Peraturan dibuat bukan untuk menyenangkan yang membuat peraturan tetapi demi keselamatan kita bersama. Seperti pada bacaan pertama yang tadi kita dengar, Allah yang menghantar umat Israel keluar dari Mesir telah mengadakan perjanjian di Gunung Sinai. Dan Allah menepati janji-Nya untuk menghatar mereka ke tanah terjanji karena mereka mentaati sepuluh Firman Tuhan itu,” urai Romo Matius merujuk Kel 22:21-27.

off3--

Kolekte diberikan sebelum mengikuti misa.

Gembira dan bersyukur

Seperti diberitakan sebelumnya misa perdana offline dilaksanakan Minggu, 18 Oktober 2020, yang dikhususkan bagi para anggota Dewan Paroki Pleno. Mereka adalah anggota Dewan Paroki Harian, Kepala Bagian, Ketua Seksi, Koordinator Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Ketua Kelompok Kategorial. Barulah di Minggu, 25 Oktober 2020, untuk umat terbatas, bergilir dari beberapa Wilayah.

Ditemui seusai misa Bapak Zakarias Sarwono Koordinator Wilayah Antonius merasa gembira dan bersyukur dapat kembali hadir di gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.

off5--_1

Salam Damai dalam misa kenormalan baru.

“Saya melihat dan merasakan apa yang sudah disiapkan oleh tim untuk misa offline ini sudah cukup bagus. Dan ini yang akan saya sampaikan ke umat di lingkungan untuk mentaati protokol kesehatan yang sudah dibuat ketika nanti mereka mendapat kesempatan menghadiri misa,” kata Pak Sarwono.

Sementara Bapak Samiaji dari Lingkungan Albertus 1 dengan suara gemetar mengungkapkan kegembiraannya dapat kembali mengikuti Perayaan Ekaristi. Kegembiraan itu amat beralasan karena beliau bukan Ketua Lingkungan. “Karena Ketua Lingkungan tidak bisa hadir, saya yang didaftarkan. Maka saya seneng banget,” pungkasnya.

off4--

Komuni kudus mengobati kerinduan dan membahagiakan.

Komuni membahagiakan

Ibu Evi dari Lingkungan Fabiola 1, yang tinggal tidak jauh dari gereja, merasa bahagia sekali bisa hadir misa di gereja. “Setelah sekian lama hanya mengikuti misa online, hari ini dapat menerima komuni kudus. Itu amat membahagiakan. Kerinduan sekian lama tidak menerima komuni hari ini bahagia banget,” akunya.

Senada dengan Ibu Evi, Pak Rony dari Lingkungan Isidorus 4 mengungkapkan. “Boleh kembali mengikuti Perayaan Ekaristi dan menerima komuni di tengah pandemi ini menjadi obat yang menghibur.”

off7--_1

Salah satu anggota TGKP Pak Teddy Varino yang paham tentang kapasitas gereja mengungkapkan, jumlah 560 tempat duduk di tenda atas hanya diisi 75 umat ditambah petugas. Sementara tenda bawah yang berkapasitas 540 tempat duduk hanya diisi 100 orang.

“Jadi jarak tempat duduk umat pasti lebih dari 1,5 meter,” jelas Pak Teddy.


Teks & Foto: Bambang Gunadi, Screenshot

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna