Peserta pembinaan guru-guru Persink Provinsi Banten.
Sebanyak 44 guru agama Katolik yang mengajar siswa-siswi Persink (Persaudaraan Siswa-siswi Negeri Katolik) mengikuti pembinaan yang diadakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, 9-10 Oktober 2020, di Serang.
Dari jumlah peserta tersebut 4 di antaranya berasal dari Paroki Ciledug: Monica Sarmini, Maria Melati K Satriyani, Antonius Suparlan, dan Carolino Benedicto.
Pengajar siswa-siswi Persink biasanya tenaga sukarelawan yang kebanyakan tidak berlatar belakang pendidikan khusus agama/kateketik/teologi Katolik. Mereka mengajar lebih karena merasa terpanggil meskipun dengan fasilitas beragam, misalnya ketersediaan ruang kelas.

Dr H Bazari Syam, Kakanwil Kemenag Provinsi Banten.
Ketua Pelaksana Pembinaan, Bp P Christian T Lilo, mengatakan tujuan diadakannya pembinaan rutin itu adalah untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme mengajar para guru tersebut yang kharakteristiknya beragam.
Menurut data di Provinsi Banten, guru agama Katolik yang berstatus PNS hanya 4 orang, 2 di antaranya pengajar SD dan 2 lainnya mengajar SMP. Itu terjadi karena 99% guru agama Katolik lulusan khusus Pendidikan Agama Katolik ataupun Teologi biasanya lebih memilih mengajar di sekolah Katolik juga.
Dengan kondisi itulah, dalam sambutannya Bp Dr H Bazari Syam, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten, mengapresiasi dan berterima kasih atas pengabdian dan peran serta para guru yang membantu tugas pemerintah, dalam hal ini Kemenag, karena telah memberikan pendidikan dan pembinaan iman Katolik walaupun dengan fasilitas yang terbatas.
"Berbahagialah Bapak ibu yang terpanggil untuk memberikan pengajaran iman karena akan dimuliakan di hadapan Tuhan,” kata Bp Bazari.

Acara berlangsung di Hotel Flamengo, Serang.
Harta benda, kekayaan, lanjutnya, bukan jaminan atas kebahagiaan hidup setiap orang, tetapi perbuatan baik mendapat kemuliaan di mata Tuhan. “Percayalah bahwa Tuhan pasti punya rencana indah untuk setiap orang," imbuhnya.
Kakanwil menambahkan, akan diupayakan untuk meningkatkan pelayanan kehidupan beragama dari semua agama yang ada di Provinsi Banten, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun aliran kepercayaan.

Peserta dari Paroki Ciledug Gereja St Bernadet.
Tujuan dari semuanya itu adalah mengajarkan nilai-nilai agama yang sudah benar. “Jika pemahaman tentang nilai-nilai agama sudah benar, maka dengan mudah kualitas kerukunan hidup antar umat beragama tercapai,” katanya.
Di bagian akhir sambutannya Kakanwil menegaskan, keberagaman akan memberikan kebahagiaan, saling menghormati, dan saling menghargai satu sama lain. Keberagaman akan meningkatkan kualitas hidup beragama.
Malam harinya Romo Andreas Bramantiyo, Pr, Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Bogor, memberikan materi Spiritualitas Katekis. Pastor Kepala Paroki Gereja Santa Maria Tak Bernoda Rangkas Bitung ini mengingatkan kembali 6 tugas katekis.
Keenam tugas tersebut adalah membantu siswa untuk mengetahui dan memahami misteri Kristus dalam Ekaristi; mengenalkan pengetahuan liturgi; membantu pembentukan moral kristiani; mengajar cara berdoa yang benar; mengenalkan hidup berkomunitas; dan membangun kesadaran misioner.

Romo Andreas Bramantiyo, Pr.
Karena itu, kata Romo Andre, guru agama Katolik wajib memberikan teladan iman, sehingga ada kesesuaian antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan sehari-sehari. Kesaksian iman bukan sekadar wacana, tetapi harus benar-benar "dihidupi".
Tak kalah penting, katanya menekankan, bahwa sumber pewartaan adalah Yesus sendiri, Sang Guru yang selalu rendah hati, melayani dengan tulus ikhlas, peka, dan penuh cinta kasih.
Dengan demikian, menjadi guru kristiani bukan hanya berkaitan dengan status atau tingkat sosial semata-mata, tetapi tetap tumbuh dan berkembang sebagai ranting-ranting yang bersumber pada Yesus sebagai Pokok Anggurnya (Yoh 15: 1-8).
Situasi pandemi yang tidak memungkinkan pembelajaran tatap muka memaksa para guru harus belajar teknologi agar siap mengajar dalam jaringan (daring/online). Untuk itu pada hari kedua diberikan materi teknologi oleh Bp Carolino Benedicto (Pak Ino) yang juga pernah memberi pelatihan kepada guru-guru Persink Paroki Ciledug, 25 Juli 2020 lalu.

Bp Carolino Benedicto.
”Saya jadi lebih paham bagaimana membuat daftar hadir, menyimpan nilai siswa, yang selama ini saya mengandalkan bantuan anak saya. Materi bapak sesuai dengan yang saya butuhkan,” ungkap salah seorang peserta.
Di bagian akhir acara, Pembimas Katolik Provinsi Banten Bp Osner Purba memberikan materi tentang tugas Guru Agama Katolik yang harus mampu mendidik dan membentuk para murid menjadi pribadi yang matang dan punya iman yang baik.

Bp Osner Purba, Pembimas Katolik Provinsi Banten.
Guru agama Katolik adalah profesi yang mulia, sarat dengan misi dan pengutusan Gereja. “Peran Bapak-ibu melampaui fungsi profesi guru biasa. Jangan lupa guru agama Katolik harus bisa memberi teladan dalam hidup beriman yang dihayati dan dilaksanakan secara nyata,” pesannya.
Teks: Mari Melati K Satriyani/ Foto-foto: Maria Melati, Bimas Katolik Prov Banten/ Olah foto: ps