Romo Lammarudut Sihombing, CICM.
Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM, menyampaikan pesan agar dalam mengikuti misa bersama umat pada waktu-waktu yang akan datang, semua pihak sama-sama menjalankan berbagai syarat dan prosedur yang telah dipersiapkan.

Umat harus ikuti tahapan prosedur untuk bisa masuk gereja.
Romo Lamma menyampaikan pesan tersebut menjelang berkat akhir misa perdana bersama umat di masa pandemi, Minggu XXIX-Minggu Misi, 18 Oktober 2020, mulai pukul 08.30, di Gereja Santa Bernadet, yang diselenggarakan dengan prosedur kesehatan amat ketat.
Sebelum masuk gereja, umat menjalani tiga tahapan: scan QRCODE-cek suhu-(parkir)-cuci tangan. Ketika penerimaan komuni, prodiakon tidak mengatakan "Tubuh Kristus" dan umat tidak menjawab "Amin". Semuanya dikatakan dalam hati atau komunikasi batin.
“Mari kita berjalan seirama, saling mengingatkan, saling men-support, sekalipun ada yang kurang atau tidak sempurna,” ajak Romo Lamma.

Petugas melakukan scan QRCODE.
Misa perdana bersama umat 18 Oktober tersebut baru diikuti oleh seluruh Pengurus Dewan Paroki Pleno dengan tujuan agar para pengurus itu dapat mensosialisasikannya kepada umat, sementara misa live streaming yang bisa diikuti di rumah tetap berlangsung.
Romo Lamma dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerjasama, khususnya Tim Gugus Kendali Penyebaran (TGKP) Covid-19 Paroki Ciledug, dalam penyelenggaraan misa-misa offline hari itu dan yang akan datang.

Pemeriksaan suhu dengan digital thermo gun.
“Tentu banyak yang minta perhatian dari kita, kerja sama di antara kita, supaya segala sesuatunya berjalan dengan baik, dengan cara yang baik, dan tujuan yang baik,” ujar Romo Lamma.
Ditemui usai misa, Ketua TGKP Bp Stephanus Herwinoto menyatakan bersyukur karena misa perdana tersebut berjalan lancar. “Puji Tuhan lancar, memenuhi harapan. Hanya ini masih diikuti oleh pengurus, masih trial,” kata Pak Totot, sapaannya.

Sebelum masuk gereja, harus mencuci tangan dulu.
Dikatakan, mulai Minggu depan (25/10) misa offline diselenggarakan untuk umat umum. Sebanyak 21 wilayah Paroki Ciledug dibagi 3 atau masing-masing 7 wilayah untuk setiap kali misa.

Sebelum masuk gereja, harus mencuci tangan dulu.
“Kita masih tetap akan mengikuti protokol KAJ: berusia 18-59 tahun, dalam kondisi sehat, tidak sedang batuk, demam, flu, pilek, dan mempunyai penyakit bawaan seperti darah tinggi, jantung, ginjal, paru-paru, kanker, dll, terdaftar sebagai umat Katolik yang tercatat dalam BIDUK, dan lebih dulu didaftarkan lewat web belarasa,” jelasnya.

Penerimaan komuni dalam komunikasi batin.
“Semuanya harus mendaftar via ketua lingkungan. Nanti ketua lingkungan yang akan meneruskan kepada tim belarasa di paroki. Nah tim belarasa paroki menginput ke induk belarasa,” jelasnya lagi.
Dari kuota 195 yang tersedia, misa perdana ini diikuti oleh 150-an pengurus dan petugas. “Pengurus pasti di bawah kuota. Kalau dilihat kendaraan yang ada, tadi dihitung 133 kendaraan, jadi pengurus kira-kira 140-an,” kata Pak Totot lagi.

Peringatan tentang prokes di lokasi sesudah gerbang.
Ditanya apakah untuk misa-misa berikut masih akan ada prasarana tambahan, Pak Totot mengatakan bahwa akan dievaluasi. ”Tiap Minggu, seusai misa begini, kita akan evaluasi. Yang terutama membuat kita agak keder itu parkirnya, karena parkir kita terbuka banget, dalam arti kita harus mengevaluasi parkirnya. Kalau di gereja sini umat sudah lancarlah,” katanya.
Teks: ps, Karin, Arya/ Foto-foto: Screenshot, ps, Arya