Hendaknya Kita Membuat Diri Layak dalam Mengikuti Perayaan Ekaristi

15 Oktober 2020
  • Bagikan ke:
Hendaknya Kita Membuat Diri Layak dalam Mengikuti Perayaan Ekaristi

Ilustrasi untuk Perumpamaan perjamuan kawin (Mat 22:1-14).

Ibadat Go Kitab Suci Lingkungan (Go-Kil) Seksi Kerasulan Kitab Suci, Sabtu (10/10), mendalami pesan Injil Mat 22:1-14. Pesan utama kutipan tersebut adalah hendaknya kita membuat diri layak dalam mengikuti Perayaan Ekaristi.

Pesan tersebut disampaikan oleh Bp Albertus Karel Wunardi, pemberi renungan dalam pertemuan lewat Zoom yang mulai pukul 17.00 dan dihadiri oleh 67 peserta,  termasuk pasangan.

Sebelum sampai pada pesan tersebut, Bp Wunardi mengajak peserta melihat urutan jalan cerita Mat 22:1-14, Perumpamaan tentang perjamuan kawin.

Karel--

Bp Albertus Karel Wunardi, pemberi renungan.

Pernikahan anak raja di istana bisa dibayangkan sebagai pesta mewah dan meriah yang menuntut tamu undangan menyesuaikan diri dalam hal kelayakan berbusana.

Raja tiga kali mengundang para tamu. Undangan pertama untuk tamu terpilih mengecewakannya karena yang diundang tidak datang. Raja pun memerintahkan hamba-hambanya untuk mengundang para tamu terpilih itu.

Undangan kedua tersebut makin mengecewakan karena tidak diindahkan dengan berbagai alasan. Hamba-hamba utusannya malahan ada yang disiksa dan dibunuh, bahkan kota mereka pun dibakar.

Raja lalu menyuruh hamba-hambanya mengundang semua orang yang mereka temui di jalan. Maka berdatanganlah orang-orang yang di jalan itu memenuhi ruangan pesta.

ScreenShot_04--

Peserta pertemuan Go-Kil, Sabtu, 10 Oktober 2020.

Akan tetapi ketika raja masuk ke ruang pesta, ia melihat ada satu orang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Raja marah dan menyuruh hambanya mengikat dan mencampakkan orang itu ke tempat yang gelap di mana terdapat ratap dan kertak gigi.

Bp Karel kemudian menyajikan ikhtisar berikut. Dua kali raja murka karena, pertama, orang-orang terpilih menangkap hamba-hambanya, menyiksa, dan membunuhnya; kedua, karena mendapati seorang tamu yang tidak berpakaian pesta.

Kemarahan pertama mudah dimengerti, tetapi kemarahan kedua tidak bisa langsung dipahami. Mengapa ada satu orang yang tidak berpakaian pesta sedangkan yang lainnya berpakaian pesta?

Semua orang di jalanan yang diundang pasti tidak siap dengan pakaian pesta. Tetapi aneh bahwa sama-sama dari jalanan, sama-sama tidak siap menghadiri pesta, yang lain bisa berpakaian pesta tetapi ada seorang yang tidak berpakaian pesta.

Igun--

Bp Indra Gunawan, pemimpin ibadat.

Lambang-lambang dalam perumpamaan

Pak Karel menjelaskan, perjamuan kawin melambangkan perjumpaan cinta antara Allah dan Israel sebagai bangsa pilihan. Mempelai laki-laki adalah Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus, mempelai perempuan adalah seluruh umat manusia. Pakaian pesta melambangkan sikap menghormati raja. Ratap dan kertak gigi menggambarkan neraka.

Pesta perjamuan kawin ini melambangkan kehendak Allah untuk berjumpa dengan bangsa Israel tetapi Israel menolak. Hamba-hamba-Nya (para nabi) dikirim tetapi bangsa Israel tetap tidak peduli, bahkan membunuh para nabi itu.

Bahwa kemudian Allah mengundang semua orang yang ada di jalanan melambangkan undangan diberikan kepada semua umat manusia ke pesta perkawinan yang merupakan perumpamaan Kerajaan Surga.

ScreenShot_05--

Sebagian dari 67 peserta Go-Kil SKKS Paroki Ciledug.

Allah memberi kelayakan

Allah menyediakan dan memberi kelayakan (“pakaian pesta”) kepada setiap orang untuk menghadiri undangan-Nya. Maka orang yang tidak mau mengenakan kelayakan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, tentu akan mengalami kegelapan dengan ratapan dan kertakan gigi.

Ketika menghadiri Perayaan Ekaristi, hendaklah kita mengenakan kelayakan yang sudah diberikan oleh Allah dengan persiapan batin, bukan ogah-ogahan atau asal-asalan. Datang tanpa persiapan batin sama saja tidak memakai “pakaian pesta”, tidak membuat diri layak di hadapan Allah. Akibatnya, Allah pasti tidak berkenan.

Mereka yang dipilih

Enam orang berkesempatan mengajukan pertanyaan, yaitu Bp Sarno, Ibu Nawang, Bp Kuswantoro, Bp Pandu, Ibu Lanny, dan Bp Yosef Hendrarno.

Ada dua kategori pertanyaan. Pertama, empat pertanyaan langsung berkaitan dengan perumpaaan tentang perkawinan: siapa “yang terpilih” masuk Kerajaan Surga (ay 14); apa yang harus dilakukan agar menjadi “yang terpilih”; mengapa Allah menjadi “baperan”, dan mengapa orang-orang awal yang diundang tidak datang.

Fianny OMK Sesilia--

Fianny, pembawa lagu pembukaan dan penutup.

Kedua, pertanyaan yang tidak langsung berkaitan dengan perumpamaan: apa arti relasi baik dengan Allah khususnya di masa pandemi; dan pertanyaan tentang kisah pararel di Injil sinoptik lain, Luk 14:15-24, mengapa tidak ada ayat tentang orang yang tidak berpakaian pesta.

Berikut ini jawaban Pak Karel tentang kedua kategori pertanyaan tersebut:

Pertanyaan kategori pertama. Maksud “yang dipilih” (ay 14) adalah mereka yang mau menanggapi panggilan Allah. Agar terpilih, yang harus kita lakukan adalah mau bertobat, menanggapi undangan Tuhan mengikuti Ekaristi, tidak berbuat jahat, dan melakukan kehendak-Nya dalam Kitab Suci karena Tuhan mendampingi kita lewat Sabda-Nya.

Mengenai Allah yang dirasa “baperan”, bukan seperti digambarkan penuh kasih dan pengampunan di Perjanjian Baru, ungkapan kemarahan memang diambil dari Perjajian Lama. “Baperan” menggambarkan Yesus yang sedang kesal. Allah itu tetap pengasih dan penyayang; kita yang tidak pantas saja diundang.

Orang-orang pertama yang diundang awal tetapi tidak mau datang melambangkan bangsa Israel. Mereka menolak Yesus karena masih menantikan Mesias yang bukan Yesus, tidak percaya bahwa Yesus itu Putra Allah, Mesias. Mereka punya prinsip sendiri sehingga sampai disebut sebagai bangsa yang “tegar tengkuk”.

ScreenShot_06--

Sebagian peserta Go-Kil SKKS, Sabtu, 10 Oktober 2020.

Pertanyaan kategori kedua. Relasi baik dengan Allah, khususnya dalam masa pandemi, tidak hanya dibangun lewat Ekaristi live streaming, tetapi juga berdoa dan membaca Kitab Suci.

Bahwa dalam Luk 14:15-24 tidak ada ayat tentang orang yang tidak berpakaian pesta, di antara Lukas dan Matius ada sedikit perbedaan, dengan gayanya masing-masing, dan mereka memiliki penafsirannya sendiri.

Meskipun mengaku tidak tahu mengapa kedua penginjil berbeda, Pak Karel memberi contoh: ada yang melihat Yesus dari atas sebagai Anak Allah, maka yang ditonjolkan adalah kebangkitan-Nya. Sementara ada yang melihat Yesus sebagai manusia, maka kisah penderitaan-Nya yang ditonjolkan.

(Diringkas dari tulisan Maya, Perjamuan Istana, teks lengkap klik di sini/ Editor: Paulus Sulasdi/ Foto-foto: SKKS/ Screenshot: Margo Yuwono)


Catatan: Go-Kil bulan depan akan diadakan secara virtual pada hari Sabtu, 7 November 2020, pkl. 17.00.

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna