Romo Lamma: Sumber Ketidakadilan Adalah Keegoisan Manusia

20 September 2020
  • Bagikan ke:
Romo Lamma: Sumber Ketidakadilan Adalah Keegoisan Manusia

Pertemuan 2 BKS Paroki Ciledug, 7 September 2020.

Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dalam renungan Pertemuan 2 Bulan Kitab Suci tingkat paroki, 7 September 2020 malam, menegaskan bahwa sumber ketidakadilan adalah keegoisan manusia. Karena egois, manusia hanya berorientasi kepada diri sendiri dan tidak “keluar” atau peduli kepada sesama.

Ketidakadilan adalah masalah yang sejak dulu sampai sekarang sumbernya sama, yaitu keegoisan manusia dan merupakan masalah yang kompleks. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa mewujudkan keadilan, yaitu dengan cara peduli, care, kepada orang lain.

Dengan pengantar tersebut Romo Lamma mengajak peserta untuk memahami tema Pertemuan 2 BKS, “Allah yang Hadir sebagai Korban Ketidakadilan”.

bks3--

Romo Lammarudut Sihombing, CICM.

Merujuk bacaan Injil Mat 25:31-40, Romo Lamma mengatakan bahwa Yesus membawa sesuatu yang baru, yaitu Ia menghilangkan garis antara Allah dan manusia. Allah menjadi manusia, Immanuel, Allah tinggal di antara kita, hadir pada orang-orang di sekitar kita.

Allah tinggal di antara kita supaya kasih dapat dilaksanakan dengan membangun relasi yang seimbang antara hubungan kepada Allah dan kepada sesama. “Beriman kepada Allah harus diwujudkan dalam perbuatan nyata kepada sesama. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati,” kata Romo Lamma.

Karena itu kita sebagai umat beriman diajak untuk berani keluar dari zona nyaman yang hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan diri sendiri, untuk mulai  membangun sikap peduli dan berbelarasa kepada sesama yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan.

"Jika tidak dilandasi ketulusan dan keikhlasan, maka tindakan baik yang kita lakukan akan terhenti dan tidak berkesinambungan karena adanya kekecewaan dan penyesalan,” jelasnya.

BKS5--

Sebagian dari 126 peserta BKS 2 Paroki Ciledug.

Berbuat sesuatu kepada sesama dengan ketulusan dan keikhlasan bukanlah perintah tetapi ajakan karena menjadi jalan untuk tujuan akhir, yaitu keselamatan.

Dalam sesi tanya jawab ada sejumlah pertanyaan, antara lain, mengapa dalam tema BKS ke-2 Allah tidak “hadir untuk” melainkan “hadir sebagai” korban ketidakadilan?

Menurut Romo Lamma, Allah hadir sebagai manusia melalui inkarnasi Yesus, tetapi ajaran dalam Injil Matius tersebut menyatakan bahwa Allah hadir dalam setiap manusia yang menjadi korban ketidakadilan, yaitu mereka yang lapar, yang haus, yang dipenjara, yang telanjang, dan seterusnya. Pada orang-orang korban ketidakadilan itulah, Allah menyatakan diri hadir. Maka, Allah hadir sebagai korban ketidakadilan.

bks1--

Kaum muda diberi kesempatan untuk memandu acara.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana berbuat baik untuk orang lain tanpa takut dipandang cari muka atau punya maksud tersembunyi?

Menurut Romo Lamma, itu justru kesempatan bagi kita untuk introspeksi diri, memurnikan motivasi kita, apakah tulus atau memang ada maksud tersembunyi.

Misalnya, Romo memberi contoh, umat Bernadet memberi bantuan sembako warga sekitar dan dikatakan punya maksud tersembunyi supaya mendapat dukungan bangun gereja. “Tidak usah down,” kata Romo. Kalau tulus sebagai tindakan iman dan bukan embel-embel, ada atau tidak ada gereja, kita tetap memberikan bantuan.

Pertemuan 2 BKS online tingkat paroki tersebut diikuti 126 orang dari 20-an wilayah. Kali ini kaum muda diberi kesempatan untuk memandu.

Lingkungan lain

Berikut ini dua foto pertemuan ke-2 BKS lingkungan yang terpantau, yaitu Lingkungan Fabiola 1 dan Lingkungan Petrus 4.

santos--

Foto: Maria

Fabiola 1. Renungan oleh Romo Santos dari Belgia.


Petrus4--

Foto: Anton.

Petrus 4. Renungan oleh Pak Edi Sri Widodo


Teks: Maria Melati/ Editor: ps/ Foto-foto BKS 2: Screeshot BKSN Paroki Ciledug

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna