Kakak Pembina BIA, Senang Mengenalkan Tuhan Yesus kepada Anak-anak

12 September 2020
  • Bagikan ke:
Kakak Pembina BIA, Senang Mengenalkan Tuhan Yesus kepada Anak-anak

Outing BIA St Bernadet ke Godong Ijo, September 2018.

Kakak Pembina BIA Santa Bernadet dari OMK atau OMK BIA sekarang ini 30-an orang. Umumnya mereka menjadi pembina karena diajak oleh teman atau pembina yang lebih senior. Awalnya ada yang enggan atau malu-malu tetapi akhirnya malah menikmati.

Steffany Aristia (Kak Tia) diajak teman sekitar 5 tahun lalu. “Lama-lama jadi terbiasa, nyaman dan makin enjoy sama anak-anak he-he-he,” kata warga Wilayah Monika itu.

Elsa-jassen--

Kak Tia (kiri) dan Kak Desmon.

Kak Ratri diajak oleh Kak Citra 3 tahun lalu habis ada acara BIA di Sekolah ABSIS. “Menariknya BIA ya karena bisa ketemu, kenalan sama ana-anak kecil. Yang tadinya gabisa ngobrol sama anak kecil, jadi bisa gitu hi-hi-hi,” cerita Kak Ratri dari Wilayah Paulus ini.

Angela Merici Mira Lusiana atau Kak Angel dulunya malu-malu ketika diajak. Tapi beberapa minggu kemudian, katanya, “Main sama anak-anak itu seru, ngehibur banget karena tingkahnya macem-macem dan lucu-lucu, meskipun ada beberapa yang aktif banget sampe susah diajak duduk dengerin.”

Livita-Ratri--

Kak Ratri, Kak Cella, Kak Kenyo, Kak Saskia, dan Kak Becham.

Kak Angel juga merasa enjoy karena nyaman dengan teman pembina lainnya. “Aku juga seneng karena aku punya kegiatan rutin di gereja yang aku bisa enjoy jalaninya,” imbuh warga Fabiola 1 ini.

“Seneng banget rasanya bisa ngajar adik-adik, nambah pengalaman, terus bisa berkembang juga akunya jadi lebih dewasa. Tapi kadang kalo disuruh bawa materi ya dag-dig-dug he-he-he,” cerita Chionia Karesi (Kak Chio) dari Kristoforus 1.

Yolla-angel

Kak Angel (baju hijau) dan Kak Dhea menyaksikan anak-anak.

Kak Sensen sudah sejak tahun 2015 jadi Pembina BIA. Pemilik nama asli Ardian Chandra ini dasarnya memang suka bermain dengan anak-anak. Setelah masuk di BIA, ia merasa mendapat habitat baru, senang berbagi cerita ke anak-anak.

“Khususnya cerita tentang Tuhan Yesus. Senang bisa membantu anak-anak lebih dekat dengan Tuhan, mungkin secara tidak langsung mendidik anak-anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap warga Wilayah Fabiola ini.

kakChio--

Chionia Karesi atau Kak Chio dari Kristoforus 1.

Selalu mengesankan

Pengalaman membina anak-anak BIA itu selalu mengesankan dan menyenangkan, nyaris tidak ada dukanya. 

“Paling mengesankan itu saat ada pertemuan BIA antarparoki untuk pendamping, pembina, atau anak-anak, karena selain untuk memperdalam iman, aku juga bisa menambah pengalaman dan wawasan dari mereka,” kata Kak Tia. “Tahu berbagai karakter anak dan bagaimana cara menanganinya,” imbuhnya. Kak Tia paling terkesan dengan acara ulang tahun BIA Paroki.

Ka Sensen-jassen--

Kak Sensen dalam salah satu acara BIA Online.

“Dari BIA setiap hari Minggu juga udah mengesankan, ya, salah satunya karena kan kita bisa membantu adik-adik lebih mengenal Tuhan Yesus gitu, siapa tahu mereka bisa jadi penerus, kan? He-he-he. Kadang memang ada anak yang bandel. Cuma ya… namanya anak kecil, jadi ya dimaklumin aja,” kata Kak Ratri, anak sulung dari dua bersaudara itu.

Kak Angel paling terkesan ketika acara outing BIA ke Godong Ijo, Depok, 8 September 2018. Waktu itu lagi ngetop-ngetopnya Theme Song Asian Games yang dinyanyikan Via Vallen. “Semua pada hafal lagunya, Yo… yo… ayo... Terus disetelin lagunya, anak-anak nyanyi sampe loncat-loncat… Itu seru banget,” kenangnya.

gedong ijo4--

Outing BIA ke Godong Ijo. Bareng anak-anak selalu happy

“Jalan bareng sama anak-anak itu, ngedampingin mereka, bawaannya happy terus….Seneng aja lihat anak-anak main sama hewan, belajar bikin ini itu, seru sih buat aku,” tambah Kak Angel.

Cuma Kak Angel pernah panik sekali ketika anak-anak BIA berbaris untuk diberkati pastor sesudah Misa Minggu. Ada dua anak yang mendahului barisan, terus naik ke altar, main lonceng, gong, hiasan, lari-lari. ”Aku gabisa ngapa-ngapain, paling cuman nahan mereka pas main lonceng sama gong,” katanya.

gedong ijo3--

Anak-anak belajar mencintai tanaman, ciptaan Tuhan juga.

Kak Sensen juga senang sekali dengan pengalaman Godong Ijo, karena anak-anak bisa belajar dan bermain dengan senang, berkenalan dengan teman-teman baru. “Bisa mengajarkan mereka untuk tidak lupa bersyukur kepada Tuhan dengan cara menyayangi dan mengasihi semua ciptaan-Nya,” katanya.

gedong ijo2--

Di Godong Ijo, anak-anak lagi berpose bak para petani.

Tapi Kak Sensen geli kalau ingat acara outing ke Puncak, Tea Walk, karena pas acara hujan lebat. Acaranya kacau tak sesuai rencana. “Untungnya anak-anak masih bisa senang dengan beberapa kegiatan yang kakak-kakak lakukan secara mendadak ha-ha-ha,” ceritanya.

Gedong ijo1--

Belajar menanam, belajar bersyukur.

BIA Online

BIA Online diadakan karena pandemi Covid-19. Banyak penggemarnya, bukan hanya anak-anak tetapi juga orangtua, bahkan oma-opa. Youtube BIA Online St Bernadet bisa meraup ratusan sampai di atas 1.000 views.

Tingginya penggemar BIA Online menunjukkan kualitas sumber daya manusia  (SDM)-nya yang tercermin pada penggarapan dan penyampaiannya. Kakak-kakak OMK BIA tidak “jatuh dari langit” dengan kualitas mereka itu. Persiapan diri sudah dilakukan jauh hari sebelum pandemi.

arya kevin--

Kak Kevin dan Kak Arya dari Komsos diundang BIA Online.

OMK BIA mengikuti pelatihan untuk pembina BIA separoki bersama Tim Komkat (Komisi Kateketik) KAJ 4 kali selama Agustus 2019. Mereka juga sering ikut pelatihan dan workshop untuk Pembina BIA di luar paroki, yang diadakan Tim Komkat KAJ. Terakhir, sebelum wabah Corona, ikut pelatihan Pembina BIA di Paroki Alam Sutera, Februari 2020.

Tapi pembinaan OMK BIA St Bernadet yang sekarang ini memang tak lepas dari peranan Ibu Fenny Komarudin, Ketua Sub Seksi BIA.

Campur tangan Roh Kudus

Ketika ditanya bagaimana mempersiapkan SDM pembina BIA dari OMK, Bu Fenny mengatakan, “Saya rasa itu semua adalah campur tangan Roh Kudus, karena semuanya berjalan sendiri tanpa saya sadari.”

Bu Fenny mengakui, awalnya dia aktif terlibat berperan membina mereka. ”Tanpa terasa sekarang sudah ada hampir sekitar 30 OMK yang membantu saya membina BIA Paroki. Roh Kudus sungguh luar biasa,” katanya.

Jassen-bu Fenny--

Ibu Fenny diapit Kak Sensen dan Kak Sasha.

“Regenerasi dapat saya wujudkan saat ini. Sekarang saya hanya men-support mereka saja apabila mereka mau mengadakan suatu kegiatan untuk kepentingan BIA Paroki ke depannya,” kata Bu Fenny lagi.

Kelanjutan BIA Online

Nah, bagaimana kelanjutan BIA Online St Bernadet? Kadung banyak penggemarnya. Baik Kak Tia, Kak Angel, Kak Ratri, maupun Kak Sensen bilang bagus dan kalaupun dilanjutkan setuju. Tetapi mereka paham benar, tidak sederhana membuat video BIA Online itu. Makan tenaga, pikiran, dan waktu.

Untuk menyiapkan BIA Online, setiap Senin Kakak-kakak Pembina rapat online untuk membahas opening-closing, pujian, materi, aktivitas, lalu Minggu evaluasi untuk BIA hari itu. “Jadi lebih capek sih, karena bener-bener setiap Minggu nonstop, padahal juga harus ngejalanin kegiatan lain di luar BIA,” cerita Kak Angel.

Pandu, yudha, leony, Saskia, Cella, Desmon, Yori--

Tayangan yang selalu ditunggu, sementara istirahat dulu.

Bagi Kak Sensen, di masa pandemi BIA Online memang cara tepat untuk mengobati rasa kangen adik-adik dan Kakak-kakak Pembina. Kak Tia juga mengatakan, adik-adik BIA semangat mengikuti BIA Online.

Tetapi Kak Tia menambahkan, “Untuk sementara memang dihentikan karena mayoritas kakak-kakaknya disibukkan dengan studi atau pekerjaannya, jadi waktunya kurang untuk menyiapkan, apalagi video editornya cuma satu.”

HUT3 2018 crop--

Foto kenangan HUT Ke-3 BIA. Selalu menyenangkan. 

Kita semua tentu berharap pandemi cepat berlalu, sehingga BIA Online tidak harus dilakukan setiap Minggu. Adik-adik BIA pun bisa meramaikan lagi Aula Pinang seperti dulu.


Tim Peliput: Elsa, Yollanda, Livita, ps/ Narasumber internal BIA: Jassen Novaris/ Editor: ps/ Foto-foto: Jassen, Amadeus Satria, Screenshot

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna