Ibadat Go-Kil SKKS Paroki Ciledug Bulan Agustus bersama Romo Budi Santoso, MSC (1)

29 Agustus 2020
  • Bagikan ke:
Ibadat Go-Kil SKKS Paroki Ciledug Bulan Agustus bersama Romo Budi Santoso, MSC (1)

Peserta Go Kitab Suci Lingkungan ke-3, Sabtu (8/8).

Seksi Kerasulan Kitab Suci (SKKS) Paroki Ciledug menyelenggarakan Ibadat Go Kitab Suci Lingkungan (Go-Kil) ketiga kalinya melalui Zoom yang difasilitasi DPH, Sabtu, 8 Agustus 2020, mulai pukul 17.00.

Jumlah peserta 91 akun (termasuk akun pasangan/keluarga) dari 20 Wilayah. Materi ibadat Go-Kil dari Komisi Kerasulan Kitab Suci KAJ, dengan kutipan Injil Matius 14:22-34. Pembawa renungan Romo Budi Santoso, MSC.

romobudi--

Romo Budi Santoso, MSC, pembawa renungan.

Berikut ini pokok-pokok renungan Romo Budi:

Berjalan di atas air, berjalan di atas masalah

Kalau Tuhan Yesus berjalan di atas air, pasti kita semua yakin, sebab Dialah Tuhan. Dia bisa membuat mukjizat apa saja. Kalau berjalan di atas air itu mudah. Tetapi kalau manusia berjalan di atas air, itu tidak mungkin, kecuali Tuhan Yesus yang memberi mukjizat, karena habitat kita bukan di air. Habitat kita di darat.

Karena itu, kalau manusia mau berjalan di atas air—tanpa Yesus—itu tidak akan ada mukjizat. Itu masalah. Maka ide Yesus berjalan di atas air berlaku untuk Yesus, tetapi bagi manusia berjalan di atas air adalah berjalan di atas masalah. Itu idenya. Maka saya coba menggeser Yesus yang berjalan di atas air itu. Untuk kita berarti: berjalan di atas masalah. Mari kita renungkan.

Selama hidup di dunia ini manusia tidak pernah lepas dari masalah. Masalah merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Suka atau tidak, setiap manusia harus menghadapi masalah tersebut. Kapan dan di mana saja masalah itu datang menghadang kehidupan kita. Maka masalah datang tidak memandang usia (tua atau muda), maupun status kaya atau miskin.

sangsabdadotwordpressdotcom--jpg

Kita, berjalan di atas masalah. (sangsabda.wordpress.com)

Kadang kala masalah itu datang dengan tiba-tiba tanpa kita harapkan. Bahkan terkadang masalah itu datang bertubi-tubi dalam waktu yang dekat. Karena itu kita nanti jangan menyerah terhadap masalah. Apalagi saat-saat pandemi Covid ini yang menjadi masalah besar bukan bagi kita saja tetapi bahkan bagi dunia.

Bagaimana supaya dapat mengatasi masalah dalam kehidupan kita? Kita bisa belajar dari perikop Yesus berjalan di atas air dengan tokoh utamanya Petrus dan Yesus. Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah dalam kehidupan, kecil atau besar, maupun yang tiba-tiba seperti yang sekarang ini, pandemi Covid?

Tujuh hal dalam mengatasi masalah

(1) Berjalan dalam ketaatan (ayat 22)

Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk mendahului ke seberang, dan murid-murid-Nya taat. Karena ketaatannya, mereka dapat melihat kedahsyatan dan mukjizat Tuhan yang luar biasa.

Seandainya murid-murid-Nya tidak taat, misalnya dengan mengatakan, "Saya tidak mau Yesus, disuruh menyeberang", maka murid-murid tidak akan melihat mukjizat Yesus berjalan di atas air. Jadi kunci untuk bisa melihat mukjizat adalah taat kepada perintah Yesus.

tambahan1--

Peserta Go-Kil mencakup akun-akun pasangan/keluarga.

Masalahnya apa? Ada banyak orang yang tidak taat kepada perintah Tuhan sehingga mereka tidak melihat mukjizat. Mereka banyak mengalami masalah yang rumit dan tidak menemukan jalan keluarnya.

Oleh karena itu mari kita belajar taat dalam kesulitan kita ini. Dalam masalah apa pun, kita tetap mau berkata, "Tuhan, apa yang Kau kehendaki dengan masalah, musibah, penderitaan, tantangan yang sekarang sedang saya hadapi, hamba-Mu siap melakukan apa yang Kau perintahkan."

Pada ayat 22, murid-murid-Nya diperintahkan menyeberang dan taat, maka di tengah jalan Dia memperoleh ketaatan. Sudahkah kita taat kepada Tuhan di tengah kesulitan ataukah kita semakin banyak mengeluh, bingung, dsb?

Yesus berjalan di atas air--

Ilustrasi: : https://gorjeanul.ro 

(2) Memiliki kehidupan doa (ayat 23)

Selain kita taat, percaya kepada Tuhan, hal kedua adalah memiliki kehidupan doa. Dalam ayat 23 dikisahkan bahwa Tuhan Yesus naik ke bukit untuk berdoa. Ini menandakan bahwa doa itu sangat penting. Doa adalah napas kehidupan orang yang percaya. Dengan berdoa kita dapat menarik kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita.

Dikatakan dalam Yakobus, doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Dan doa adalah jalan yang menghantar kita untuk bertemu dan berhubungan dengan Allah. Maka doa adalah kunci untuk memohon kuasa yang membawa mukjizat.

tambahan4--

Acara diikuti oleh tim SKKS, Korwil, Kaling, dan anggota DPH.

Dalam kesulitan masalah apa pun juga, sujudlah di hadapan Tuhan. Karena jarak permasalahan dengan penyelesaiannya hanya sejarak lutut dan lantai. Berarti, sejarak mana kita mau rendah hati sujud di hadapan Tuhan, Sang Pencipta, Sang Pemelihara dan Pengatur kehidupan.

Ada orang yang jarak lutut dan lantainya jauh, mengandalkan dirinya sendiri. Tetapi orang yang beriman, rendah hati, akan lebih banyak bersujud di hadapan Tuhan, berdoa, mohon kekuatan, daya-daya ilahi, untuk ikut ambil bagian bersama Allah di dalam Allah, masalah akan selesai. (Bersambung)

 


Teks: BMdiro/ Foto-foto: Pekad, Margo Yuwono

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna