Serba-serbi Pembelajaran Jarak Jauh: Guru Sudah Siap, Siswa Masih Tidur

4 Agustus 2020
  • Bagikan ke:
Serba-serbi Pembelajaran Jarak Jauh: Guru Sudah Siap, Siswa Masih Tidur

Pembelajaran jarak jauh SMP Sang Timur Jakarta.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi pengalaman yang relatif baru, baik bagi guru, peserta didik, maupun orangtua. Karena baru, banyak yang tergagap untuk beradaptasi.

Keberhasilan PJJ ditentukan oleh banyak aspek, dari interaksi antara guru dan murid, ketersediaan sarana (gadget/gawai), jaringan internet, penguasaan TI serta operasionalisasinya, dan kecukupan kuota.

zoom3-bebby--

Seorang siswi SPM Sang Timur tengah ujian secara daring.

Media massa memberitakan banyak cerita. Ada murid yang menjauh dari rumahnya sekitar 1 Km, di pinggir jalan, demi mendapatkan sinyal internet agar bisa mengikuti PJJ. Ada juga siswa yang belajar sambil jualan nasi bungkus supaya bisa beli kuota. Ada kelurahan/RT yang memfasilitasi anak-anak untuk mengikuti PJJ dengan menyediakan ruang, wi-fi, komputer sumbangan, dan kertas untuk mengerjakan tugas. Deretan cerita masih panjang.

Belakangan ada angin segar ketika media memberitakan bahwa Mendikbud mengizinkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk meringankan beban kuota guru dan murid dalam PJJ.

Guru harus kreatif dan inovatif

Belum lama ini beberapa guru dan orangtua murid yang berasal dari Paroki Ciledug dihubungi untuk menceritakan pengalaman mereka tentang PJJ. Dari mereka pun muncul aneka cerita.

yashinta---

Yashinta, guru Sekolah Tarakanita Gading Serpong.

Yashinta, warga Fabiola 2, adalah guru di Sekolah Tarakanita Gading Serpong. Pada awal tahun ajaran baru ini belum terasa masalah. Tetapi pengajar kelas 1 SD ini merasa sulit untuk mengontrol siapa saja anak-anak yang baru keluar dari TK itu yang belum bisa baca/tulis, karena pertemuannya bukan tatap muka (PTM).

Selain itu, guru memang dituntut lebih kreatif dan inovatif supaya konsentrasi murid terjaga. “Di saat online gini harus menyiapkan materi semenarik mungkin dan mudah dipahami untuk anak-anak,” katanya.

Yashinta justru harus menghadapi orangtua yang sering tidak membaca info yang sudah diberikan lewat whatsapp group, padahal info itu penting untuk mendampingi anak-anak mereka.

gabriela--

Gabriela Tinova Sinta, guru SMP Yadika 3.

Gabriela Tinova Sinta, guru SMP Yadika 3, pun mengatakan dirinya harus membuat materi power point dan mencari video menarik sebagai materi. Dia belajar dari pengalaman sebelumnya. “Karena mulai kerasa semangat belajar siswa yang menurun,” kata warga Wilayah Isidorus itu.

Sebagai guru agama, Tinova Sinta mengalami kesulitan pada tahun ajaran baru ini karena menggunakan kurikulum Darurat Covid-19 yang waktu pembelajarannya lebih sedikit.

Terkait dengan masalah itu, Budi Isnanto, pengajar sekolah Persink, berpendapat bahwa memang perlu menggunakan metode pembelajaran bervariasi, menarik, dan yang membuat siswa tetap aktif, tanpa mengabaikan kurikulum.

“Tentu saja dengan penyajian materi yang sederhana tetapi menarik, sehingga peserta didik tetap mengerjakan beberapa tugas dan senang mengerjakannya,” kata Pak Budi yang juga katekis Paroki Ciledug itu.

Tetapi memang tidak sederhana menyajikan materi secara menarik. Ada persoalan penting lain, yaitu jika siswa belum sepenuhnya menyadari pentingnya PJJ. Ini yang dialami Ronny Ardianto, guru Bahasa Indonesia SMP Katolik Sang Timur Jakarta. Murid melakukan hal-hal yang tidak semestinya.

“Misalnya mengganti-ganti posisi kamera yang digunakan sebagai media tatap muka, sehingga tidak fokus pada kelas yang sedang berlangsung,” kata Pak Ronny. Ibu Titik Lestari dari Wilayah Antonius yang mengajar di SMP Strada Bakti Utama mengalami hal serupa. “Ya karena masih anak-anak SMP, kalau nge-zoom malah pada berisik banget,” kata guru matematika kelas 7 dan 9 ini.

budi--

Budi Isnanto, guru sekolah Persink, katekis Paroki Ciledug.

Tapi Bu Titik bersyukur karena dalam PJJ orangtua mendampingi, sehingga kadang-kadang kalau murid tidak bisa menjawab ketika ditanya, orangtuanya yang menjawab.

Namun disiplin menjadi masalah tersendiri. “Semestinya sudah bangun untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh, tapi anak masih tidur/belum bangun jam 09.30,” cerita Pak Budi Isnanto. “Kalau absen pagi-pagi saya ikut membangunkan murid. Kadang orangtuanya sama saja, belum bangun juga he-he-he,” cerita Bu Titik.

Persoalan seputar IT

Faktanya tidak semua siswa punya gawai (gadget) sendiri, baik hp maupun laptop. Ada siswa yang di rumahnya hanya ada satu hp dan harus dipakai bergantian dengan kedua saudara yang lain. Ini jelas mempengaruhi penyampaian materi.

Titik--

Titik Lestari, guru SMP Strada Bakti Utama, Jakarta.

“Solusinya guru harus mempunyai kebijakan masing-masing dan cara supaya materi bisa sampai ke semua siswa,” kata Tinova Sinta. Sementara menurut Pak Ronny, “Bapak/Ibu pengampu harus menyiapkan opsi cadangan untuk siswa.”

Tidak semua paham teknologi. Anak-anak sekarang cepat paham, tetapi tidak selalu  demikian untuk para guru. Yashinta bercerita, “Semester sebelumnya yang belum prepare apapun langsung pembelajaran online. Sambil berjalan sambil ngajarin guru-guru sepuh yang tidak memahami IT."

Guru-guru SMP Sang Timur Jakarta lebih beruntung karena, kata Pak Ronny, diikutkan beberapa lokakarya dan webinar. “Sehingga mereka dapat tetap mendapatkan info terbaru terkait cara-cara PJJ,” katanya.

Bagaimana kuota untuk jaringan internet? Yashinta mengatakan, awalnya dia memakai kuota sebelum pindah wi-fi. “Sangat boros menggunakan kuota, dan dari sekolah waktu itu tidak ada budget khusus kuota. Puji Tuhan gaji kita tidak dipotong, jadi itungan-nya seperti uang transpor itulah yang dialokasikan buat kuota itu,” katanya.

Ronny--

Ronny Ardianto, guru SMP Sang Timur Jakarta.

“Solusi lain, mereka yang tidak punya jaringan internet di rumah boleh datang ke sekolah tapi dengan menaati protokol kesehatan,” imbuh Yashinta.

Di SMP Sang Timur Jakarta, kata Pak Ronny, “Sekolah sudah memberikan kebijakan penggunaan dana BOS sebagai pengganti pulsa/kuota yang digunakan para guru.”

Persoalan lain adalah ruang penyimpanan (storage). “Di tahun ajaran baru akan diadakan penambahan ruang penyimpanan awan (cloud storage) sehingga semua kegiatan pembelajaran berbasis daring berjalan lancar. Tetapi memang jaringan internet tetap harus bagus,” kata Pak Ronny.

zoom4-bebby--

Siswa SMP Sang Timur Jakarta tengah ujian secara daring.

Pendampingan orangtua

Andreas Nayoko yang kedua anaknya mengikuti PJJ mengatakan bahwa pendampingan orangtua terhadap anak sangat perlu terutama jika si anak belum tumbuh rasa tanggung jawabnya.

“Memang bisa repot kalau kedua orangtua bekerja. Bisa terjadi anak yang belum bisa bertanggung jawab tidak melakukan tugas dari gurunya karena menunggu orangtua pulang,” kata warga Wilayah Paulus yang tinggal di Duta Bintaro itu.

Nayoko--

Andreas Nayoko, orangtua siswa.

Ketika PJJ dilaksanakan, adaptasi total harus dilakukan dan itu tidak selalu mudah. Bukan hanya siswa, tetapi juga guru, orangtua, dan lembaga sekolah harus beradaptasi, yang tidak jarang tidak sepi dari masalah.

Ada yang mengatakan, selalu bisa mengambil hikmah dari peristiwa sulit ini. Yang jelas, semua berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu.

 

Tim peliput: Garbriela Laraswati, Rafaela Chandra, ps/ Editor: ps/ Foto-foto: Ronny Ardianto, dok. pri./ Olah foto: ps

Tags
PJJ

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna