Penyuluh Agama Diajak Melihat Masalah Kerukunan antar-Umat Beragama dan Menyikapi Pandemi

23 Juli 2020
  • Bagikan ke:
Penyuluh Agama Diajak Melihat Masalah Kerukunan antar-Umat Beragama dan Menyikapi Pandemi

Workshop yang diselenggarakan PUKB Tangsel.

Pada hari Rabu dan Kamis, 15-16 Juli 2020, Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama mengadakan acara “Workshop Mediasi dan Manajemen Konflik dalam Moderasi Beragama di Kota Tangerang Selatan”, bertempat di Hotel Swiss Bel Serpong, BSD.

Perwakilan penyuluh masing-masing agama--

Perwakilan penyuluh masing-masing agama.

Workshop tersebut diperuntukkan bagi Penyuluh Agama, Guru Lintas Agama, dan Pengawas Lintas Agama di Kota Tangerang Selatan. Acara dibagi dua dengan peserta 100 orang, pada hari pertama 50 orang dan pada hari kedua 50 orang.

Medi8--

Pengarahan Dr. H. Nifasri, MPd, Kepala Pusat KUB Tangsel.

Kami berdua, Penyuluh Agama Katolik yang berasal dari Paroki Ciledug, diundang  sebagai anggota Kelompok Kerja Penyuluh Agama Katolik (Pokjaluh). Namun salah satu di antara kami, Bp Budi Prasetyo yang juga katekis di Paroki Ciledug, batal hadir karena masalah perizinan sekolah.

Pokjaluh yang semua anggotanya adalah Penyuluh Agama Katolik lingkupnya provinsi. Anggota kelompok ini datang dari berbagai paroki yang ada di Provinsi Banten. Sekarang jumlahnya 40 orang, dengan pengurus aktif 8 orang.

Medi7--

Penyuluh Agama Katolik yang hadir (penulis ke-3 dari kanan).

Anggota Pokjaluh yang hadir dalam workshop tersebut 8 orang, yaitu dari Gereja St Barnabas Paroki Pamulang (1), Gereja St Laurensius Paroki Alam Sutera (2), Gereja St Monika BSD (2), Gereja St Matius Penginjil Bintaro (2), dan Gereja St Bernadet Ciledug (1).

Teduh dan nyaman

Acara yang dimulai pukul 09.00 itu diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Mars Kitalah Indonesia, dan Hymne Kerukunan Agama di Indonesia. Suasananya teduh, nyaman, dan penuh toleransi dari pagi hingga acara berakhir sore hari.

Dalam workshop tersebut juga ada permainan kelompok yang bertujuan untuk menguji sejauh mana  peserta mampu beradaptasi dan membaur dengan kelompok lain tanpa melihat lagi dari agama apa mereka berasal.

Permainan tersebut dipandu oleh Bp Paulus Tasik Galle, Kasubbid Pengembangan Dialog dan Multikultural PKUB Sekretariat Jenderal Kemenag RI, dan Bp A. Hery Faturochman, Ketua Pelaksana Kegiatan.

Medi3--

Bp Paulus Tasik Galle memberi komando permainan.

Suasana kompak, toleran, dan kerja sama dalam permainan tersebut melahirkan kenyamanan dan keakraban, sehingga semua terlarut dalam permainan sampai akhirnya terjeda karena menginjak waktunya makan siang dan kesempatan shalat bagi yang Muslim.

Masalah kerukunan umat beragama

Sesuai tema besar workshop, persoalan kerukunan umat beragama di Kota Tangerang Selatan menjadi topik bahasan Kepala Kemenag Kota Tangsel, H. Abdul Rojak, S.Ag, MA, sebagai nara sumber.

Poin-poin yang dibahas, antara lain, soal pendirian rumah ibadah; masih banyaknya komponen masyarakat dan unsur pemerintah yang belum memahami Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomor 9 dan 8 tahun 2006 tentang pendirian rumah ibadah;  banyaknya ruko dan rumah tinggal yang digunakan untuk ibadah; belum optimalnya kegiatan yang mendukung kerukunan antar-umat beragama, dll.

Medi10--_1

H. Abdul Rojak,S. Ag, MA, selaku nara sumber.

Kerja sama di masa pandemi

Salah satu mata acara yang menarik adalah diskusi kelompok peserta yang membahas bagaimana kami, para penyuluh agama yang berbeda-beda, menyikapi situasi pandemi berkaitan dengan ibadah masing-masing agama.

Hasil diskusi, misalnya, umat harus menaati anjuran pemerintah untuk 3 M (mamakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), pembatasan usia yang boleh ikut ibadah (di bawah 50 tahun), jadwal ibadah lebih sering, ibadah live streaming, dll. Mungkin tidak ada yang sangat baru dari hasil itu, tetapi yang menarik kami menemukan titik temu, bukan titik pisah, meskipun berbeda agama dalam menyikapi masa pandemi Covid-19.

medi1--

Penyerahan hasil diskusi kelompok kepada Dr. H. Nifasri, MPd.

Yang juga cukup menarik adalah pemikiran perlunya dilakukan baksos antar umat beragama, silaturahmi antar umat beragama yang justru harus lebih intens dilakukan di masa pandemi ini.

Kami berharap semoga hal-hal baik dari workshop tersebut sungguh bisa bermanfaat untuk meningkatkan kerukunan antar-umat beragama khususnya di Provinsi Banten.

(Penulis: Maria Melati K. Satriyani, Penyuluh Agama Katolik, Peserta Workshop)


Foto-foto:  A. Soetrisno, Ketua Pokjaluh, Bimas Katolik Provinsi Banten

Tags
Pokjaluh

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna