Ibadat Gokil SKKS Paroki Ciledug Bulan Juli 2020 Dihadiri 75 Akun dari 19 Wilayah

20 Juli 2020
  • Bagikan ke:
Ibadat Gokil SKKS Paroki Ciledug Bulan Juli 2020 Dihadiri 75 Akun dari 19 Wilayah

Ibadat Gokil bulan Juli SKKS Paroki Ciledug, Sabtu (11/7).

Seksi Kerasulan Kitab Suci (SKKS) Paroki Ciledug kembali menyelenggarakan Ibadat Go Kita Suci Lingkungan (Gokil) melalui Zoom yang difasilitasi DPH, Sabtu 11 Juli 2020, mulai jam 17.00. Hadir 75 akun dari 19 wilayah. Di antaranya terdapat 16 pasang suami-istri (pasutri).

Acara dimulai dengan salam dari pengundang yang diwakili Ibu Wati Mdr, pembuka pertemuan Ketua SKKS Ibu Etty Iswanti, lagu pembuka/penutup dipandu Ibu Lita Noviana & tim dari Wilayah Ign Loyola.

Ibadat dipimpin oleh Ibu Maria Melati. Materi Ibadat Gokil dari Komisi Kerasulan Kitab Suci KAJ, Injil Matius 13:1-13, yang dibacakan secara bergantian oleh Bp Kristianto W, Ibu Luciana Poerwanti, Ibu Rauvy, Sdr Anna Maria M, Ibu Eti Herisusanti, dan Ibu Gisela van Dongen.                                           

Renungan atas bacaan Injil oleh Romo Matius Pawai, CICM.  Sesi tanya-jawab dipandu oleh Bp Margo Yuwono.  Doa umat dipanjatkan oleh Ibu Hindrata, Bp Hindrata, Ibu Debora, Romo Matius Pawai, Ibu Gisela, Bp Sarno, dan Sdr Anna Maria M.

Rm Matius Pawai CICM--

Romo Matius Pawai, CICM, memberikan renungan.

Renungan Rm Matius Pawai, CICM

Romo Matius Pawai mengemukakan butir-butir penting:

1 Bicara tentang penabur adalah juga bicara tentang media/ tempat penabur bekerja, apa yang ditabur, juga soal waktu menabur.

2) Dalam proses pertumbuhan benih, apakah dipupuk atau tidak.

3) Pada akhirnya nanti, seorang penabur adalah seorang pewarta.

Dikatakan, unsur penting dalam pekerjaan sebagai penabur adalah: memilih bibit dengan baik, membersihkan, menjemur dst, sebagai sebuah proses sampai masa menuai.

Demikian itu juga yang sedang dikerjakan oleh Gereja. Ketika ada katekumen orang dewasa, tidak cukup prosesnya selesai sampai saat pembaptisan. Masih ada beberapa sakramen yang akan diterima oleh yang bersangkutan ke depan. Artinya, mempersiapkan orang bukan hanya untuk menerima sabda saja, namun ketika tiba saatnya, orang itu juga dapat menjadi penabur.

Romo Matius bersyukur bahwa di masa pembatasan berkumpul karena pandemi, ada fasilitas untuk berjumpa bersama sekaligus mendengarkan firman Tuhan.  Sehingga kegiatan berkatekese, mendalami Kitab Suci, membaca renungan dan berdoa di dalam kelompok-kelompok seksi/ kategorial—tempat firman Tuhan ditaburkan—dapat terselenggara dengan penyesuaian konteks dan situasinya.

Screen Shot_02--

Ibadat Gokil bulan Juli dihadiri peserta dari 19 wilayah.

Menurut Romo, dalam proses pekerjaan seorang penabur, hal yang tak kalah penting adalah mengawal atau menemani proses pertumbuhan dan perkembangan benih.  Keadaan media seperti apapun sebagai tempat menabur benih, sebenarnya tergantung kemampuan penabur bagaimana ‘mengakali’ supaya benih yang berada pada situasi sulit dapat tumbuh dengan baik.

Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan, ancaman hama yang bisa merusak, penabur harus tahu cara menyelamatkan benih-benih yang ditabur itu agar tidak mati percuma, tapi selamat dan tumbuh berkembang.

Sehubungan tumbuh berkembang itu, Romo Matius sampaikan dua hal yang didengarnya dari Romo Lamma Sihombing, CICM, tentang padi: 1) padi itu makin berisi, makin menunduk; melambangkan semakin banyak ilmunya, semakin punya sesuatu, semakin rendah hati;  2) padi itu akan berkembang biak, beranak; di masa panen nanti induk dan anaknya akan dipanen bersama, karena matang bersama.

Romo Matius mengingatkan, jika kita sungguh menyadari pernah menjadi lahan, tanah yang ditaburi benih, tentu kita lebih tahu bagaimana telah menjadi lahan; yang di pinggir jalan, yang berbatu-batu, bersemak duri atau tanah yang baik.

Jangan lupa, kata Romo, setiap kita sesudah menjadi lahan yang memberi hasil, maka selanjutnya siap menjadi penabur-penabur yang baru.  Ada prinsip yang mengatakan, pemimpin yang baik adalah yang bisa menghasilkan sekian banyak pemimpin baru.

Romo menegaskan, kita mestinya tidak akan menyatakan bahwa hari ini saya menjadi lahan, besok dst akan tetap menjadi lahan.  Kemarin jadi lahan yang baik, hari ini diundang dan diajak oleh Tuhan menjadi penabur yang baru.  Sehingga keterampilan, ilmu, perlu diperdalam lagi supaya bisa seperti Yesus, tahu betul dengan siapa berbicara, di mana tempatnya, kapan waktunya.  Dengan demikian proses pertumbuhan benih-benih (firman Tuhan) itu tetap terjaga, terpelihara sampai tiba masa menuai.

Screen Shot_03--

Peserta mengikuti Gokil dengan perhatian dan suka cita.

Tanya-Jawab

Kesempatan bertanya pada Rm Matius dibatasi waktu, hanya bisa menampung tujuh penanya. Sdri Anna Maria menanyakan, apa yang dimaksud pada ayat 9: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Ibu Sugihastuti bertanya tentang ayat 14-15 yang dikutip Yesus dari Kitab Yesaya. Ibu Nanik Harnoko bertanya, siapa yang diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Surga dan siapa yang tidak (ayat 11).

Bp Tulus Widodo menanyakan, Yesus menutup perumpamaan-Nya tentang jenis-jenis tanah dengan ayat 9; mengapa Yesus tidak langsung meminta kepada para pengikutnya: hendaklah kamu seperti tanah yang subur.

Ibu Rauvy  bertanya tentang si jahat yang merampas benih di ayat 19; bagaimana caranya merampas?  Ibu Fitra Yulia Timang menyoal, mestinya penabur sudah tahu tempat dia akan menabur, yaitu di persemaian yang tersedia; sehingga tidak tercecer di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, bersemak duri.

Bp Heru Purwanto ajukan pertanyaan, apakah sekarang masih mungkin mengutus dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan, melalui tiga media komunikasi terdahulu dan satu media masa kini?

Teks: Budi Mandiro/ Foto-foto: Margo Yuwono, Frater Steve

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna