Para peserta MRT di tenda bawah Pinang, Minggu (12/7).
Membina Rumah Tangga atau yang dikenal dengan MRT kembali dilaksanakan di tenda bawah Gereja St Bernadet, Sabtu dan Minggu, 11 dan 12 Juli 2020. Bagi para peserta, ini merupakan penantian sangat panjang sesudah hampir 5 bulan menunggu semenjak diberlakukannya PSBB di Kota Tangerang Maret lalu.

Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM.
Karena dilaksanakan di masa pandemi Covid-19, pembatasan-pembatasan demi memutus rantai penularan virus mematikan itu pun tak terhindari dan harus dipatuhi.

Pelaksanaan MRT offline di masa pandemi. Jaga jarak.
Jumlah peserta pun kemudian dibatasi, hanya 8 pasang. Panitia penyelenggara MRT juga tidak lagi bisa leluasa. Fasilitator yang sudah mengisi sesi mengajar, misalnya, diharuskan pulang agar tidak memenuhi tempat untuk mematuhi aturan protokol kesehatan dan pembatasan jumlah orang.

Peserta MRT dibatasi kuota, hanya 8 pasang.
Gereja Santa Bernadet sudah sangat siap dan sigap mengantisipasi situasi dengan menyediakan sarana dan prasarana protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan handless, yaitu sarana dengan sensor dan pijakan kaki agar kran buka-tutup air tidak tersentuh tangan.

Peserta memakai face shield/ masker demi keamanan.
Peserta MRT juga diwajibkan memakai masker dan/atau face shield (tameng wajah), menjaga jarak satu sama lain, agar proses MRT berjalan dengan lancar, sehat, dan aman.
Gugus Kendali Covid-19 Paroki mewajibkan peserta MRT melampirkan Surat Rapid Test untuk MRT offline seperti yang dilaksanaka hari Sabtu dan Minggu itu sebagai antisipasi. Ketua Gugus Tugas Covid-19, Totot Herwinoto, memberikan pengantar singkat soal perlunya menerapkan protokol kesehatan di awal sesi.

Ketua Gugus Tugas Covid-19 Paroki Totot Herwinoto.
"Semua ini dilakukan demi keamanan dan kenyamanan bersama. Mungkin para peserta sehat karena masih muda. Tapi kami panitia dan pembicara mohon pengertiannya karena kami sudah tidak semuda kalian," papar Totot menjelaskan. Para peserta juga diwajibkan mencuci tangan dan dicek suhunya setiap pagi sebelum memulai sesi.

Salah satu sesi dalam MRT yang dipadatkan waktunya.
Durasi dalam kegiatan MRT ini juga dipadatkan, tidak boleh lebih dari enam jam untuk mengisi sesi-sesi MRT, sehingga materinya padat dan fasilitator yang mengajar harus berpacu dengan waktu agar target MRT tetap tercapai.

Peserta harus tetap duduk berjarak meski dengan pasangan.
Namun peserta MRT tahun ini “beruntung” karena tugas dikerjakan di rumah. Biasanya peserta MRT mengikuti ujian dengan menyelesaikannya on the spot alias langsung di tempat pada hari dan jam yang sama. Dengan aturan yang baru, mereka diwajibkan menyelesaikan tugas dan tes yang diberikan di rumah masing-masing.
Ini juga untuk pertama kalinya SKK Gereja St Bernadet menyelenggarakan MRT di ruang terbuka seperti di tenda bawah Pinang itu. Durasinya dibatasi, jika dalam kondisi normal jam 08.00-17.00, untuk tahun ini diubah jam 07.30-13.00.

Harus berjarak dan memakai masker/ dan face shield.
Fasilitator Ibu Clara Gia Shinta, selaku Ketua SKK, mengatakan rasanya seperti memberikan kursus kilat bagi peserta MRT. “Mengadakan MRT di paroki sendiri bukanlah hal mudah mengingat harus menerapkan sistem protokol kesehatan demi kelancaran dan kesehatan seluruh peserta MRT St Bernadet,” katanya, sembari menambahkan bahwa acara MRT offline akan diadakan tiap bulan tetapi tetap dengan membatasi kuota peserta.

Duduk peserta diatur sesuai protokol kesehatan.
Pada MRT yang berlangsung 2 hari itu tidak banyak peserta yang bertanya kepada fasilitator, mungkin karena minimnya waktu, dan tidak ada kesempatan bagi peserta memberikan kesimpulan di akhir sesi.

Sesi sharing dengan fasilitator.
“Semoga ke depannya, Gereja St Bernadet bisa kembali memberikan pelayanan yang baru, khususnya untuk program MRT yang wajib diadakan di Paroki,” ujar Bu Shinta.
“Nanti kalau gak wajib ya bakalan gak nikah-nikah dong orangnya,” canda Bu Astati, anggota tim SKK yang akrab disapa Bu Ita, menimpali.
Teks: Aristo Pratama/ Foto-foto: Aristo Pratama, Stevanus Pristi.