Garini Svara Sanberna feat (nyanyi bareng) Agnes Hapsari.
Seminggu lalu sebuah video sejumlah ibu-ibu anggota Garini Svara Sanberna yang menyanyikan lagu Hanya Debulah Aku bersama Agnes Hapsari diunggah di youtube. Lagu tersebut diaransemen oleh Andreas Edi Sarwono, koordinator sub seksi Pasdior St Bernadet.
Garini Svara Sanberna adalah peraih juara 2 Pesparani 2019 tingkat Provinsi Banten, sedang Agnes Hapsari adalah seorang musisi profesional asal Indonesia yang bermukim di Hanover, Jerman.

Di era digital seperti sekarang ini membuat virtual choir (koor virtual) dari berbagai belahan dunia yang berbeda sebenarnya tidak terlalu istimewa lagi alias biasa saja. Akan tetapi seorang musisi profesional di Hanover, Jerman, mau nyanyi bareng ibu-ibu di Paroki Ciledug memancing pertanyaan, bagaimana ceritanya?
“Saya diajak kerja sama oleh teman saya Yohana Theresia Stefanny, dirigen koor ibu-ibu paroki tersebut,” kata Agnes Hapsari dalam jawaban wawancara tertulis lewat e-mail yang diterima Kamis (9/7).

Ibu-ibu anggota Garini Svara Sanberna Paroki Ciledug.
“Kami sudah berteman sejak kecil dan setelah saya pergi untuk studi di Jerman, kami tetap menjaga pertemanan dan sering melakukan kerja sama di bidang musik dan paduan suara,” lanjut Agnes tentang hubungannya dengan teman karibnya dari Wilayah Yohanes Paroki Ciledug yang akrab disapa Fanny itu.
“Saya rekamannya di Jerman,” imbuh Agnes yang sebelum studi ke Jerman menyelesaikan sekolahnya di SMAK 7 Penabur Cipinang, Jakarta Timur.

Virtual choir Ciledug-Hanover.
Ditanya apakah kekuatan aransemen Pak Edi, sapaan akrab Edi Sarwono, sehingga ia mau bergabung untuk bernyanyi bareng, Agnes memberikan beberapa alasannya.
“Aransemen Hanya Debulah Aku dari Pak Edi menurut saya unik, kreatif, dan berani, karena aransemen ini diperuntukkan hanya untuk wanita, yang notabene tidak ada suara-suara rendah (dari tenor dan bass),” kata Agnes.
“Namun, walaupun begitu, aransemen ini ditulis dan dikemas secara apik sehingga juga berfungsi dengan baik tanpa iringan musik (a capella). Harmoni-harmoni yang digunakan juga lain dari aransemen yang selama ini biasa dinyanyikan di gereja, namun tetap terdengar sangat manis,” ujar Agnes yang pernah studi komposisi di Hanover University of Music, Drama, and Media tahun 2007-2009.

Agnes Hapsari merangkap vokal S1, S2, Alto.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika bisa bernyanyi bersama anggota Garini Svara Sanberna, Agnes menjawab, “Saya senang dan tersentuh sekali bisa nyanyi bareng ibu-ibu dari Ciledug. Dengan proyek ini, jarak yang jauh terasa dekat dan kami bisa tetap bernyanyi bersama walaupun tidak ada di satu ruangan.”
Menurut situsweb-nya, sesudah selesai belajar komposisi, Agnes mendalami piano jazz dan jazz vocal 2009-2013 di universitas tersebut. Ia menguasai jenis musik jazz, pop, musical, gospel, dan tango. Ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai pelatih paduan suara di Hanover dan sekitarnya.
“Asal paroki saya St Bartolomeus, Bekasi. Saya sekolah di SMP Pax Ecclesia, Bekasi dan SMAK 7 BPK Penabur, Cipinang. Biasanya saya pulang setahun sekali ke Indonesia, tetapi tahun ini tidak bisa pulang karena Covid-19,” kata Agnes di akhir jawaban wawancara tertulis.

Agnes Hapsari yang juga pianis jazz.
Tidak aneh jika dalam koor virtual satu sama lain belum tentu kenal. Pak Edi Sarwono ketika ditanya beberapa hari lalu mengaku, “Saya malah gak tahu menahu tadinya Agnes itu siapa. Saya mengirim hasil rekaman lewat Fanny. Tapi Agnes itu mampu mendinamisasi paduan suara."
Sementara itu anggota Garini Svara Khatarina Yuni yang ikut bernyanyi ketika dihubungi lebih banyak menceritakan, yang nyanyi bareng Agnes itu hasil gemblengannya Fanny dan hanya sebagian dari anggota Garini Svara.
Sedang Fanny sendiri lewat WA berkata singkat, “Semoga videonya bisa menginspirasi, ya.”
Hanya Debulah Aku aransemen versi Edi Sarwono.
Teks: ps/ Foto-foto: Cuplikan Video Hanya Debulah Aku, www.agneshapsari.de/ Video: Andreas Edi Sarwono