Romo Matius Pawai, CICM, di pintu tenda bawah, Selasa (7/7).
MENUNGGU EDITAN ROMO MATIUS--
Sesudah genap satu bulan berada di Paroki Ciledug sebagai Pastor Rekan, Selasa siang (7/7) Romo Matius Pawai, CICM, bersedia untuk berbincang ringan di pintu tenda bawah, depan saung, sambil berdiri. Berikut ini petikan bincang-bincangnya.
Romo, setelah satu bulan di Ciledug bagaimana kesan-kesannya?
Jujur ya, per 1 Juli saya baru masuk di kantor yang dipersiapkan di Barata.
Bukannya 1 Juni?
Ya SK-nya 1 Juni, tapi 6 Juni kan saya baru tiba. Romo Lamma bilang, ‘itu ada kantor silakan ditempati’. Satu bulan saya menyesuaikan diri, 30 Juni kantor itu saya rapikan, 1 Juli saya masuk. Ngantornya di sana (Barata) secara official. Maksudnya siap menerima tamu di ruangan itu baru mulai 1 Juli. Tetapi belum ada tamu yang diterima. Okelah penyesuaian.
Jadi sebelum berkantor di Barata Romo di mana?
Saya tetap di Ciledug. Ada misa ya misa, tapi istilahnya belum ngantor lah. Nah setelah 1 bulan melihat yang terjadi, saya mencoba melihat apa yang bisa dibuat. Tapi pada prinsipnya sebagai Pastor Rekan kan membantu saja, apa yang perlu, kalau misalnya ada jadwal misa di mana. Kalau kerja, sejak saya tiba langsung kerja.

Romo Matius ketika pertama kali datang ke Pinang, 6 Juni.
Kesan secara umum bagaimana?
Secara umum saya kira masih berjuang. Umatnya baik. Beberapa kali ketemu di mana, tapi karena hanya mengikuti misa live streaming ya... Seperti Minggu kemarin (5 Juli) ketika saya turun sampai di sini (saung) beberapa orang membahas kotbah saya. “Kami membahas kotbahnya Romo, katanya harus membuka diri bekerja sama dengan Allah, bekerja sama dengan sesama.” Kok ingat? “Iya, kan saya ikut misa live streaming tadi.” O bagus. Ya kan ini agak unik.
Unik bagaimana maksudnya?
Unik maksudnya ketika saya masuk umat tidak ketemu secara langsung tetapi lihat di live streaming. Saya sih membuka diri. Meskipun nama belum ingat tetapi muka mulai kenal. Saya kira perjuangan juga untuk mengingat nama. Wilayahnya kan cukup luas tetapi bagi saya kan tidak akan mungkin sekali jadi.
Betul.
Dan saya bersyukurlah ada kunjungan-kunjungan ke rumah sakit, membawa saya untuk masuk, tetapi juga menjadi kesempatan untuk saling meneguhkan. Saya juga belajar, tapi juga pasti umat merasa senang dikunjungi.
Artinya selama ini kunjungan ke umat sudah terjadi?
Sudah terjadi.
Hanya untuk orang sakit atau…?
Orang sakit, beberapa orang meninggal.
Oh sudah misa requiem? Sudah berapa kali?
Dua atau tiga kali misa requiem. Setidaknya di Wilayah Albertus dua kali.
Jadi visitasi (kunjungan umat) selama PSBB sudah banyak dilakukan?
Ya lumayan. Kalau Sekretariat minta, misalnya ada perminyakan, saya minta dipastikan sakit bukan karena Covid, kan kita harus saling menjaga. Kalau Covid, saya pastikan tidak datang.
Yang meninggal juga bukan karena Covid?
Sejauh saya tahu tidak. Ada yang ginjal, gula, ada juga lansia.

Romo Matius 6 Juni sudah ikut nimbrung diskusi new normal.
Nanti kalau situasi memungkinkan, visitasi akan tetap dilakukan?
Saya kira akan semakin (banyak). Kalau sudah normal, suka atau tidak, jadwal-jadwal akan membawa kami berjumpa dengan umat. Di situ ada misa arwah, doa lingkungan, misa syukur, dst. Di situ akan otomatis lah. Hanya sekarang dalam kondisi begini belum. Saya kan berpikir harus lebih aktif untuk menjumpai umat, meskipun untuk PSBB KAJ kan lebih ketat.
Lebih hati-hati.
Ya, lebih hati-hati. Dan kita harus mengikuti itu. Saya pikir juga umatnya harus lebih bersabar.
Karena usia juga?
Bukan karena soal usia tetapi ini standar dari KAJ yang harus kita patuhi juga.
(Tiba-tiba Pak Agus Tri dari Wilayah Loyola lewat sambil berkata lantang, “Ke rumah saya, Romo…!” Romo Matius pun menyahut, “O saya membuka diri, yang penting ada meja pingpongnya ha-ha-ha.”)
Teks & Foto: ps