Pak Yus menyapu ketika penyapu gereja belum datang.
Sudah tiga bulan ini misa di Gereja Santa Bernadet diadakan secara live streaming, tetapi Pak Yus selalu datang untuk bebersih Rumah Tuhan. Bapak berusia 68 tahun ini sering terlihat menyapu sampah atau mencabuti rumput di sekitaran gereja meskipun sudah ada tukang sapu.
Bisa jadi orang mengira, nama panggilan “Yus” itu singkatan dari “Yustinus” atau “Yusuf” tetapi ternyata nama aslinya “Yulios Sugio”. Ia adalah warga Wilayah Sesilia.

Istirahat sejenak usai bantu-bantu angkat tanaman.
Sosoknya sudah tidak asing lagi bagi umat Santa Bernadet karena memang dia setia melayani sebagai koster di gereja ini sudah sejak tahun 1991, praktis seusia paroki ini, walaupun boleh dibilang wajahnya ajeg (sejak dulu begitu).
Beberapa hari lalu ketika ngobrol santai di sela-sela kesibukannya di gereja Pinang, dengan volume suara yang cenderung lirih (tidak terlalu keras), Pak Yus mau bercerita tentang pengalamannya sebagai pelayan liturgi yang disebut koster atau sakristan itu.

Menunggu rapat Dewan selesai untuk bersih-bersih.
Dulu sebelum ada wabah virus corona, setelah melayani misa Sabtu sore Pak Yus tidak pulang ke rumah tetapi menginap di ruang Sakristi lama agar bisa menyiapkan gereja untuk misa Minggu jam 06.00.
Sejak ada pandemi Covid-19 ini, karena Sabtu sore tidak ada misa, ia datang ke Pinang Minggu jam 04.00 dini hari untuk menyiapkan misa live streaming.
Sesudah itu, Pak Yus juga membantu mengembalikan tanaman-tanaman yang dipinjam tim dekorasi untuk menghias altar. Dia akan menunggu sampai tim dekorasi selesai kemudian mengepel lantai altar.

Rutin tiap tahun, siapkan palma untuk dibakar.
Dulu waktu Paroki Ciledug ini masih menjadi Stasi dari Gereja Santa Maria Tangerang, sebelum tahun 1990, Pak Yus sudah melayani sebagai koster di sana sebulan sekali, berangkat dari rumahnya di wilayah Sesilia.
“Berangkat dengan kendaraan pinjaman dari orang yang bekerja di Peruri. Kalau tidak ada pinjaman ya … jalan kaki sampai Gereja Santa Maria,” kenangnya sambil tersenyum.
Pak Yus sempat bercerita tentang kebiasaannya berpuasa di masa Prapaskah dengan cara seperti saudara-saudara umat Islam. “Saya saur subuh dan buka puasa petang selama 40 hari tanpa henti,” katanya. Kebiasaan itu sudah dia jalani sejak puluhan tahun lalu.

Sejak beberapa tahun lalu Pak Triyono gabung.
Selama menjadi koster di Gereja Bernadet, ternyata Pak Yus sudah beberapa kali sakit sampai tidak bisa bangun. Puji Tuhan, bisa kembali sehat dan melanjutkan pelayanannya.
Pak Yus mengatakan, karena Tuhan mengasihi dirinya tanggung jawab yang Tuhan berikan akan dijalankannya semaksimal mungkin.
Sejak beberapa tahun lalu dengan bergabungnya Pak Triyono sebagai koster Gereja Bernadet, Pak Yus sungguh merasa sangat terbantu.
Tetap sehat untuk melayani, Pak Yus…
Teks: Maria/ Foto: Maria, Ruli