Selamat datang suasana baru...
“Kami mengumpulkan ulat-ulat yang ada di dedaunan. Ulat-ulat itu kami letakkan di dalam toples besar, sampai suatu ketika berubah menjadi kepompong dan menjadi kupu-kupu. Ketika sudah menjadi kupu-kupu, kami menerbangkannya sambil mengucapkan: Selamat datang di hidup yang baru...”
Hari Kristanto mengirim cerita sepanjang satu alinea di atas. Ia ingin berbagi cerita, bagaimana pengalaman keluarganya ketika berupaya menghilangkan kejenuhan setelah sekian lama harus tinggal di rumah seturut anjuran pemerintah karena wabah. “Nyesel nih fotonya kehapus,” katanya.

Ficia, kelas 5, pasang reminder doa di HP-nya.
“Awalnya semua terasa menyenangkan. Anak-anak merasakan keseruan karena ada orangtua yang selalu mendampingi. Ketika lapar langsung membuat sendiri makanannya,” cerita Pak Totok, sapaan akrab videografer Komsos Bernadet itu.
Begitu memasuki minggu ketiga, rasa jenuh mulai menyergap. Bangun pagi-mandi-sarapan-belajar-istirahat-belajar-makan sudah jadi rutinitas. Tiba-tiba merasa harus berhati-hati karena gesekan kecil bisa saja memancing emosi.
“Kami beruntung semua bisa menyadari posisi dan mengerti bahwa situasi ini tidak hanya melanda keluarga kami saja, tetapi seluruh kehidupan di dunia ini, untuk memutus mata rantai penularan virus corona yang ganas mematikan itu,” tulisnya.

Sedia alat semprot disinfektan jadi pola hidup baru.
Keluarga Pak Totok punya kebiasaan berdoa rosario bersama setiap malam. “Ini terasa menjadi berkat karena pandemi justru membuat kami semakin intensif dalam berdoa. Anak perempuan kami mengaktifkan alarm HP untuk reminder kapan berdoa Malaikat Tuhan dan Rosario Laudato Si’,” imbuhnya.
Reporter Sie Komsos Livita Wahab bekerja di sebuah travel agency. Kantornya di Jakarta mengharuskannya full time work from home. Tapi tidak ada pekerjaan kantor yang bisa diapa-apakan di rumah…
“Lagi sepi tamu, nggak ada yang berani pergi traveling. Gak ada meeting online sama bos. Rapat sama orang kantor juga belum ada sampai sekarang, karena bingung apa juga yang mau dibahas he-he-he,” cerita Livita.

Dalam uniform Komsos Livita wawancara Wakil Ketua DPH.
Namun Livita bersyukur, sesudah 2 bulan WFH gaji tetap ditransfer seperti biasa dan tidak ada PHK untuk 6 karyawannya. “Puji Tuhan, bos-bos masih baik hati ha-ha-ha,” ujarnya. Tapi saat ditanya apakah gaji dipotong, langsung dia kirim jawaban dengan emoji tertawa, “Pasti…!”
Tidak semua jenis pekerjaan kantor bisa dibawa pulang. Ini pengalaman Pak Bambang Gunadi, Ketua Sie Komsos. Sama sekali tak pernah terlintas di benaknya akan bertemu yang namanya WFH. Beruntung perkembangan teknologi memudahkannya mengakses data kantor dari rumah, tetapi itu hanya diizinkan untuk data soft copy.
Menjadi tidak mudah ketika urusan menyangkut data-data hard copy. “Itu yang sulit. Kebetulan saya bekerja di bagian finance yang berurusan dengan data-data transaksi keuangan yang harus asli dan otentik,” kata Pak Bambang.

Pak Bambang WFH. Kusut pol...
“Karena tidak mungkin membawa data-data transaksi ke rumah, maka dalam seminggu saya hanya WHF 2 hari, yang 3 hari tetap harus ke kantor,” katanya. WFH tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak ke kantor. “Kusut pol… Kerja di rumah lebih pusing ha-ha-ha,” kata Pak Bambang.
Margaretha Elsa juga WFH. Tetapi sesudah 2 bulan, ia bilang juga tidak sepenuhnya WFH. Sekali atau dua kali dalam seminggu ia datang ke kantor jika ada keperluan dan mempunyai surat tugas.

Bilik sterilisasi (chamber) di kantor Elsa. Bikin tenang.
Perusahaan tempat kerja Elsa memberlakukan protokol kesehatan sangat ketat, sehingga karyawan tidak perlu merasa khawatir. Ada fasilitas cuci tangan, bilik sterilisasi (chamber), pengukuran suhu tubuh di lobi, sampai hand sanitizer di pojok-pojok ruang kerjanya.
Namun suasana tidak normal memang sangat terasa. Jika dalam situasi normal satu ruangan diisi 35 orang, di masa pandemi maksimal 10. “Sangat terasa sepi,” ujarnya. Setiap orang di ruangan yang memakai masker dan satu sama lain menjaga jarak makin menegaskan kesan sepi itu.

Suasana sepi kantor menjadi "normal baru".
“Makan siang yang biasa dilakukan di satu ruang makan sekarang di meja masing-masing,” imbuh reporter Sie Komsos ini
“Unit tempat saya bekerja memberlakukan flexible time, karena lebih cepat berada di kantor maka akan semakin baik untuk mencegah penularan virus,” katanya.
Margaretha Sylvia Calista selama masa pandemi tetap harus masuk kantor seperti biasa karena perusahaannya bergerak di bidang makanan, meskipun bisa pulang satu jam lebih cepat. Tidak ada pengurangan karyawan untungnya.
Semua protokol cegah-tular virus corona diberlakukan penuh di kantor.Tetapi jarak dari rumah di Ciledug ke kantor di kawasan Kota Jakarta Barat yang ditempuh dengan sepeda motor membuatnya harus ekstra hati-hati, demi kebaikan diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga di rumah.

Suasana ruang kerja di kantor Sylvia.
Cek suhu badan, pakai masker, rajin cuci tangan, jaga jarak, bagi Sylvia sekarang sudah menjadi “normal baru”. “Hidup menjadi lebih bersih,” kata Admin Medsos Sie Komsos yang bekerja di bagian finance ini.
Pun kini ia sudah biasa selalu membersihkan segala ATK dan benda lain yang sering digunakannya dengan cairan disinfektan. “Sepulang kerja saya lekas mandi dan berganti pakaian bersih, baru bisa beristirahat di dalam rumah dengan nyaman. Saya keluar rumah jika sangat mendesak atau ditunda,” katanya.
Bekerja di sebuah perusahaan Farmasi, Arum Pranastuti tetap harus datang ke kantor setiap hari kerja. Di masa pandemi ini, perusahaan yang sangat lekat dengan urusan kesehatan itu justru dituntut bergerak lebih cepat dan efektif untuk mendukung membaiknya situasi.

Berjemur pagi paling mengasyikkan. Biar kebal virus.
Jenis perusahaan seperti ini mesti berupaya menjadi pionir dalam mewujudkan lingkungan kerja sehat. Kalau kemudian harus mengubah berbagai tata letak ruang, entah ruang kerja atau ruang makan, itu bagian dari upaya tersebut. Pengukuran dan pencatatan suhu tubuh 2 kali sehari pun menjadi ritual baru.
Antar-jemput karyawan yang biasa pergi-pulang kantor dengan angkutan umum harus diatur. Pengadaan makan sehat gratis bagi seluruh karyawan dan tidak mengizinkan mereka jajan di luar adalah keharusan baru. Pemberian Vitamin 2 kali seminggu dan jamu empon-empon 3 hari seminggu juga jadi kewajiban baru.
Bukan hanya bermasker dan berjarak yang dibiasakan, tetapi juga berjemur pagi setiap hari. “Berjemur pagi hari ini saat paling mengasyikkan. Selain bisa ngobrol, rileks, ini saatnya mengabadikan momen dengan swafoto,” kata Mbak Arum yang selama ini memperkuat tim reporter Sie Komsos.

Berjemur di balik masker hitam...
Sadar bahwa bahaya virus corona mengancam bangsa sampai sudut-sudut sumber rezekinya, muncullah kesadaran untuk bergotong royong antar-departemen. “Kami harus bekerja lebih ekstra untuk mendapatkan hasil yang kurang lebih sama di masa biasa,” kata Mbak Arum mengutip kata-kata salah satu karyawan.
Perusahaan bukanlah lembaga karitatif non-profit, karena itu ancaman terhadap pencapaian target harus dijadikan musuh bersama. Kerja lembur demi tercapainya target produksi harus dilakukan, bahkan departemen yang tak terkait langsung dengan produksi pun dikerahkan. Semua harus bisa melakukan apapun yang bisa dikerjakan.

Salah satu ruang di kantor Mbak Arum. Ingat target!
Sebagai contoh, karena perusahaan harus memberi makan sehat gratis ke karyawan, harus ada yang mengubah ruang besar jadi dapur, mengatur menu sehat, membeli peralatan dapur, memasak dan seterusnya. Siapa yang harus melakukan semua itu? Siapapun tanpa melihat asal departemennya. Di situ Mbak Arum terlibat. “Baru bisa mengerjakan pekerjaan kantoran mulai jam 11.00,” katanya.
Tumbuh budaya gotong royong demi sehatnya pencapaian target perusahaan, demi hidup dan lingkungan kerja sehat, dan demi kesempatan kerja dengan penghasilan cukup sehat untuk bisa menutup kebutuhan hidup… Itu pelajaran sangat nyata dari pandemi Covid-19 ini bagi perusahaan tersebut.
Selamat datang di hidup yang baru…
Teks & Foto: Tim Komsos (Arum, Bambang Gunadi, Elsa, Livita, Paulus, Ruli, Sylvia,Totok)