Siswa-siswi Sekolah Tarsisius Jakarta sedang belajar online.
Belajar di rumah terasa hampa. Itu kata Nikolaus Tegar Baskoro, anak kelas 8 Sekolah Sang Timur Ciledug.
”Garing lah kata temen-temen. Nggak ada yang diajak ngobrol, nggak ada yang diajak bercanda seperti belajar di kelas. Kita hanya berkutat dengan laptop atau HP,” ujar anak yang biasa dipanggil Niko itu.

Niko. Belajar di rumah terasa hampa...
“Tapi ya mau bagaimana lagi, demi kesehatan ya kita ikuti saja. Paling kalau kangen dengan teman-teman, ya saling sapa dan bercanda lewat video call aja,” imbuhnya.
Berbeda pengalaman Flora Bayu Pratomo. Siswa kelas 9 di Sekolah Abdi Siswa ini mengilustrasikan pengalaman belajar di rumah seperti lomba balap MotoGP. Peserta sudah latihan maksimal, sudah pemanasan, tiba-tiba suruh putar balik dan lomba dibatalkan.
Jauh-jauh hari Flora sudah belajar, bahkan ikut bimbel untuk menghadapi Ujian Nasional. “Saya juga pingin ngrasain sensasinya Ujian Nasional yang katanya menakutkan itu. Sekarang dibatalin, diganti online,” kata penggemar MotoGp yang mengidolakan Valentino Rossi itu bernada kecewa.

Kak Flo belajar online.
Sementara itu Ibu Chatarina Sri Wahyuni mendapat pengalaman menarik ketika anak-anak harus belajar dari rumah. ”Saya jadi lebih bayak waktu berkumpul bersama anak-anak,” katanya.
Ketika anak-anak mengikuti pelajaran orangtua bisa ikut berdiskusi dan mengarahkan untuk pemecahan masalah dari pelajaran yang dihadapi. “Kita juga jadi tahu kemampuan komunikasi dan diskusi anak-anak saat dilakukan online meeting,” ungkap Ibu Yuni, sapaan akrabnya.
.jpg?1590363806454)
Bian. Belajar dengan HP dan tunjukkan karya posternya.
Namun ibunda Rafa (kelas 8) dan Bian (kelas 4) ini menambahkan bahwa bagaimanapun anak-anak tetap senang dan pingin kembali ke sekolah karena berelasi dengan lingkungan sosial itu penting bagi perkembangan jiwa anak anak.
Dalam berelasi dalam lingkungan sosial anak-anak akan belajar banyak hal, seperti empati, saling menghargai, rendah hati, kerja sama, dan pengendalian diri. “Itu semua dapat dipelajari secara alami saat mereka bergaul dan berelasi sosial,” katanya.
Ada dua mahasiswa yang menceritakan pengalamannya berurusan dengan dosen-dosennya secara online di rumah, yaitu Karin dan Arya. Bagi Karin, mahasiswi Universitas Budi Luhur ini, kuliah daring sudah tidak asing sebenarnya karena selama ini sudah berjalan. Seminggu belajar di kampus, seminggu e-learning (kuliah dari rumah).
“Tapi sejak ada Covid-19, mulai 16 Maret 2020 semua kegiatan belajar jadi dari rumah,” kata Karin. Tugas menjadi lebih banyak dari kuliah biasanya. Setiap minggu dan setiap mata kuliah pasti ada tugas dari para dosen.

Karin. Meski sudah terbiasa kuliah daring, bosan juga.
“Sistem absennya (presensi, maksudnya) juga menegangkan. Setiap jam mata kuliah harus absen lewat aplikasi. Kalau telat dianggap tidak masuk dan kemungkinan diperbaiki oleh dosennya kecil, jadi harus tepat waktu,” katanya.
Sesudah dua bulan kuliah online Karin mulai bosan dan pusing dengan tugas, lalu bikin “sawah”, cara bikinnya mirip container gardening (bertaman dengan wadah) dengan tanaman sayur-sayuran dan mawar.

"Sawah" bikinan Karin untuk membunuh kebosanan.
“Jadi sebelum beraktivitas, saya ngecekin tanaman dulu biar fresh pikirannya he-he-he. Boleh coba teman-teman yang sudah mulai bosan di rumah aja,” ujarnya.
Walter Arya, mahasiswa semester 8 sudah harus segera menyelesaikan Skripsi. Ia mengalami salah satu kendala yang menyulitkan yaitu ketika harus bimbingan Skripsi lewat aplikasi video call atau telefon.
Bagi Arya, tatap muka secara fisik dalam bimbingan Skripsi sangat dibutuhkan karena dapat memahami secara langsung tanpa kendala ataupun hambatan. Karena itu, dalam bimbingan online dituntut keseriusan dan kematangan dalam menerima masukan dan revisi.

Arya (kanan atas) sedang sidang magang. Lancar...
Namun hambatan dasar dalam perkuliahan online adalah kondisi koneksi internet yang tidak selalu baik, dengan akibat suara maupun aktivitas kedua pihak terganggu.
Arya mengaku sempat khawatir ketika melakukan sidang magang secara daring karena dia tidak dapat melihat langsung bagaimana mimik ataupun gerakan fisik si penguji, sehingga bisa salah memaknainya.

Pertemuan-pertemuan langsung tetap dibutuhkan.
“Puji Tuhan selama sidang magang semuanya berjalan lancar tanpa kendala,” katanya. Ia sempat mengkhawatirkan betapa banyak hambatannya jika mahasiswa harus kuliah dan sidang online tetapi tidak tersedia cukup fasilitas seperti komputer dan koneksi internet yang baik.

Siswa-siswi Sekolah Absis Taman Aries ikuti kelas daring.
Dari pengalamannya, Arya berpendapat, dalam masa darurat corona ini orang harus berkawan dengan teknologi agar terhindar dari keramaian dan sentuhan fisik. Menjadi paham teknologi itu menurut Arya salah satu hikmah pandemi ini. Dalam kata-kata dia, “Wabah Covid-19 ini memiliki makna terselubung.”
Teks: Bambang Gunadi, ps/ Foto: Chatarina Yuni, Elisabet Yuni, Ninik, Asih R, Agung Herjunanto, Arya, Karin