Kegiatan online dalam masa pandemi Sekolah Absis.
Pembatasan-pembatasan sosial sebagai upaya untuk menahan laju penyebaran virus corona tanpa terasa sudah hampir berjalan selama kurang lebih tiga bulan. Tentu ini pengalaman baru bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar, guru khususnya.
Seperti diungkapkan Bp Antonius Agung Herjunanto, warga Paroki Ciledug dari Wilayah Ignatius Loyola, ketika pertengahan Maret ada instruksi dari pemerintah untuk belajar dari rumah selama 2 minggu, guru hanya bisa memberikan pengajaran jarak jauh. “Yang kita lakukan hanya memberikan tugas dari buku cetak yang hasilnya diinformasikan melalui aplikasi Whatsapp,” katanya.

Guru menjadi tahu berkomunikasi daring dengan murid.
Tak disangka ketentuan tersebut diperpanjang. Sekolah dan para guru pun mulai berpikir, pengajaran tidak bisa lagi hanya dengan memberi tugas. “Maka dibuatlah metode pembelajaran yang menarik agar siswa juga tidak bosan, apalagi kalau hanya dijejali terus dengan aneka tugas yang berat,” tambah Pak Agung, sapaan akrabnya.
“Sebagai guru sekolah dasar saya tidak menguasai bidang teknologi informasi. Situasi ini mengharuskan saya untuk belajar agar saya bisa menyiapkan pembelajaran untuk siswa. Mulai bertanya dan diskusi antarteman, jadilah sekarang akrab dengan google clasroom, zoom, Whatsapp web, video pembelajaran, dan video laporan tugas,” ujar pengajar di Sekolah Abdi Siswa Taman Aries ini.

Memberi tugas murid dalam kondisi normal.
“Pengalaman pertama itu grogi. Biasanya mengajar di kelas di depan anak didik. Ini di depan kamera. Saya pun sempet minta maaf. Tetapi ternyata sambutan anak-anak luar biasa. Setelah lama tidak bertemu gurunya, mereka senang bisa bertatap muka meski lewat kamera. Pengalaman ini yang membuat saya terus semangat dan belajar agar dapat menyajikan pembelajaran yang menarik,” tambahnya.
“Hal positif yang saya dapatkan, selain saya bisa mengenal teknologi informasi, dalam hal penilaian siswa ada yang berbeda. Ada seorang siswa yang biasanya kalau di kelas sulit sekali menguraikan atau menjelaskan sesuatu. Ternyata saat penilaian online ia mampu menjabarkan dengan slide yang detail dan penjelasan yang lengkap. Ini kemampuan siswa yang tadinya tidak saya mengerti,” imbuhnya.

Guru bertemu murid dalam kondisi normal.
Hal lain diungkapkan oleh Bp Cyprianus Phili Coli. Pengajar di Sekolah Tarsisius Jakarta ini merasa beruntung karena tahun lalu, sebelum wabah corona ini, Yayasan sudah mengadakan beberapa pelatihan IT. Di antaranya google classroom, google form, kahoot, dan google calender.
“Ada beberapa guru, terutama yang muda, sudah menggunakan teknologi ini sebelum wabah corona sebagai penunjang pengajaran. Nah kalau Zoom dan hangouts meet ya baru kenal dan pakai saat ada wabah corona ini,” cerita Pak Cypri, sapaan akrabnya.

Suasana kelas Sekolah Tarsisius dalam kondisi normal.
Ia menambahkan bahwa wabah ini ada dampak positifnya. “Kita jadi melek teknologi, bukan hanya siswa dan guru tetapi orangtua pun ikut akrab dengan teknologi yang digunakan untuk pengajaran,” tambahnya.
“Selain itu, ya sejenak kita terhindar dari kemacetan Jakarta yang biasanya saya alami setiap hari dan tentu hemat BBM. Tentu ini bukan sistem pengajaran yang ideal, guru tidak bisa menyapa dan bertemu langsung dengan siswa. Bahkan tugas guru pun semakin berat. Selain menyiapkan bahan pengajaran, untuk koreksi dan penilaian tugas bisa sampai larut malam,” ungkapnya.
Pak Martin, guru Sekolah Dasar Katolik Sang Timur Tomang, menemui kendala serupa. ”Ia dipaksa untuk dapat mengerti teknologi. Walaupun sulit namun berusaha dengan bertanya ke saya,” kata Arya tentang semangat belajar ayahnya itu.
Tak bisa memberi tugas dengan langsung mengawasi murid, Pak Martin tak kurang akal. Ia berikan saja tugas rumah sehari-hari, seperti membantu orangtua, melakukan kegiatan rumah tangga seperti mengepel ataupun menyapu.

Pak Martin, memberi tugas rumah sehari-hari.
“Peranserta orangtua menjadi titik kunci dalam keberhasilan pengerjaan tugas di rumah, karena pada dasarnya orangtua adalah guru yang paling pertama. Mereka memberikan arahan dan pengawasan secara langsung di rumah,” ujar Pak Martin.
“Baik guru, siswa, mahasiswa, dosen, dan semuanya harus bersahabat dengan teknologi untuk memenuhi kebutuhannya,” kata Arya menyimpulkan pengalamannya.
Teks: Bambang Gunadi, Walter Arya/ Foto-foto/Ilusrasi: Walter Arya, Cuplikan Video Sekolah-sekolah Katolik, Absis TV.