Tergerak oleh Keprihatinan, Wanita Katolik Ranting Loyola Melakukan “Saweran”

22 Mei 2020
  • Bagikan ke:
Tergerak oleh Keprihatinan, Wanita Katolik Ranting Loyola Melakukan “Saweran”

Membuat paket untuk mereka yang terimbas wabah Covid-19.

Ibu-ibu Wanita Katolik RI Ranting Wilayah Ignatius Loyola melakukan saweran untuk membantu keluarga-keluarga yang terdampak wabah virus Corona.

Loyo8-8-

Paket hasil saweran Wanita Katolik Ranting Wilayah Loyola.

Bantuan mereka berikan kepada saudara-saudara di sekitar Wilayah Ignatius Loyola di daerah Pondok Aren yang meliputi Wisma Tajur, Pondok Maharta, Graha Pondok Kacang, serta Griya Pipit dan sekitarnya.

Loyo4-4

Siap bergerak untuk membantu sesama yang membutuhkan. 

Ide saweran yang bersifat sukarela tersebut awalnya muncul karena mereka merasa prihatin dengan adanya tulang punggung keluarga-keluarga yang terpaksa dirumahkan dengan akibat menurunnya penghasilan padahal kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.

Loyo1-1

Ungkapan kepedulian kepada yang terdampak wabah.

Saweran tersebut tidak hanya berupa uang tetapi juga barang. Pengurus bisa mengumpulkan dari semua anggotanya uang sebanyak Rp 6.286.000 dan sumbangan mie instan 2 dus serta biskuit 1 dus.

Loyo3-3

Membantu yang terdampak wabah Covid-19.

Dari sumbangan yang terkumpul itu akhirnya dibuatlah 22 paket untuk warga Katolik dan 15 paket untuk sanak saudara non-Katolik yang terdampak pandemi Covid-19. Paket berisi beras 5 Kg, minyak goreng 2 Liter, gula putih 1 Kg, kecap 1 botol, biskuit 2 bungkus, teh celup 1 pak, dan mie instan 5 pcs.

Loyo6-6

Isi paket: beras, minyak, biskuit, teh, gula, kecap, mie instan.

Di bawah komando Ketua Wanita Katolik RI Ranting Wilayah Loyola Theresia Widiastuti (Bu Esti) kegiatan pemberian paket bantuan tersebut berlangsung 7 Mei 2020, dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan Covid-19 minimal mengenakan masker.

Loyo7-

Memberikan paket bantuan untuk warga lansia.

Bu Esti berharap, kegiatan serupa bisa dilakukan untuk waktu-waktu berikutnya, mengingat pandemi yang sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan berakhir.

Teks & Foto: Hari Kristanto

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna