Pergumulan Iman Salah Seorang dari Umat St Bernadet di Bangkok-Thailand

20 Mei 2020
  • Bagikan ke:
Pergumulan Iman Salah Seorang dari Umat St Bernadet di Bangkok-Thailand
Paus Fransiskus berdoa.

Berapa lama lagi, Tuhan?

Tuhan sumber sukacitaku di dalam pencobaan

Oleh Joseph Octavianus Kuswanto A*)

“Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “penindasan!” tetapi tidak Kautolong?” Itulah isi dari kitab Habakuk 1:2 yang menggambarkan suasana hati kita saat ini memasuki minggu keempat, bahkan untuk saya di Thailand dan putra saya di Singapura memasuki bulan keempat, hidup dipenuhi tagar #stayathome#workingfromhome #DiRumahAja. Selama itu pula kita dipaksa beradaptasi dengan keadaan, mulai dari belajar lewat daring, bekerja lewat daring, mengikuti misa lewat daring, bahkan menerima komuni pun hanya secara batin.

Ketika orang tua kami meninggal dunia, perayaan paskah yang biasa kami lakukan bersama, kami tidak bisa berkumpul karena penetapan status darurat sipil, pembatasan penerbangan, risiko kami menjadi carrier infeksi buat keluarga, rasa rindu rumah, rasa bosan berdiam di kamar sekian lama, dan tidak tahu kapan semua ini akan berakhir membuat tumpuan kami rasanya goyah. Wajar sekiranya kami mulai meneriakkan pertanyaan sama yang dilakukan Habakuk 2,600 tahun yang silam.

Lamm2oke-jos

Menghadiri Misa Paskah live streaming Gereja St Bernadet.

Di manakah Tuhan?

Rasanya bukan saya saja yang menanyakan di manakah Tuhan saat ini berada? pada kondisi penyebaran wabah virus corona di seluruh jagad dunia. Bapak Paus di Vatikan pun berteriak mohon perlindungan dan belas kasih Tuhan untuk keselamatan dan kesembuhan umat manusia, serta memberikan berkat Urbi et Orbi-nya. Tetapi penyebaran wabah infeksi ini masih terus berlanjut, korban penderita masih banyak, obat atau vaksin belum didapatkan, dan tidak seorang pun tahu kapan akan berakhir.

Sepertinya Tuhan sedang sibuk, menutup pintu dan jendelaNya sehingga tidak mendengar teriakan kita, menggantungkan tulisan di depan pintuNya “mohon tidak diganggu”. Ah tidak mungkin, bukankah Tuhan berjanji barangsiapa setia kepadaNya maka Dia kan terus bersama kita? Bahkan ketika badai menerjang dan murid-murid ketakutan, Tuhan tetap ada bersama mereka dan meredakan badai tersebut. Tetapi kenapa sekarang Tuhan seperti tidak mendengar, tidak melihat dan diam saja. Padahal kita sudah mencoba membangunkanNya.

Iman dan harapan

Dalam setiap doa selalu saja kuingat ajaran Tuhan akan iman, harapan dan kasih. Ya, kita harus tetap beriman dan berpengharapan di dalam kondisi sekarang ini. Imanku tetap dan tidak berubah, percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamatku, mengikuti misa mingguan, berdoa, membaca renungan harian dan rosario. Kubuka aplikasi alkitab Katolik, akan tetapi tidak tahu lagi bagian mana yang harus kubaca? Tiba-tiba sebuah pesan singkat dalam bahasa Inggris datang dari seorang sahabat di Philipina yang kurang lebih artinya “Hidup adalah ketidakpastian. Nafas kita berikutnya tergantung kepada Tuhan. Tuhan adalah pasti. Doa adalah kekuatan sejati pada masa sekarang ini untuk kita meminta kepada Tuhan untuk tetap mempunyai pengharapan”. Aha, kembali kata doa (FAITH) dan pengharapan (HOPE) menarik perhatianku.

Lalu kenapa Habakuk yang begitu mengasihi Tuhan berani bertanya jujur kepada Tuhan, mengapa ada perbedaan begitu besar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekitarnya. Rasa penasaran akan iman dan pengharapan Habakuk membuat saya menelusuri lebih jauh ayat-ayat berikutnya. Habakuk sempat bergumul seperti kita saat ini: kenapa orang Babel yang lebih jahat dari pada orang Yehuda dipakai Allah untuk menghukum bangsa Yehuda?

Tetapi di dalam pergumulannya Habakuk justru tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat di dalam iman. Bisa jadi, jika tanpa pergumulan tersebut imannya tidak akan tumbuh semantab itu.

Rm Kamm-ok

Romo Lamma tengah memberikan homili.

Tuhan sumber sukacita

Habakuk tidak kecewa begitu saja lalu pergi meninggalkan Tuhan. Dia mau berdiam, menantikan dan mendengarkan Tuhan. Dia berkata “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” (Habakuk 2:1).

Salah satu bagian kotbah minggu ini pun menyadarkanku, terkadang kita tidak mau percaya, mau semua serba instan, seperti Thomas yang ingin mecucukkan jarinya sendiri. Tetapi Tuhan berkata “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namum percaya”, pada bagian lain Tuhan berkata bahwa rancanganmu adalah rancanganKu. Kita sering kurang bersedia berhenti sejenak, mendengarkan dan sabar hingga Tuhan menyatakan diriNya.

Keadaan di luar memang terlihat sangat mengerikan, seolah menantang kita apakah kita masih bisa memegang janjiNya?, tetapi kita harus percaya Tuhan memegang kendali penuh atas apa yang terjadi. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas yang kita miliki.

Paskah Bern-

Misa Minggu Paskah Gereja St Bernadet 12 April 2020.

Pengalaman Habakuk sungguh menjadi pelajaran buat saya dan kita semua, dia melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah dengan penuh iman dan pengharapan. Bukan dari sudut pandang manusia yang lalu bersungut-sungut menyalahkan Tuhan. Bahkan dia bisa bersukacita, memuji dan memuliakan Tuhan ketika menantikan Tuhan menggenapi janjiNya.

Saat ini kita sedang diminta untuk menghargai semua karya penciptaan Tuhan. Dia menginginkan kita untuk hidup penuh damai, tidak ada perpecahan, saling mengasihi, solidaritas terhadap sesama, saling membantu satu sama lain tanpa membedakan suku, agama atau ras, tidak ada lagi peperangan dan penindasan, terlebih Tuhan meminta kita memiliki waktu untuk merenung dan bersukacita atas segala kebaikan Tuhan yang boleh kita terima selama ini.

Banyak sekali janji Tuhan di dalam alkitab. Pada saat pencobaan seperti ini, kita tahu kepada siapa kita berlindung dan menaruh pengharapan . KasihNya tidak akan berkesudahan, dan Tuhan sumber pengharapan serta sukacita kita. Tuhan memberkati kita semua.

*) Penulis kuliah di Bangkok, Thailand. Tulisan ini dikirim via Romo Lammarudut Sihombing, CICM/ Foto ilustrasi misa: Komsos

Tags
covid-19

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna