Beragam menu selama masa pandemi Covid-19.
Dalam bayang-bayang wabah Covid-19 yang telanjur menakutkan, banyak keluarga di paroki kita merasa ditantang bagaimana membuat menu makan yang sehat, bervariasi, tetapi terjangkau.
Sesudah melalui obrolan online sejak dua hari lalu, beberapa orang dari sejumlah Wilayah bersedia mengirimkan foto-foto menu makan keluarga mereka untuk dimuat di media ini tanpa harus menyebutkan namanya. Foto-foto disertai cerita. Sekadar berbagi, sharing.
--_2.jpg?1589588292613)
Ada tahu. Sekalian bantu tetangga yang menjual tahu.
Seorang ibu mengirim foto di atas ini sambil menyuapi anak lelakinya. “Kering kentang dan kering teri kacang paling disukai anak-anak. Selalu disiapkan buat nambah nafsu makan jagoan-jagoanku. Ada pepes tahu. Selalu ada tahu dan tempe di kulkas,” katanya.
“Selain itu mau bantu tetangga juga yang jualan tahu untuk selalu bisa membeli saat ditawarin. Kebetulan anak-anak juga sangat suka tahu, nurun mak-nya… Murah meriah,” imbuh ibu yang orang kantoran ini.
"Saya bersyukur karena anak-anak suka sayur-mayur. Pare, terong, pepaya, labu, apapun, mereka lahap. Nggak pusing mau makan apa walaupun sudah dua bulan di rumah terus,” ungkapnya.

Menu yang sederhana, bergizi, beragam, dan berimbang.
Pengirim foto di atas ini mengatakan, di masa pandemi Covid-19, karena diharuskan untuk diam di rumah, kebosanan mulai dirasakan. “Maka agar tetap sehat, imun terjaga dengan baik, kami tetap berusaha menyantap makanan yang sederhana namun cukup bergizi, beragam, dan berimbang,” katanya.
“Salah satu contoh menu keluarga kami nasi, pecel (wortel, bayam, sawi putih, tauge). Lauk ada protein hewani dan nabati (filet ikan, telur, dan tempe goreng ) dan tidak ketinggalan buah lokal (pepaya),” imbuh ibu yang pernah belajar ilmu gizi itu.

Menu yang berusaha memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
Menu di atas ini, kata pengirimnya, berusaha memenuhi 4 sehat 5 sempurna. Ada nasi, sayur sup sosis dan ayam, tahu goreng dengan sosis goreng untuk lauk, jadi ada protein nabati dan hewaninya. Ikan tuna dimasak pedas (protein hewani) untuk lauk pedas. Tempe, teri, kacang kering untuk protein nabati dan hewani.
Buah jambu disajikan karena kandungan vitamin C dan bagus untuk menaikkan trombosit. Pisang (tidak terlihat di foto) mengandung serat yang membantu proses pencernaan. Minumnya air putih hangat. “Susu malam sebelum tidur baru minum,” katanya.

Pecel komplet.
Foto pecel di atas ini kiriman seorang bapak. “Praktis dan sehat,” komentarnya singkat. Ditanya apakah boleh datang untuk ikut mencicipi, langsung dia menjawab, “Siap… ditunggu.” Tetapi empat menit kemudian dia mengirim pesan, “Pagar kompleks ditutup, dijagain satpam…!”
Bapak itu bercerita, waktu hamil anak paling kecil isterinya muntah-muntah kalau mencium asap nasi. Itu yang membuat dia belajar memasak. “Sampai sekarang saya bisa masak, ya yang ringan-ringan seperti nasi goreng,” katanya.

Ada gule daging kacang panjang, empon, sup tahu oyong.
Ibu yang mengunggah foto di atas ini tidak bisa WFH karena tuntutan jenis pekerjaannya. Dua minggu terakhir dia diminta untuk mengatur makan siang dan sore yang dibawa pulang. Siang 150 dan sore 40 orang. Bosnya minta, telor setiap hari harus ada karena berprotein tinggi.
Jadi ibu ini mengatur manajemen katering untuk seluruh kantor. “Dari belanja sampai masak, sampai dibawa pulang. Ruangan pun saya sulap jadi dapur dadakan ha-ha-ha. Praktis baru jam 11.00 bisa kerja kantorannya,” katanya.
Tiap Senin, Rabu, dan Kamis karyawan diberi jamu empon-empon. Isinya kunyit, jahe, serai, temulawak, gula batu. Selasa dan Kamis mereka diberi vitamin C. Dia mengaku senang, si bos punya komitmen tinggi selama PSBB walaupun omzet menurun. Karyawan tidak boleh jajan.
Sejak covid mamanya masak untuk anak-anak yang WFH.
Foto di atas dikirim oleh seorang gadis yang masih tinggal bersama orangtuanya meskipun sudah bekerja. Masakan di atas bukan dia yang bikin. Ada oseng-oseng buncis, pepes tahu, bakwan, sayur dan sambal. “Semenjak covid setiap hari mama masak sih, minimal 1 sayur, 1 lauk karena semua WFH,” katanya.
Ketika ditanya apakah selama ini mamanya tidak pernah masak untuk anak-anak, dia jawab, “Jarang ha-ha-ha.. Paling weekend. Kalaupun masak, kadang nggak keburu bawa bekal karena pagi-pagi sudah pada berangkat, pulang udah malem. Makannya di kantor masing-masing…”

Tahu telor sambal petis.
Foto di atas ini juga dikirim seorang gadis yang masih tinggal bersama orangtuanya tapi sudah bekerja. “Ini makanan saya hari ini. Bikinnya cepet dan gampang, juga lumayan bergizi,” katanya dengan emoji tertawa, Jumat malam.
“Mama yang bikin… Isinya tahu, telor dadar, timun, taoge, dan bumbu petis. Enak banget, buat tadi makan sore,” katanya lagi.
Ditanya, menu apa itu namanya, dia jawab, “Mama saya sih bilangnya tahu telor pake sambel petis…”
Ada lagi seorang ibu yang sudah menjadi oma. Dia memberi tahu bahwa biasanya pagi hari makan telor ayam kampung setengah matang plus buah seperti papaya atau lainnya. Kira-kira jam 10.00 kacang ijo. “Yang paling gampang,” katanya.
Siangnya nasi dengan lauk dua macam dan sayuran apa saja. Sore harinya buah apa saja dan dia lebih suka pepaya. “Kira-kira jam 18.00 olahraga cha cha sama suami satu jam. Habis cha cha makan malam dengan sisa lauk-pauk siang, biasanya masih ada. Mau tidur susu non-fat,” imbuhnya.

Ki-ka: Sarapan pagi, Snack, dan makan siang.
Dua anak perempuannya tinggal di Jakarta. Merekalah yang selama ini mengatur ransum makanan.
Sebelum ada virus corona, pagi sarapan susu oatmeal. ”Makan sembarangan apa saja. Sekarang, sejak ada mbah corona jadi teratur. Ada baiknya juga,” imbuhnya.

Ki-ka: Snack, makan malam, susu non-fat.
Dia menceritakan, anak-anaknya sangat disiplin soal makanan, sampai persediaan garam saja ditanyakan. “Mama papanya selama ada covid gak boleh ke mana-mana. Kalau tahu kami pergi, marahnya minta ampun… Mereka pakai video call. Untung anak, kalau orang lain sudah saya tutup hp-nya ha-ha-ha,” ceritanya.
“Ya itu karena mereka takut kita sakit. Intinya mereka penuh perhatian dan sayang sih. Saya bersyukur anak-anak tahu sama kami,” katanya.
Terima kasih untuk foto-foto dan sharing-nya/ Kolase Foto: ps.