Dekorasi altar Minggu Paskah III yang sederhana dan sepi.
Sudah lima minggu sejak misa live streaming pertama, 22 Maret 2020, Gereja Santa Bernadet Pinang tidak dikunjungi umatnya. Perayaan Ekaristi diikuti di rumah dan berbagai kegiatan di gereja pun dihentikan.
Ketua Komunitas Simeon-Hanna Ibu Herawaty Manurung lewat WAG Paguyuban Pinang menghitung, sejak 22 Maret 2020 sampai 26 April 2020, misa live streaming sudah 9 kali diadakan dan live streaming Gereja Bernadet tetap menjadi pilihan keluarganya di antara saluran yang lain.
Anggota Sie Komsos Hari Kristanto, yang akrab disapa Pak Totok, hari Sabtu lalu (25/4) memotret Gereja Santa Bernadet dari berbagai sudut pandang. “Udah sepi, nggak ada orang,” katanya lewat aplikasi percakapan.

Panti Imam yang kental dengan keheningan.
Karena sendirian, saat memotret di dalam gereja Pak Totok terbawa suasana kentalnya keheningan di sana. “Aku menunduk, buka topi, lalu ‘minta izin’ sebelum memotret. Merinding,” katanya. Padahal waktu itu sore hari, matahari belum juga tenggelam.
Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dalam homili Vigili Paskah, 11 April 2020, sempat mengatakan bahwa Paskah tahun ini berbeda. “… bahkan perayaan-perayaan yang biasanya dilakukan dengan meriah dan agung tahun ini menjadi sepi dan amat sederhana. Suatu peristiwa yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya,” katanya.
Dari bacaan Injil misa malam itu tentang Maria Magdalena dan Maria yang lain yang menemui kubur Yesus kosong (Mat 28:1-10), Romo Lamma mengajak umat memaknai rumah ibadah yang kosong akibat Covid-19. “Sebagai orang beriman tentu pengalaman ini akan mengantarkan kita untuk sungguh-sungguh mengosongkan diri kita, menjadikannya introspeksi dalam peziarahan iman kita,” katanya.

Suasana gereja tanpa kehadiran umat. Sunyi.
“Mari kita semua masing-masing mengosongkan diri dari pikiran-pikiran yang tidak benar, dari rencana-rencana yang sering kali menyibukkan kita sehingga kehidupan duniawi sering kita utamakan,” tambahnya.
“Saat ini kita diminta mengosongkan diri agar Tuhan berkenan bangkit pula di hati kita, menganugerahkan hati yang baru, pikiran yang baru, kehendak yang baru, harapan yang baru,” imbuh Romo Lamma dalam Vigili (tirakatan) Paskah malam itu.
Umat tidak bisa beribadat di gereja karena kita semua sedang mengalami kesulitan, yaitu wabah Covid-19 yang membatasi gerak kita. Romo Lamma dalam homili Minggu Paskah III mengajak kita untuk belajar dari perjalanan dua murid menuju Emmaus. (Luk 24:13-35). Yesus mengubah kekecewaan, kekhawatiran, dan keputusasaan mereka menjadi sukacita.

Sabtu sore di Taman Pinang yang lengang.
Hidup adalah sebuah perjalanan, kata Romo Lamma. Yang penting dalam perjalanan adalah penghayatan akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Apakah kita sudah mengundang Tuhan dalam kesulitan hidup kita seperti kedua murid, sehingga mata menjadi terbuka dan berani menjadi saksi akan kebangkitan Tuhan?
Romo Lamma mengajak agar kita tetap mengundang Tuhan di tengah-tengah kesulitan yang kita alami saat ini. “Yang pasti bagi orang yang percaya, Yesus bangkit dan menyertai hidup kita, menjadi sahabat dalam perjalanan hidup kita,” katanya.
Teks: ps/ Foto-foto: Hari Kristanto, Cuplikan Video Misa Paskah III