Paduan Suara Voce Maschille di Gereja Bernadet.
Akhirnya Voce Maschille (VM), paduan suara pria dewasa Santa Bernadet, merampungkan proyek virtual choir dengan lagu O, Salib Tanda Agung, Puji Syukur 508, dengan komposisi TTBB hasil aransemen konduktornya, Andreas Nayoko.
VM semula dibentuk sebagai paduan suara gregorian untuk mengikuti lomba Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Provinsi Banten, di Gereja Laurensius Alam Sutera, 14 Desember 2019.
Seusai Pesparani, disepakati bahwa VM tidak berhenti sesudah lomba itu, tetapi tetap melanjutkan pelayanannya bagi perayaan-perayaan liturgi di Gereja Bernadet, khususnya misa-misa reguler.
Video perdana Virtual Choir Voce Maschille.
Secara intensif latihan terus dilanjutkan setiap Minggu malam di Pinang. Jadwal tugas pertamanya adalah melayani Ibadat Jumat Agung. O, Salib Tanda Agung merupakan salah satu lagu yang akan dipersembahkan.
Namun secara tak terduga-duga wabah virus corona juga melanda Indonesia. Imbasnya, kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang, termasuk latihan koor, tidak bisa dilakukan. Latihan untuk persiapan Jumat Agung pun dihentikan.
Satu-satunya tugas yang sempat dilaksanakan VM setelah muncul wabah corona adalah koor misa 40 hari berpulangnya Romo Manuel V Valencia, Senin, 16 Maret 2020, di Gereja Bernadet. Ketika itu di gereja sudah mulai disediakan hand sanitizer meski belum ada anjuran untuk melakukan social distancing.

Rekaman di rumah. Arah jarum jam: GM Budi, Tri, Edi, Margot.
Dalam kondisi tersebut muncul gagasan untuk membuat proyek virtual choir dan semua anggota VM sepakat. Internet, meskipun terbatas, masih bisa “menyelamatkan” kehidupan sosial kita, termasuk koor. Wabah virus corona bukan penghalang bagi VM untuk tetap bernyanyi bagi Tuhan.
Virtual choir adalah paduan suara tanpa tatap muka dengan bantuan teknologi. Setiap vokalis membuat rekaman video di berbagai tempat (di rumah selama wabah Covid-19) yang kemudian semua hasilnya dikoleksi secara online untuk disinkronisasi dan digabungkan agar bisa dijadikan paduan suara yang disebut virtual choir.
Proses pembuatan virtual choir VM dimulai ketika Pak Nayoko memilih lagu dan membuat panduan rekaman video semua jenis suara dan mengunggahnya ke WAG VM agar anggota bisa melakukan rekaman di rumah. Kolektor hasil rekaman adalah Mas Adit dan pengolah video Mas Hari Kristanto.

Rekaman di rumah. Arah jarum jam: Leo, Kristanto, Adit, Nico.
Karena virtual choir bagi kebanyakan anggota VM masih baru, ada berbagai macam pengalaman, seperti kesulitan menyamakan irama atau kesulitan mengirimkan video. Ada anggota yang sambil mengunggah video di WAG mengaku sambill tertawa, “Saya sudah 20 kali take gagal terus …” Umumnya rekaman juga tidak bisa sekali jadi.
Namun Pak Nayoko tidak terganggu dengan semuanya itu. Ia yakin pasti bisa dan dengan sabar memandu peserta lewat WA ketika ada kesulitan. “Asal suara tidak fals pasti bisa. Nafas tidak jadi persoalan,” katanya suatu ketika.
Rekaman audio koor sebenarnya sudah rampung pada hari Jumat Agung lalu, tetapi urung diperdengarkan di gereja. Akhirnya 15 April kemarin, Pak Nayoko mengunggah hasilnya di akun youtube miliknya sekaligus mengunggahnya di WAG VM. Walaupun belum sempurna hasilnya beberapa anggota merespons senang. "Tidak apa-apa meski sudah lewat (Jumat Agung)," kata yang lain.

Rekaman di rumah. Edward Joedho dan Anton Tumijo.
Sekadar informasi. Menurut penelusuran digital, sebagai fenomena global virtual choir sudah ada sejak sekitar 10 tahun lalu ketika seorang komponis Amerika, Eric Whitacre, atas inspirasi penggemarnya, membuat proyek virtual choir. Sifatnya yang “menyatukan” membuat virtual choir dengan cepat menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia.
Di Indonesia, Virtual Choir Semesta Indonesia (VCSI) merupakan paduan suara virtual pertama. VCSI lahir karena keprihatinan akan potensi perpecahan bangsa pasca masa kampanye pemilu tahun 2019 dan punya visi merawat kesatuan, kekayaan, dan keberagaman di Tanah Air.
Semoga pandemi Covid-19 cepat berlalu dan kita bisa segera saling bertemu!

Rekam di rumah. Arah jarum jam: Indro, Totok, Totot , Paulus.
Teks: ps/ Foto: dok Komsos, VM, Pesparani/ Kolase foto: ps/ Video: Hari Kristanto, A Nayoko