Seorang pengojek mengamati paket yang diterimanya.
Spanduk kecil terpampang di Jalan Akses Graharaya tepat di depan gerbang pintu masuk Gereja Santa Bernadet pada Minggu 12 April 2020. Tulisan lengkapnya, “Silakan rekan-rekan driver taxi/ojek online ambil paket makan siang.” Juga terbaca di sana, “Baksos Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet, Giat Sanberna Peduli Dampak Pandemi Covid 19.”

Spanduk bakti sosial di dekat gerbang Gereja Santa Bernadet.
“Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Raya Paskah ini diadakan atas inisiatif dari Sie Keamanan Panitia Paskah 2020,” ungkap Mas Adri, Ketua Sie Keamanan. “Inilah bentuk kepedulian kita sebagai warga bangsa dan umat beragama yang ikut peduli dengan masalah yang terjadi saat ini,” imbuhnya.

Kegiatan menolong sesama demi kelangsungan hidup.
Kebetulan perayaan Paskahnya, karena wabah corona, tidak bisa diselenggarakan. Maka tim keamanan yang sudah terbentukpun tidak jadi bertugas. “Saat kita kumpul-kumpul tercetuslah ide ini, dan kita komunikasikan ke berbagai pihak, dan disetujui. Yah jadi paslah di Hari Raya Paskah kita bisa berbagi makan siang kepada saudara-saudara yang membutuhkan,” jelasnya.

Penerima paket umumnya para pengojek online.
“Sebelumnya, hari Kamis 9 April 2020, kegiatan serupa juga sudah dilaksanakan dengan membagi 150 paket. Di hari Minggu itu meningkat menjadi 200 paket,” kata Pak Agus Suprayitno, salah satu anggota panitia pelaksana siang itu. “Puji Tuhan kegiatan ini juga direspons baik oleh seorang umat yang mengirimkan 50 paket makan siang. Jadi totalnya yang akan kita bagi menjadi 250 paket,” tambahnya.

Awak Sie Komsos melakukan peliputan baksos.
Sejak pukul 10.00 panitia pelaksana sudah mulai melakukan pengepakan paket yang terdiri 1 boks makan siang, air minum, dan masker kain. “Pembagian masker kain ini sekaligus sebagai kampanye untuk para pengemudi ojek online untuk selalu memakai masker sebagai pelindung diri,” ungkap Pak Ivan Gunawan, Ketua Panitia Paskah 2020 yang juga hadir di lokasi.

Menyiapkan paket makan siang, air minum, dan masker.
Pak Agus Suprayitno sebagai koordinator kegiatan siang hari itu mengajak semua yang terlibat dalam kegiatan ini untuk sejenak berkumpul. Pak Agus, sapaan akrabnya, sedikit memberi motivasi perlunya menolong sesama yang membutuhkan bantuan dengan ikhlas tanpa unsur kepentingan pribadi atau kelompok. Dampak dari virus corona dengan kebijakan menjaga jarak sosial ini kita semua tidak ada yang tahu sampai kapan.

Pak Agus memotivasi mereka yang terlibat bagi-bagi-paket.
Sebagai ilustrasi, Pak Agus mengutip sebuah cerita bijak. Ada seorang kaya dengan 3 anak yang memiliki 19 ekor kerbau yang akan diwariskan pada anak-anaknya. Sebelum meninggal ia menulis surat wasiat untuk anak-anaknya. Anak pertama akan mendapatkan ½, anak ke dua mendapat ¼, dan anak ke tiga mendapat 1/5.

Siap bertugas membantu para terdampak virus corona.
Tak berapa lama orang kaya itu meninggal dan mulailah anak-anaknya ingin segera mendapatkan warisan sebagai haknya sesuai surat wasiat. Lalu mereka berkumpul dan dihitung anak pertama mendapat 9,5 ekor, anak kedua 4,75 ekor, dan anak ketiga 3,8 ekor. Masalah mulai muncul karena semua menginginkan kerbau hidup, jadi tidak ada yang setengah-setengah. Pertengkaran hebat pun terjadi tanpa ada titik temu.

Pak Bambang Gunadi mewawancarai pengojek online.
Mendengar ini tetangganya, kakek miskin yang hanya memiliki 1 ekor kerbau, datang melerai mencoba menawarkan solusi. “Saya akan memberikan 1 ekor kerbau satu-satunya yang saya miliki untukmu, sehingga kerbaumu saat ini ada 20 ekor. Nah, silakan dibagi,” ujar si kakek. Ketiga anak itupun setuju menerima pemberian kerbau si kakek.

Mendapatkan penumpang semakin sulit.
“Baiklah sekarang silakan kalian bagi lagi sesuai wasiat orang tuamu,” kata kakek itu. Anak pertama ½ dari 20 mendapatkan 10 ekor, anak kedua ¼ dari 20 mendapatkan 5 ekor, dan anak ketiga 1/5 dari 20 mendapatkan 4 ekor.

Demi mencegah virus corona masker perlu dikampanyekan.
“Terima kasih kakek atas kebaikanmu, kami semua mendapatkan kerbau hidup sesuai wasiat orang tuaku,” ungkap anak pertama. Sementara anak ketiga berpikir, jumlah kerbau sesuai bagian kami hanya 19 berarti sisa satu. “Kalau begitu satu kerbau ini berarti milik kakek, silakan dibawa pulang lagi…”
Tepat pukul 12.00 pembagian makan siang dimulai dengan tetap menjaga protokol kesehatan mulai dari masker dan pelindung diri untuk petugas yang paling depan. Tak lebih dari 25 menit paket makan siang yang disiapkan habis terbagi.
Paling banyak yang menerima adalah pengemudi ojek online, namun ada juga pengemudi angkot, pengemudi taxi, dan pengemudi taxi online. Termasuk juga yang menerima paket makan siang ini pedagang kopi keliling yang istilah kerennya “starbike coffee”.

Membagi paket tetap harus mentaati protokol kesehatan.
Pak Kiki yang mengenakan helm salah satu ojek online tapi membawa dagangan kopi, setelah menerima paket makan siang itu, menceritakan, “Dulu saya pengemudi ojek online dan beralih menjadi penjual kopi keliling seperti ini. Dampak dari temen-temen ojek online yang sulit mendapatkan penumpang menjadikan saya sulit juga, karena merekalah pelanggan saya,” ceritanya.

Dampak pandemi, sampai jam 12.00 kopi Pak Kiki belum laku.
“Biasanya kalau kondisi normal jualan sampai jam 12.00 sudah dapet 200.000 sampai 300.000. Hari ini satupun belum dapet pembeli. Semoga kondisinya segera normal lagi,” harap Pak Kiki.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Carolus, Ruli, Kevin, Arya