Imam bertiarap dalam doa senyap.
Ibadat Jumat Agung di Gereja Santa Bernadet Ciledug secara live streaming yang dipimpin oleh Romo Lammarudut Sihombing, CICM, Jumat (10/4), berjalan lancar dengan kualitas tayangan yang banyak menerima pujian.
Penyelenggaraan ibadat yang awalnya diwarnai hujan lebat di Pinang setelah seharian mendung menyelimuti langit, menurut pantauan Komsos, diikuti oleh lebih dari 1.500 orang pada saat tayang (now watching), tidak hanya dari Paroki Ciledug, tetapi juga dari luar paroki seperti Yogyakarta.

Dimulai pelepasan selubung kain salib.
Pembawaan passio (Kisah Sengsara Yesus Kristus) oleh Pak “Totot” Herwinoto, Pak Broto, dan Pak Bernard, sebagai puncak dari Ibadat Sabda banyak dipuji dan diakui sangat membantu dalam mengenang dan menghayati sengsara Tuhan. Banyak yang mengalami keharuan mendalam.
Untuk Ibadat Penghormatan Salib umat mengikuti dan melakukannya di rumah, sedang untuk Ibadat Komuni Kudus umat menerima Komuni Batin.

Passio sangat membantu umat menghayati sengsara Tuhan.
Dalam homili singkatnya, Romo Lamma menawarkan ajakan untuk belajar dari Jumat Agung lewat beberapa permenungan sebagaimana disajikan secara ringkas berikut ini. Untuk mendengarkan selengkapnya, silakan melihat kembali youtube Gereja Santa Bernadet.
Pertama, Jumat Agung mengajarkan tentang pengampunan. Dalam keterpurukan terdalam Yesus Sang Guru menampakkan siapa DiriNya sesungguhnya ketika berkata, “Ampunilah ya, Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Inilah ungkapan kerahiman yang amat mendalam dan yang mampu menyelamatkan manusia dari kelemahan sehingga terjatuh dalam dosa.

Romo Lamma memberikan homili singkat.
“Yesus mengajarkan bahwa tidak ada gunanya menyimpan dendam kepada orag lain, kepada siapapun. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan mengubah apapun, yang ada hanya menimbulkan kejahatan baru.”
“Dengan adanya pengampunan di dalam hidup kita, kasih karunia Allah selalu menyertai perjalanan hidup kita. Maka tanpa memiliki dan mengalami pengampunan, semua kepercayaan dan pengharapan kita akan menjadi sia-sia.”

Dea, Lektor.
Kedua, wafat Yesus di kayu salib mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah akhir. Setiap orang memiliki beban dan penderitaannya masing-masing dalam berbagai bentuk, dari kesusahan, penyakit, bencana, sampai kematian.
Kata Yesus, “Setiap orang yang akan mengikut Aku harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Itu berarti bahwa kita harus berjuang karena hidup ini diwarnai oleh berbagai tantangan dalam mencapai suatu tujuan. “Peristiwa Jumat Agung adalah sebuah perjuangan bahwa sebuah penderitaan bukanlah akhir tetapi sebagai awal perjalanan menuju sukacita.”

Frater Steven Ramli, Lektor.
Ketiga, Jumat Agung mengajarkan ketaatan. Ketaatan adalah hal yang terpenting dalam kehidupan orang beriman. Ketaatan Yesus kepada kehendak Allah BapaNya adalah ketaatan sampai mati. Inilah sebuah teladan bagi kita.
Saat ini pemerintah memberi arahan, panduan untuk kita taati, bagaimana kita bekerja sama menghentikan penyebaran virus corona. Karena berbagai desakan hidup, situasi, banyak orang tidak mengindahkannya. Banyak orang tidak taat. Tidak mudah untuk hidup taat karena menuntut sebuah pengorbanan. Jumat Agung menginspirasi kita untuk taat kepada Tuhan, untuk taat kepada apa yang dikehendakiNya.

Berlutut di rumah saat Imam bertiarap dalam senyap.
Salah satu ungkapan Yesus dari atas kayu salib adalah, "Aku haus." Ini kalimat sangat singkat, padat, dan sangat mendalam. Yang mengatakan "Aku haus" adalah Air Kehidupan yang memuaskan dahaga setiap orang yang percaya kepadaNya, namun kini bibir dan mulutNya pecah dan kering. Dia adalah pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu. Mungkin kita tidak pernah tahu apa maksud kalimat itu.

Tim Live Streaming Komsos dalam tugas.
Kita bisa ingat ketika Yesus berkata, ”Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” Pengorbanan Tuhan atas segala dosa-dosa kita membebaskan kita untuk memperoleh kehidupan kekal. “Maka mari kita mendekatkan diri kepada Yesus yang telah memberi teladan bagi kita. Yakinlah bahwa perjuangan kita tidak akan sia-sia. Tuhan memberkati. Amin.”
Teks: ps, WhatsApp/ Foto-foto: Rafaela Chandra, Komsos