Romo Lamma dalam homili Minggu Palma 5 April 2020.
"Kita percaya bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri yang sungguh misterius dalam menyentuh hati setiap orang."
Raja Damai
Dalam masa sulit seperti wabah Covid-19 ini kita ditantang dan memiliki kesempatan yang sama untuk menggali lebih dalam apa makna Kisah Sengsara dan Salib Yesus Kristus yang memperjuangkan kehidupan dan keselamatan manusia.
Dalam Perayaan Ekaristi ini Liturgi memberikan suatu panorama dan sekaligus perayaan iman kepada kita, yakni misteri penetapan Ekaristi yang nanti kita akan peringati pada Kamis Putih, penderitaan dan kematian Tuhan Yesus yang akan kita rayakan pada Jumat Agung, dan KebangkitanNya yang kita rayakan pada Minggu Paskah.

"Kedamaian adalah kerinduan setiap orang..."
Ketika Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja Damai tentu ia disambut dalam suasana meriah. Daun-daun palma dan pakaian dihamparkan di hadapan Yesus. Ada yang berbicara tentang mukzijat yang telah dilakukanNya dan semakin banyak orang yang percaya dan berkata, “Hosana Putra Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam Nama Tuhan.”
Kedamaian adalah kerinduan setiap orang, apapun latar belakang dan keyakinannya. Oleh karenanya semua orang berusaha supaya hidupnya damai. Damai akan menghantarkan orang pada keselamatan sejati. Maka sangat masuk akal ketika Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja Damai, banyak orang bersorak-sorai menyambutNya, menyertaiNya, bergembira, bersukacita, karena kedamaian menjadi kerinduan setiap orang.
Dalam kisah sengsara Yesus tergambarlah dengan sangat gamblang bahwa kedamaian telah dirusak, telah dikoyak, karena konspirasi jahat di antara para pemuka agama dan penguasa setempat. Pujian berubah menjadi cercaan dan makian. Sifat keegoisan telah mendominasi, sehingga menutup hati manusia untuk mengakui dan melihat kebaikan Sang Raja Damai. Ia diadili, diseret, dilukai, dipaku, diludahi, dicambuk, ditombak, dan disalibkan hingga wafat di kayu salib.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Tentu peristwa ini mengingatkan kita akan tindakan kita sendiri yang mudah menyalahkan dan mengadili orang lain. Kebiasaan selalu menyalahkan tentu tidak akan membawa solusi, bahkan rasa damai akan semakin jauh dari hidup kita.
Di saat-saat masa sulit ini pun, ada orang yang selalu mengedepankan untuk menyalahkan pihak-pihak terkait, instansi-instansi terkait. Sekali lagi, kebiasaan saling menyalahkan, menghakimi, tergambar dari Kisah Sengsara Yesus.
Saudara-saudara terkasih, Yesus yang memasuki kota Yerusalem sebagai Raja yang mendamaikan hubungan manusia dengan Allah telah dirusak oleh dosa manusia, oleh keegoisan kita sendiri. Ia memberikan pengampunan dosa untuk kehidupan dan keselamatan manusia.

"Kebiasaan selalu menyalahkan tidak membawa solusi..."
Dengan merayakan misteri suci ini, kita diundang untuk mewartakan bahwa penderitaan Kristus merupakan bukti kasih Allah yang sangat nyata kepada setiap manusia, kepada kita semua yang berdosa ini.
Pekan Suci ini membawa pesan kepada kita supaya kita sungguh-sungguh menghargai hidup, menghargai kehidupan, kehidupan kita dan juga kehidupan orang lain.
Betapapun sulitnya hidup ini, tetaplah berjuang karena pada akhrinya akan ada sukacita kehidupan, sebab rasa sakit akan membuat kita lebih kuat, air mata ini akan membuat kita lebih berani dan lebih tabah, dan pengalaman pahit ini membuat kita akan lebih bijak untuk masa yang lebih baik ke depan.

"Maka mari kita selalu bersyukur ... atas pengampunan dosa."
Maka mari kita selalu bersyukur dan bersukacita akan apa yang telah dikerjakan Allah dalam kehidupan kita ini teristimewa atas pengampunan dosa yang telah Ia berikan kepada kita.
Saudara saudariku yang dikasihi Tuhan di manapun berada. Marilah kita terus memberikan kesaksian atas kebaikan Tuhan kepada semua orang. Terpujilah Allah untuk selama-lamanya. Amin.
Transkripsi: ps/ Foto-foto: Komsos