“Terima kasih, Romo Lamma dan semua tim yang terlibat yang telah menjadi "jembatan" bagi banyak umat Santa Bernadet yang rindu akan Perayaan Ekaristi.” Itulah kesaksian Bapak Kristanto yang biasa disapa Pak Kris yang sempat dituliskan di WA group Prodiakon Santa Bernadet.
Tak dipungkiri himbauan pemerintah untuk beribadat di rumah bagi sebagian orang menyisakan tanda tanya, kita harus bagaimana? Sebuah keberuntungan bagi kita umat Katolik sesuai hierarki Gereja. Keuskupan Agung Jakarta pun segera mengeluarkan surat edaran dan petunjuk teknisnya. Salah satunya Gereja tetap menyelenggarakan Perayaan Ekaristi tanpa umat, umat dipersilakan mengikuti dari rumah masing-masing melalui live streaming. Itulah yang juga dilakukan Gereja Santa Bernadet Paroki Ciledug pada Minggu 22 Maret 2020 jam 08.30.

Ungkapan Pak Kris di atas selaras dengan yang diungkapkan Kak Flo, salah satu putri altar. “Karena pekerjaan kami berpisah jauh dengan ayah, ayah ada di Uni Emirate Arab, maka kami sekeluarga jarang banget ke gereja bareng. Tapi kami sekeluarga setiap malam selalu berdoa bareng tentu dengan perbedaan waktu melalui Skype, sehingga tetap merasa dekat meskipun berjarak ribuan kilometer,” ungkapnya.
“Merebaknya virus corona di berbagai penjuru dunia sungguh menakutkan. Ayah sudah bercerita dari minggu-minggu sebelumnya, gereja tempat ayah biasa mengikuti Ekaristi ketika sedang berada di Uni Emirate Arab mengumumkan pembatalan semua pelayanan misa. Saat itu gereja-gereja di Indonesia belum mengumumkan akan meniadakan misa di gereja dan memberikan pelayanan misa melalui live streaming,” cerita Kak Flo.

“Puji Tuhan, Gereja St Bernadet akhirnya akan memberikan pelayanan misa minggu melalui live streaming. Tidak pernah terlintas sebelumnya bagaimana rasanya. Pengalaman iman yang luar biasa bagi kami sekeluarga menerima Yesus masuk dalam batin kami secara spesial, menyatukan kami yang berjarak ribuan kilometer. Berdoa bersama, mendengar suara ayah dan bersama mendengarkan suara Romo Lamma, serasa kami sekeluarga sedang mengikuti misa bersama di Gereja Pinang. Dobel kerinduan kami terobati, rindu mengikuti perayaan Ekaristi dan rindu misa bareng ayah,” tambah mama Kak Flo.

Kesaksian lain dari keluarga Bp Agustinus Supan yang saat ini sudah terpencar-pencar secara tempat tinggal. Bapak Supan, begitu ia biasa dipanggil, memilih meninggalkan Ciledug untuk pulang kampung ke Wonosari.
“Adik karena sudah berkeluaga tinggal di Jakarta Timur. Tinggal saya yang ada di Ciledug,” ungkap Mbak Maria Wijayanti, menantu Pak Supan. “Ternyata momen ini menjadi jembatan penghubung. Ketika link live streaming misa dari Paroki Ciledug kami bagikan, semua menyambut dengan suka cita dan sepakat untuk mengikuti misa bersama-sama meski dipisahkan jarak dan tempat tinggal,” imbuhnya.

“Pertama kalinya mengikuti misa live streaming, saat menyiapkan peralatan lilin dan salib. Rasanya udah ga karuan, sedih, terharu, dan ga nyangka saja sampai harus seperti ini. Saat misa berlangsung, kami sama sekali tidak ada yang berbicara, padahal kalau misa di Gereja kadang kita masih suka bisik-bisik berbicara. Kali ini kita hening banget, karena kita semua menahan haru, menahan tangis. Dan saat Komuni Batin, akhirnya kami ga tahan lagi air matapun menetes. Bahkan saat saya lihat, papanya anak-anak, orang yang cukup tegar dan tidak pernah saya melihat menangis, ternyata bisa juga meneteskan air mata,” lanjut Mbak Maria.
Ia melanjutkan lagi, rasa haru yang dirasakan itu terjadi bukan saja karena situasi saat ini, namun karena kerinduannya untuk bisa mengikuti perayaan ekaristi bersama Romo di gereja Pinang. Tetapi terharu juga kepada semua yang terlibat dan bekerja keras untuk menyiapkan semuanya bagi umat Paroki Ciledug khususnya, dan ternyata bermanfaat bagi umat yang bahkan tinggal jauh dari Ciledug.
“Terutama Bapak, yang dulu sangat aktif di Santa Bernadet saat awal Paroki ini ada, sangat senang sekali bisa mengikuti misa dari Ciledug, terlebih gereja di Wonosari tidak menyelenggarakan live streaming misa. Lewat video call kami saling berbagi cerita,” ungkap Mbak Maria Wijayanti.

Yang tidak jauh dari Ciledug pun mengungkapkan hal yang kurang lebih sama. “Kami tinggal di Jakarta Barat. Kebetulan paroki kami tidak menyelenggarakan live streaming misa. Beruntung saudara yang tinggal di Ciledug membagikan link, jadilah kami bisa misa bersama keluarga meski berbeda tempat,” katanya.
Itu sebagian cerita yang diperoleh. Ada juga umat katolik berada di New Zealand, Malaysia, Filipina, dan daerah lainnya yang menuliskan di IG@santabernadet.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: IG@santabernadet/Margaretha Sylvia Calista, Arum