Seusai misa live streaming di Gereja Santa Bernadet Minggu (22/3), di salah satu grup WA terjadi dialog dua bapak:
“Ikut misa di rumah sendiri. Anggap aja ruang doa sebagai Altar. He-he-he,” kata bapak pertama dengan emoji salib, bunga mawar, wajah terseyum, tepuk tangan, dan foto ruang doanya.

“Nggrantes yo, Den?” sahut bapak yang kedua dengan tiga emoji menangis keras. (nggrantes=sedih menyayat. Den = sapaan akrab sahabat karib khas pergaulan Jawa, khususnya Yogya atau Solo.)
“Iyo e…! Aku mau saat Doa Syukur Agung tak hayati kok sampe mbrebes aku. Kok dadi cengeng yo, Juragan?” (Iya…! Aku tadi saat Doa Syukur Agung aku hayati kok sampai berurai air mata aku. Kok jadi gampang menangis ya, Juragan?”). Emoji smiley face.

Di grup WA lain dua orang ibu berbalas postingan berikut ini:
“Ternyata pada saat Komuni Batin gak bisa tahan,” kata ibu yang satu dengan menyertakan empat emoji menangis keras.
”Aku juga berurai air mata. Kukira cuma aku yang cengeng,” jawab ibu lain dengan emoji yang sama.

Seorang warga paroki Ciledug meneruskan (forwarded) postingan dari temannya yang menceritakan betapa sedihnya melihat gereja kosong, hanya ada imam dan petugas di sana. Tenggorokannya sakit karena menahan tangis ketika mendoakan doa Komuni Batin. "Di situ terasa banget kerinduanku untuk menerima hosti yang selalu menguatkan perjalanan hidupku selama ini," tulisnya kemudian.
“Aku sedih banget, berlinanglah air mata ini, terlebih saat kotbah dan Komuni Batin... Tuhan memberkati kita semua. Amin… Amin… Amin,” unggah seorang ibu dengan emoji menangis keras.

“Selesai misa live streaming dari Gereja St Bernadet. Terharu... terutama saat doa Komuni spiritual. Matur nuwun Gusti,” tulis seorang ibu lain.
Ada juga seorang bapak yang berbagi pengalamannya. Karena seharian pergi sesudah misa, malam harinya baru bisa berkumpul dengan keluarga dan melakukan sharing kecil tentang pengalaman misa live streaming pagi harinya. “Pada nangis saat Komuni Batin dan sepanjang misa nyesek rasanya,” cerita bapak itu.

Banyak sekali ungkapan rasa haru sampai berurai air mata yang diunggah di berbagai grup WA di paroki ini usai mengikuti misa live streaming Gereja Bernadet, termasuk dari paroki lain di Depok dan Bekasi.
Beberapa orang mengaku terharu sekaligus berterima kasih ketika menyimak kotbah Romo Lamma. “Ya ampun, mbrebes mili (mengalir deras) air mata ini, akhirnya menetes,” tulis salah seorang ibu.

Tak sedikit pula yang mengucapkan terima kasih kepada Ketua Sie Komsos Pak Bambang Gunadi dan timnya. “Baru sekali ini ikut misa live streaming, jujur sangat terharu. Saya merasa seolah-olah saya duduk di tempat yang saya duduki saat misa di gereja,” tulis salah satunya sesudah menyapa Pak Bambang Gunadi.

“Om Totok (Pak Hari Kristanto, penanggung jawab tim audio-visual Sie Komsos, Red) dan tim, matur suwun ya sudah memfasilitasi kami semua. Luar biasa, sampe terharu, mbrebes mili pas misa. Suwun sanget atas semua jerih payahnya Komsos,” kata yang lain lagi.

Banyaknya unggahan di grup-grup WA yang dikutip di atas mengindikasikan bahwa kata-kata tak mampu mengungkapkan secara tuntas pengalaman iman, pengalaman rohani, pengalaman kerinduan untuk dekat dengan Tuhan atau apapun namanya. Teknologi membantu dengan emoji untuk mengekspresikan wajah sesuai suasana hati, tetapi juga tidak bisa utuh mengungkapkan pengalaman itu. Unggahan berikut ini mungkin bisa menggambarkan suasana itu:
“Dear Bp Gunadi Cs. Tidak bisa saya utarakan bagaimana perasaan yang berkecamuk dalam hati melihat pastor paroki kita di layar kaca memimpin misa. Beliau terlihat dekat sekali di ruang keluarga kami, tapi terasa jauuuhhh karena gak bisa berinteraksi, menyapa, bersalaman, bahkan bercengkerama seusai misa seperti di hari-hari Minggu yang lalu. Terima kasih dan penghargaan untuk tim Komsos yang pasti sudah bekerja keras mengusahakan ini semua. Salam sehat selalu dari kami sekeluarga,” tulis seorang ibu.

Unggahan sharing lewat WA di atas, meski cukup banyak, tak pernah bisa merepresentasikan pengalaman batin seluruh umat, apalagi sharing sangat ditentukan oleh latar belakang individual dan pengalaman masing-masing orang yang jumlahnya ribuan.
Pantauan Komsos atas medsos youtube pada saat berlangsungnya misa live streaming di Gereja Bernadet menunjukkan angka 2.015 watching now. Dengan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 3 orang dan 1 gadget yang mengakses, jumlah mereka yang mengikuti misa mencapai 3 kali lipat dari angka tersebut, meski kenyataannya bisa lebih dari itu. Kalaupun dalam satu keluarga lebih dari 1 gadget yang mengakses, jumlahnya masih bertengger di angka ribuan.

Tentu tidak semua peserta misa, karena berbagai alasan, mengunggah pengalaman batinnya lewat aplikasi WhatsApp. Ada yang bertanya, misalnya, “Bagaimana kolektenya?” Dan di grup WA lain muncul postingan: “Dear bapak ibu sekalian, jika ada yang ingin menyampaikan persembahan, dapat ditransfer ke rekening gereja: BCA a.n. PGDP Paroki Ciledug Gereja St. Bernadet no. 345 300 3902 dengan berita: kolekte misa Minggu.”

Sejumlah unggahan lain bernada mencairkan suasana (ice-breaking), misalnya yang berikut ini: “Untuk kalangan bangsawan misa di rumah dijamin gak telat. Ha-ha-ha.” Bangsawan adalah akronim dari plesetan satiris bahasa Jawa bangsane tangi awan atau orang-orang yang biasa bangun siang...
Kompilator teks WhatsApp: ps, Arum, BAW, Hari Kristanto, Maria/ Foto-foto: Walter Arya, berbagai grup WA