Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, Minggu 1 Maret 2020 merupakan Minggu Prapaskah yang pertama. Bacaan yang kita dengar dan renungkan tentang kejatuhan Adam dan Hawa karena memakan buah terlarang. Dan juga tentang Yesus dicobai oleh setan setelah berpuasa 40 hari lamanya.
“Setan itu begitu cerdik dan pintar memanfaatkan titik lemah manusia,” demikian Romo Markus Nurwidi Pranoto mengawali homili saat misa di Gereja Bernadet Paroki Ciledug, Minggu 1 Maret 2020 jam 08.30.

“Mari kita lihat Yesus yang sedang lapar setelah 40 hari berpuasa. Pertama-tama dicobai setan untuk mengubah batu menjadi roti, bukan menjadi barang lain. Karena saat lapar yang dibutuhkan adalah roti atau makanan. Itulah cerdik dan pintarnya setan. Setan itu saat ini juga pintar-pintar. Ada S1, S2, bahkan S3 tetapi S-nya semua ya setan,” gurau Romo Widi, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Romo Widi memaparkan bahwa dalam hidup manusia itu ada dua kekuatan yang saling mempengaruhi, yakni roh kebaikan dan roh kejahatan. Ada tiga cirikhas dari kekuatan roh kebaikan, yakni mengarahkan manusia kepada Tuhan, membawa kepada kehidupan dan teguh pada prinsip. Sedangkan ciri roh kejahatan adalah sebaliknya, mengarah kepada setan itu sendiri, membawa kematian atau binasa dan tidak berpendirian.

“Maka dalam hidup kita harus bisa mengenali roh apa yang sedang bekerja dalam diri saya dan di mana titik lemah saya. Untuk orang yang mudah marah dan tidak dapat mengontrol emosi setan akan masuk menyodorkan hal-hal yang kelihatannya menjengkelkan dan hal-hal semacam itu semakin sering ditemui. Berbeda dengan orang yang dapat mengendalikan diri, ya hari-harinya akan bertemu dengan hal-hal yang membahagiakan dan menyenangkan,” jelas Romo Widi.
Titik lemah masing-masing orang, jelasnya lagi, berbeda-beda. Ada yang titik lemahnya di perut sehingga ketika melihat makanan menjadi rakus. Ada yang titik lemahnya terhadap uang, kalau melihat uang langsung tergiur untuk mencari akal bagaimana mendapatkannya. Ada yang titik lemahnya di mata.

“Maka ketika kita mulai plin-plan, tidak teguh pada prinsip, nah setan sedang bekerja pada diri Anda,” ujar imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang yang bertugas sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Karya Misioner Konferensi Wali Gereja Indonesia ini.
“Maka di masa prapaskah ini, saatnyalah kita untuk mengikuti roh kebaikan yang akan menuntun kita kepada Tuhan dan dengan pendirian yang teguh kita dapat menolak bujukan setan. Seperti teladan Tuhan Yesus saat dicobai dengan tegas mengatakan, ‘Enyahlah engkau setan!’” kata Romo Widi.

Saling mendoakan
Sementara itu, dalam homili misa Minggu petangnya di Gereja Bernadet, Romo Yeremias Lakonawa, CICM, menekankan perlunya saling mendoakan dalam keluarga selama masa prapaskah ini, agar bisa bertahan terhadap pencobaan setan, suami mendoakan isteri dan sebaliknya, orangtua mendoakan anak dan sebaliknya.
Teks: Bambang Gunadi, ps/ Foto-foto: Jassen Novaris, Bambang Gunadi