Jangan Jadikan Puasa sebagai Kewajiban, melainkan Kesempatan untuk Bertobat

29 Februari 2020
  • Bagikan ke:
Jangan Jadikan Puasa sebagai Kewajiban, melainkan Kesempatan untuk Bertobat
Romo Kaitanus Saleky, CICM.

Dalam homili misa sesudah Ibadat Jalan Salib perdana di Gereja Bernadet Jumat kemarin, Romo Kaitanus Saleky, CICM, mengajak, hendaknya puasa tidak dijadikan sebagai kewajiban, melainkan kesempatan untuk perubahan atau pertobatan dalam masa prapaskah ini.

“Kalau berpuasa hanya dijadikan kewajiban, tidak ada gunanya, karena tujuan berpuasa adalah untuk melakukan perubahan atau pertobatan,” katanya.

arya3-ok

Frater Steve Ramli, CICM, mendampingi Romo Kaitanus.

Romo Kaitanus merujuk salah satu bacaan hari itu, Yes 58: 1-9a, ketika Nabi Yesaya mengkritik cara berpuasa orang-orang pada zamannya yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memedulikan hubungan baik dengan sesamanya.

Nabi Yesaya mengajak, dengan berpuasa melakukan perubahan diri dan “membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri”. Dengan kata lain, pertobatan berdimensi sosial.

Arya1-ok

Ibadat Jalan Salib perdana tahun 2020 di Gereja Bernadet Pinang.

Sarat renungan tentang keadilan

Ibadat Jalan Salib tahun 2020 di Gereja Pinang yang dipimpin dua Prodiakon, Pak Sukaryono dan Pak Remigius, menggunakan panduan buku berjudul Amalkan Pancasila, Kita Adil Bangsa Sejahtera terbitan Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta.

Buku ini merupakan salah satu dari banyak bahan Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2020 dan bisa diunduh di http://bit.ly/jalansalibumum2020. Bahan APP 2020 lainnya adalah Surat Gembala Prapaskah 2020 (termasuk videonya), Peraturan Pantang dan Puasa 2020, Buku Dokumen Abu Dhabi, Buku Pendalaman APP Lingkungan, Buku Jalan Salib Anak dan Remaja, dan masih banyak lagi.

jassen3-ok

Umat mengikuti Ibadat Jalan Salib perdana, Jumat (28/2). 

Seperti termaktub dalam kata pengantarnya, buku panduan jalan salib tersebut disusun sejalan dengan Arah Dasar (Ardas) KAJ 2016-2020 yang mengusung sila ke-5 sebagai inspirasi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi sesama.

Dalam buku tersebut, pada setiap Perhentian diberikan renungan atau ajakan untuk berefleksi tentang kenyataan keadilan sosial yang kita alami dan bagaimana harapan terhadap sikap dan peranan kita sebagai Gereja. Berikut ini adalah beberapa contoh cuplikan renungan yang diambil dari buku tersebut.

arya2-ok

Salah satu Perhentian dalam Jalan Salib.

Renungan pada Perhentian I, Yesus Dijatuhi Hukuman Mati: Kata adil berarti tidak berat sebelah, berpihak pada yang benar, tidak sewenang-wenang. Masih banyak lembaga peradilan di negeri kita yang tidak mampu memberikan keadilan. Keputusan hukum terkadang masih tunduk pada desakan mayoritas atau kalangan tertentu; hukum tumpul ke atas tajam ke bawah. Sanggupkah Gereja menciptakan keadilan hukum demi terwujudnya kesejahteraan bersama?

Renungan pada Perhentian II, Yesus Memanggul Salib: Banyak terjadi perusakan tempat ibadah oleh sekelompok orang, pembubaran peribadatan suatu agama, proses perizinan pendirian tempat ibadah yang rumit dan berbagai peraturan-peraturan daerah yang berkaitan dengan agama di Indonesia. Bagaimanapun juga Gereja tetap harus bertahan pada imannya.

jassen4-ok

Jalan Salib tahun terakhir Ardas 2016-2020 KAJ. 

Renungan pada Perhentian VIII, Yesus Menghibur Para Wanita yang Menangis: Untuk menunjukkan solidaritas Gereja dengan masyarakat maka kita perlu refleksi bersama: melihat dan menata kembali jalinan komunikasi yang inklusif, membentuk pribadi yang peduli pada sesama dan lingkungan, mengembangkan usaha yang mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kesadaran Pancasila sebagai rumah kita bersama.

Renungan pada Perhentian XII, Yesus Wafat di Salib: Yesus menuntaskan tugas perutusan dari Bapa-Nya dengan tergantung di kayu salib. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita aktif terlibat dan berpartisipasi dalam tugas perutusan kita sebagai anggota Gereja?

Setiap renungan, seperti tahun-tahun sebelumnya, diikuti dengan doa yang menunjukkan bahwa mewujudkan keadilan sosial bagi sesama tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan manusia semata melainkan juga pertolongan Allah.  Semoga membantu untuk melakukan pembaruan.

Tugas koor Wilayah Thomas, dibantu beberapa orang wilayah lain.

Teks: ps/ Foto-foto: Walter Arya, Jassen Novaris/ Video: Bambang Gunadi

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna