Tim penata ibadat Senin malam kemarin membakar daun-daun palma kering yang abunya dipersiapkan untuk 5 lokasi Misa Rabu Abu di Paroki Ciledug, yaitu Balai Metro Permata, Gereja Pinang, Sekolah Sang Timur, Sekolah Amore, dan Sekolah Abdi Siswa.

Tim tersebut terdiri dari Bu Yosephine Sularni, Pak Damianus Triyono, Pak Fransiscus Ahmad Sunaryo, dan Pak Yulius Tugiyo yang kita kenal akrab sebagai Pak Yus. Mereka mulai mempersiapkan pembakaran daun palma kering itu sekitar pukul 18.15 di samping ruang PPRI.

Kecuali mengeluarkan palma kering dari kantong-kantong plastik, mereka juga harus lebih dulu melepas karet-karet yang mengikat daun-daun palma itu. Juga daun palma basah (hijau) yang terselip di antara yang sudah kering itu harus dipisahkan.

Menurut Pak Yus setiap tahun selipan palma basah itu selalu ada. “Mungkin ada umat yang tidak mengerti palma yang dikumpulkan,” katanya sambil tersenyum.

Kira-kira pukul 18.45 pembakaran dimulai dengan didahului doa berikut ini: Bapa yang di surga, kami mengucap syukur atas daun-daun palma yang akan dibakar ini, semoga membawa kedamaian selama misa prapaskah. Amin.

Pembakaran baru selesai pukul 19.15 kemudian ditunggu sekitar seperempat jam sampai dingin. Sesudah itu dilakukan pengayakan abu hasil pembakaran daun palma tersebut. Karena gerimis, proses pengayakan dipindah ke dekat pintu samping gereja.

Abu hasil pengayakan itu lalu dimasukkan ke kotak-kotak yang akan dibagikan ke 5 lokasi misa seperti disebutkan di atas, yang baru selesai sekitar pukul 20.15.

Begitulah proses persiapan abu yang akan digunakan untuk Misa Rabu Abu besok, Rabu 26 Februari 2020. Selamat memasuki masa prapaskah.
Teks: Ruli, ps/ Foto-foto: Ruli