Suasana khidmad Misa Syukur HUT ke-30 Gereja Bernadet mendadak cair ketika Uskup Ignatius Kardinal Suharyo, sebelum berkat, tiba-tiba mengatakan, “Ibu bapak, Romo Derikson ingin menyanyi.” Seperti agak terkejut karena namanya disebut, Romo Derik tertawa lebar. Romo Lamma juga, sementara Bapak Uskup tersenyum-senyum. Tawa umat mulai gemuruh.
“Lagunya apa, Romo?” tanya Uskup Suharyo sambil menoleh ke Romo Derik yang duduk di sebelahnya dan dijawabnya sendiri, “Hidup Ini Adalah Kesempatan.”
Tak bisa menolak, Romo Derik pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju mimbar sambil tertawa. Berdiri di belakang mimbar, Romo Derik mengatakan. “Saya dikerjain Bapak Uskup…” Mendengar kata-kata itu, umat tak bisa menahan tawanya. Lalu Romo Derik menyanyikan lagu Hidup Ini Adalah Kesempatan sambil kerap kali melempar tawa. Tanpa dikomando umat langsung mengikutinya.

Seisi gereja dibuat tergelak lagi karena usai bernyanyi Romo Derik berkata sambil menoleh ke Bapak Uskup, “Sebenarnya tadi Bapak Uskup yang ingin menyanyi...” Lalu dengan nada mengajak Romo Derik menambahkan, “Mari, Bapak Uskup…”
Bapak Uskup tangkas menjawab sambil tersenyum, “Saya bisa menyanyi kalau bersama umat.” Umat tertawa. Tetapi tawa umat lebih keras lagi ketika Bapak Uskup menambahkan sambil menoleh ke Romo Lamma, “Kalau Romo Lamma ini bisa menyanyi Tuhan Kasihanilah Kami dan Mazmur Tanggapan…”
Gagal mengajak Bapak Uskup menyanyi, akhirnya Romo Derik, Pastor Paroki Ciledug 2004-2010, menyanyikan lagi sebuah lagu Batak, Alusi Au, diikuti umat.
Ternyata para gembala kita piawai juga menciptakan suasana yang sangat entertaining... Sebuah hadiah ulang tahun yang tidak mudah dilupakan.
Teks: ps/ Foto-foto: Walter Arya/ Video: Kevin Meydio Pradipta