Lomba senam, dance competition, dengan lagu pilihan Salah Apa Aku, untuk memeriahkan HUT ke-30 Gereja St Bernadet sungguh meriah. Rada bising tapi menarik.
Itu hanya salah satu cara agar Gereja Santa Bernadet bisa lebih hadir di tengah-tengah masyarakat, hidup bersama mereka. Mengajak berkompetisi tanpa melihat siapa kami dan siapa mereka, tetapi kita sebagai sesama warga.
"Sangat senang mengikuti lomba ini, bahkan sangat mau kalau diundang ke gereja ini lagi,” kata Sania dari Sanggar Lumintu yang ikut lomba itu dan mengaku baru sekali itu masuk gereja.
“Gereja ini adem, indah, dan sejuk banget,” kata Sania.

Mendengar ungkapan itu membersitkan keinginan untuk membawa tim tersebut ke lantai atas. Sambil terus berdecak kagum salah satu dari mereka berucap, "Wah ini seperti di India, ya?" Rupanya kesan itu muncul karena ada karpet merah, lampu, dan bunga-bunga.
Komentar itu memancing senyum dan ingin rasanya terus bercerita kepada anak-anak itu. Kami katakan kepada mereka, kapan saja mereka mau berkunjung, pintu gereja terbuka lebar.
Terbayang ke depan beberapa agenda untuk mengundang anak-anak lintas segalanya untuk hadir ke gereja kita.
Perkenalan dengan Sanggar Lumintu tak terduga-duga. Pada saat lomba, ada sebuah kelompok yang tampil unik. Usai penampilan itu, suara seorang ibu muda tiba-tiba memperkenalkan diri. Agak mengejutkan. Namanya Aulia, dari Komunitas Lumintu, yang mengasuh anak-anak yang tampil unik itu.

Mbak Aulia datang bersama anak-anak itu dan ayahnya, Pak Slamet Riyadi.
Bukan hanya Komunitas Lumintu ternyata yang dididirikan Pak Slamet Riyadi. Sudah lama ia berkiprah di bidang karya sosial, yaitu pemberdayaan lansia dan difabel aktif yang memilih bidang kerajinan berbasis sampah plastik. Sudah berlangsung 20 tahun.
Karena itu banyak macam hasil kerajinannya dibawa untuk diperlihatkan dan dijual di area lomba senam. Alhasil beberapa umat yang tertarik membeli produk tas berbagai ukuran dari bahan-bahan daur ulang itu.

Pak Slamet mengaku sangat bahagia dan senang bisa hadir. Ia bahkan menawarkan kerja sama dengan pihak Gereja untuk memberi pelatihan pengolahan sampah.
Pengalamannya mondar-mandir di berbagai gereja dan klenteng begitu menyemangatinya. Ia bilang, "Sampah merupakan saranan kerukunan umat beragama."
Rupanya selalu ada kado termanis saat ulang tahun. Salah satunya bisa kenal Komunitas Lumintu yang ternyata tetangga dekat gereja kita, yaitu di Jl KH Hasyim Ashari Pinang. Ah, tapi kenapa baru kenal sekarang?
Teks: Arum/ Foto-foto: Bambang Gunadi, Arum