Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Kongregasi CICM yang selama 30 tahun telah mengirim imam-imamnya untuk melayani umat Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet.

Ucapan terima kasih tersebut disampaikan Uskup Suharyo dalam Misa Syukur HUT ke-30 Gereja Santa Bernadet, Minggu (16/2), di gereja pusat paroki, kawasan Sudimara-Pinang, Kota Tangerang.

Selaku konselebran utama, Bapak Uskup didampingi Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dan Romo Derikson A Turnip, CICM, Pastor Paroki Ciledug 2004-2010. Juga hadir membaur di antara umat Romo Wisnu, CICM.

Paroki Ciledug diresmikan berdirinya oleh Bapak Uskup Mgr Leo Soekoto, SJ, pada 11 Februari 1990, berdasarkan SK No 236A/3.25.2/90 sebagai Paroki ke-41 di Keuskupan Agung Jakarta.

Pastor Kepala Paroki Ciledug yang pertama adalah Romo Ludo Reekmans, CICM, kurun 1990-1995. Sesudah itu para pastor dari Kongregasi CICM melayani paroki ini sampai sekarang, kecuali untuk tahun 2000-2001 dengan pastor paroki seorang imam Diosesan, Romo FX Pranataseputra, Pr.




Yang bertugas koor pada hari itu adalah paduan suara Bahana de Loyola yang didukung oleh gabungan pemazmur dan peserta pesparani, baik OMK, wanita dewasa, maupun gregorian pria dewasa.
Sementara itu dalam kotbahnya, Uskup Suharyo menyampaikan pesan yang menjadi semacam harapan dan doa.




“Semoga dengan merayakan ulang tahun ke-30 sambil bersyukur dan saling mengucapkan terima kasih satu sama lain, kita di sini hari demi hari bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang semakin berhikmat, dan pilihan-plihan kita dapat kita persembahkan kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi semakin banyak orang,” katanya.

Sebelumnya Uskup Suharyo menjelaskan hubungan antara mendengarkan Sabda (Bahagia), berhikmat, dan pilihan yang baik dan benar berdasarkan ketiga bacaan misa hari itu, Kitab Sirah, 1 Kor, dan Injil Mateus.

Jika orang mendengarkan Sabda (Bahagia), ia akan menjadi berhikmat, jika orang berhikmat ia bisa membuat pilihan-pilihan yang baik dan benar, sehingga menjadi pribadi yang semakin kristiani, semakin suci.

Doktor Teologi Kitab Suci lulusan Universitas Urbaniana, Roma, Italia, itu memberi penjelasan lebih lanjut dengan contoh-contoh sederhana seperti pernah disampaikan Paus Fransiskus: mengunci mulut ketika orang membicarakan kejelekan orang lain, bersedia mendengarkan orang lain meskipun lelah, ketika ingat kesucian Bunda Maria berdoa Rosario, menyapa orang lain dengan kata-kata bersahabat, dan seterusnya.

Pilihan-pilihan yang muncul karena behikmat, kata Bapak Uskup, dilakukan begitu saja, tanpa pikir panjang. “Membuat pilihan-pilihan yang baik dan benar, bukan asal gampang dan menyenangkan,” ujarnya setiap kali. Pilihan yang baik dan benar selalu merupakan satu tahap lebih lanjut menuju kesucian hidup.

Sebelum berkat, Bapak Uskup mendaulat Romo Derikson untuk menyanyikan lagu Hidup Ini Adalah Kesempatan yang diikuti oleh seluruh umat sehingga suasana menjadi cair .
Teks: ps/ Foto-foto: Carolus Wahyuntoro Aji, Rafaela Chandra, Walter Arya