Romo Noel, Misionaris Religius yang Sabar, Setia, Sederhana, dan Rendah Hati

11 Februari 2020
  • Bagikan ke:
Romo Noel, Misionaris Religius yang Sabar, Setia, Sederhana, dan Rendah Hati
Romo Manuel V Valencia, CICM, berpulang 4 Februari 2020.

Romo Noel adalah seorang pribadi yang sabar, setia, sederhana, dan rendah hati. Demikian terungkap dalam beberapa kesaksian pada misa konselebrasi tujuh hari berpulangnya Pastor Rekan Paroki Ciledug itu di Gereja St Bernadet Pinang, Senin malam kemarin.

Selaku konselebran utama, Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dalam misa itu didampingi lima imam dari Kongregasi CICM, yaitu Romo Kaitanus Saleky, Romo Yeremias, Romo Daniel Wisnu Bintoro, Romo Ananias Dundu, dan Romo Yosef.

Misa Konselebrasi

Misa konselebrasi oleh para imam Tarekat CICM. 

Misa lebih dari 2 jam itu didahului dengan pembacaan riwayat hidup Romo Noel oleh Ketua Seksi Komsos Paroki Ciledug Pak Bambang Gunadi disertai pemutaran video foto yang menggambarkan potongan-potongan karya pelayanan Romo Noel di berbagai pelosok Indonesia sejak masih berusia muda sampai pelayanannya di Paroki Ciledug. Menyusul kemudian arak-arakan para imam dan petugas liturgi, termasuk 51 prodiakon dengan jubah Prodiakonnya, dari lantai bawah menuju lantai atas.

Umat lantai atas_1

Umat dalam misa requiem untuk Romo Noel, Senin.

Pada pembukaan misa, Romo Lamma mengucapkan terima kasih atas kesediaan umat meluangkan waktu untuk mengikuti misa. “Kepergian Romo Noel yang kita kasihi adalah kedukaan, tetapi sekaligus juga memperteguh bagian iman kita, yaitu bersatu kembali dengan Sang Pencipta,” katanya.

Umat lantai bawah

Kehadiran umat bukti cinta mereka kepada Romo Noel. 

Peserta misa memadati lantai atas dan lantai bawah yang oleh beberapa orang dikatakan sebagai bukti bahwa Romo Noel dincintai umatnya.

Sulit dipahami

Ketika tiba waktu homili, Pak Bambang Hermanto, anggota DPH yang saat itu juga melaksanakan tugas sebagai prodiakon, diberi kesempatan maju ke mimbar untuk memberikan kesaksiannya.

Pertama-tama Pak Bambang menceritakan bagaimana ia menemani perjalanan Romo Lamma dari Jakarta menuju sebuah rumah sakit yang merawat Romo Noel di Kota Baguio, Filipina. Tidak hanya jauh tetapi juga tidak mudah. Empat setengah jam naik pesawat, lima jam naik bus, dan berjalan kaki melewati bukit terjal yang membuatnya ngosngosan.

Pak Bambang

Pak Bambang Hermanto memberikan kesaksiannya.

“Romo Lamma dan saya belum tahu waktu itu apa sebenarnya penyakit Romo Noel, sehingga yang ada dalam hati kami hanyalah ingin segera bertemu Romo Noel,” katanya.

Ketika Romo Lamma dan Pak Bambang tiba di rumah sakit itu dan bisa menemui Romo Noel, Romo Noel sangat terkejut. Rencana kedatangan itu memang tidak diberitahukan sebelumnya.

Romo Lamm-pakai-jassen

Romo Lamma dan foto pastor rekan, almarhum Romo Noel.

Pak Bambang merasa sulit memahami keadaan Romo Noel. Dengan nada suara meninggi karena emosi sedih, antara lain ia mengatakan, “Kok jadi begini? Tinggal kulit dan tulang…”

Pak Bambang sempat memijit dan mengelus tangan dan kaki Romo Noel. Tetapi setiap kali diajak bicara nafas Romo Noel menjadi berat setelah mengucapkan satu dua kata. “Bagaimana ini? Mengapa Romo Noel mengalami penderitaan yang begitu berat?” katanya lagi.

Romo Wisnu

Romo Wisnu, CICM.

Ingin membawa pulang

Sesudah berbicara dengan Romo Lamma, terbersit keinginan untuk membawa pulang Romo Noel ke Jakarta. Tetapi setelah berkonsultasi dengan dokter di sana, hal itu tidak mungkin. Dokter sudah angkat tangan dengan penyakit yang menggerogoti Romo Noel, kanker paru dan kanker tulang yang sudah stadium 4.

Prodiakon

Sebanyak 51 prodiakon hadir untuk Romo Noel.

“Kalaupun di sini dikemo, dia hanya akan bisa bertahan hidup dua bulan,” kata Pak Bambang menirukan penjelasan dokter tersebut dengan muka sedih.

Pak Bambang tak kuasa lagi membendung air mata ketika mengakhiri kesaksiannya dengan mengatakan, “Selamat jalan, Romo Opa Noel,” sambil meninggalkan mimbar.

Misionaris religius yang bahagia

Dalam kesaksiannya sebagai sesama imam CICM, Romo Kaitanus mengatakan bahwa Romo Noel adalah sosok misionaris religius yang sabar. Merujuk kesaksian Pak Bambang yang secara manusiawi sulit memahami penderitaan berat Romo Noel, Romo Kaitanus meyakini bahwa Romo Noel bisa menerima semuanya itu dengan sabar.

Romo Kaitanus Salek CICM

Romo Kaitanus Saleky, sesama imam Tarekat CICM.

“Romo Noel adalah seorang misionaris religius yang taat, tidak menolak ditugaskan ke mana pun oleh pimpinan kongregasi. Ia menerima tugas dengan sabar dan menjalaninya dengan bahagia,” katanya lagi. Ditugaskan di pelosok-pelosok yang sulit, Romo Noel tidak pernah menolak dan mengeluh. “Romo Noel adalah misionaris religius yang taat dan setia,” imbuhnya.

Pada bagian lain Romo Kaitanus mengungkapkan bahwa Romo Noel adalah orang yang sederhana. Karena sederhanya itu, orang sering mengira dia bukan pastor. Ketika datang pertama kali ke Gereja Kristus Salvator Pejompongan, oleh seorang umat dikira pegawai baru pastoran.

Koor pemazm

Koor Pemazmur Santa Bernadet melayani misa requiem.

Romo Noel juga pernah dikira sopir oleh seorang suster ketika mengantar teman sesama pastor CICM. “Ketika temannya masuk ke susteran, Romo Noel di luar merokok. Karena mengiranya sopir, seorang suster meminta Romo Noel mengangkat barang, ya dia angkat…” kata Romo Kaitanus membuat umat tergelak. “Tetapi bagi Romo Noel semuanya itu bukan masalah, karena dia orang yang rendah hati,” imbuhnya.

Ari sugia

Kepadatan umat di lantai atas dalam misa reqiem.

Romo Noel adalah orang yang menjalani panggilan imamatnya dengan setia. Dalam suatu sharing sesama pastor CICM, Romo Noel pernah menceritakan betapa beratnya sebagai anak sulung laki-laki menjadi pastor karena ia mempunyai tanggung jawab untuk adik-adiknya.

Sigit Tarki

Para prodiakon menjelang misa dengan foto Romo Noel.

Pernah suatu ketika terbersit pikiran untuk keluar dari tarekat CICM dan hidup sebagai awam demi tanggung jawab keluarga tersebut. Romo Noel menyampaikannya kepada sang ayah. “Kalau kamu bahagia dengan pilihan hidupmu sebagai imam, saya sebagai orangtua ikut bahagia. Kalau kamu tidak bahagia dengan menjadi imam, keluarga akan menerimamu dengan tangan terbuka. Tapi kalau kamu sudah memilih untuk menjadi imam dan bahagia menjalaninya, jangan lagi menengok ke belakang,” jawab sang ayah.

“Kata-kata ayahnya itu menjadi kekuatan Romo Noel dalam menjalani panggilan hidup sebagai imam dengan setia,” kata Romo Kaitanus menutup kenangan sharing-nya.  

Prodiadkon-antr

Para prodiakon dengan tertib menunggu dimulainya prosesi.

Kita disadarkan

Atas nama Pengurus Dewan Paroki Ciledug, Bp Ari Sugiya menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya misa requiem untuk Romo Noel, pertama-tama kepada para konselebran, imam-imam CICM, para petugas liturgi, seperti koor dan khususnya 51 orang prodiakon yang biasa melayani Romo Noel.

Secara khusus ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Seksi Komsos yang dengan berbagai cara telah mempermudah umat mengenang Romo Noel, Seksi Liturgi yang dengan cepat mengelola pelaksanaan misa requiem, komunitas EJ yang dengan cekatan menjaga tata tertib ibadat, para koster dan juga petugas keamanan.

Pak Ari_1

Pak Ari Sugiya mewakili Pengurus Dewan Paroki.

Romo Noel, kata Pak Ari, telah menunjukkan nilai-nilai keteladanan seperti hormat dan cinta kepada orangtua, kesetiaan, ketaatan, dan kerendah-hatian. Dalam usia 73 tahun, Romo Noel masih setia melayani umat. Memberikan ilustrasi betapa Romo Noel adalah pribadi yang rendah hati, Pak Ari mengatakan, ketika banyak orang ingin dicium tangannya saat bersalaman, Romo Noel justru mencium tangan orang lebih dahulu.

Dalam pelayanannya Romo Noel justru sering dikeluhkan oleh banyak umat. Tetapi, kata Pak Ari, dengan kepergian Romo Noel, nilai-nilai hidup yang dipegangnya justru menyadarkan kita tentang perlunya kesetiaan dan kesabaran, misalnya dalam mengikuti misa kudus.

Romo Dundu

Romo Ananias Dundu mewakili Tarekat CICM.

Syukur atas Rahmat Tuhan

Sementara itu Romo Dundu yang berbicara atas nama Tarekat CICM mengajak bersyukur atas rahmat Tuhan lewat Romo Noel yang selama 4 tahun berkarya di Paroki Ciledug. “Atas nama Tarekat CICM, saya mengucapkan terima kasih atas misa requiem untuk 7 hari berpulangnya Romo Noel. Terima kasih atas perhatian umat Paroki Ciledug,” katanya.

Senior yang rendah hati

Sebelum berkat akhir, Romo Lamma masih menambahkan bahwa di tengah sakitnya Romo Noel masih memikirkan umat Paroki Ciledug.

Membuat semacam kilas balik, Romo Lamma menceritakan, November Romo Noel memberi tahu dari Filipina bahwa kondisi kesehatannya kurang baik. Desember ia mengatakan tidak akan kembali lagi ke Indonesia karena kondisi kesehatannya. Romo Noel masih menanyakan rencana HUT Paroki. Ia semakin mencintai parokinya.meneka air mata

Menyeka air mata karena terharu dalam misa untuk Romo Noel.

Di pastoran, Romo Noel selalu bangun lebih pagi, jam 04.30. Sebagai senior Romo Noel selalu bertanya, tugas misa di mana. “Senior minta tugas kepada yunior, itu bentuk kerendahan hati,” kata Romo Lamma.

Maafkanlah kami, Romo Noel, doakankan kami yang masih mengembara di dunia ini.

Teks: ps/ Foto-foto: Walter Arya, Jassen Novaris, A Sigit, Ari Sugiya, ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna