Setidaknya dalam dekorasi, HUT ke-30 Gereja Santa Bernadet mengangkat budaya Betawi. Sekitar 50 orang anggota tim dekorasi wilayah Ignatius Loyola Minggu malam (9/2) sampai pergantian hari sibuk mengerjakan dekorasi HUT tersebut di lantai bawah.
Tim tersebut dikomandani langsung Korwil Tommy Pratama dan Thomas Suraya, dibantu Jo Daran, serta didukung seluruh pengurus wilayah. Sementara untuk gereja lantai atas dekorasi akan dikerjakan oleh tim dekorasi paroki.

Hadir juga anggota DPH Pak Pristi Wahyudono, mantan Korwil Loyola, yang lebih banyak mengantisipasi persiapan stage untuk malam hiburan HUT, dan para ibu-ibu.

Kecuali mengubah penampilan background altar di lantai bawah, mereka juga membuat pernak-pernik ornamental khas budaya Betawi seperti aneka kembang kelapa dari kertas dan gigi belalang yang juga dikenal sebagai “gigi balang”.

Menurut Pak Thomas Suraya, “Bunga kelapa (manggar) itu melambangkan kemakmuran, sehingga dari nuansa (dekoratif) Betawi ini Gereja Bernadet ingin hadir memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat dan warga sekitar.” Kembang kelapa juga simbol dari kehidupan manusia yang bermanfaat sebagaimana manfaat pohon kelapa.
Bunga kelapa juga merupakan simbol sifat keterbukaan masyarakat dalam pergaulan sehari-hari., sebagai simbol tatawarna (multikultur) kebudayaan yang hidup dan berkembang di Kota Jakarta.

Dalam obrolan santai semalam Pak Pristi mengatakan, “rasa Betawi” itu akan lebih kuat kalau ada sepeda onta, vespa kuno, atau oplet seperti dalam serial sinetron Si Doel Anak Sekolahan. “Kalau sewa mahal,” katanya. Ia berharap bisa menghadirkan salah satu di antaranya, misalnya vespa lama.
Di lantai bawah gereja Bernadet, umat bakal menyaksikan dekorasi rumah adat Betawi, yaitu Rumah Bapang atau yang juga sering disebut Rumah Kabaya.

Sumber-sumber tertulis tentang kebudayaan Betawi menyebutkan bahwa rumah dengan arsitektur Betawi itu dilengkapi dengan ornamen-ornamen khas. Tetapi ornamen-ornamen itu bukan sekadar hiasan rumah melainkan memiliki filosofi dalam kehidupan orang Betawi.

Salah satu ornamen khas Betawi adalah gigi belalang atau gigi balang. Gigi belalang biasanya terdapat pada listplang rumah orang Betawi. Di gereja lantai atas umat bisa melihat listplang gigi belalang di atas panti imam.

Ornamen gigi balang terbuat dari kayu berbentuk segitiga dan bulatan. Ornamen ini dibuat berjajar menyerupai gigi belalang.

Sumber-sumber tertulis tersebut menyebutkan, makna simbolis ornamen gigi belalang adalah hidup harus selalu jujur, rajin, ulet, dan sabar, karena belalang hanya bisa mematahkan kayu jika melakukannya secara terus-menerus dengan giginya dan biasanya dalam jangka waktu lama. Secara keseluruhan itu berarti pertahanan yang kuat dan keberanian.

Itulah prinsip hidup orang Betawi asli yang tercermin secara simbolis dalam ornamen gigi belalang. Semoga menjadi inspirasi bagi perjuangan Umat Gereja Bernadet yang sebentar lagi merayakan ulang tahun ke-30.
Teks: Hari Kristanto, ps, berbagai sumber/ Foto-foto: Hari Kristanto