Pada hari Rabu, 5 Februari 2020, di Gereja Santa Bernadet, Uskup Agung KAJ Ignatius Kardinal Suharyo menerimakan Sakramen Krisma kepada 56 anak siswa-siswi SKh Sang Timur, SLB Tri Asih, 1 anak dari Paroki MKK, 2 dari Paroki Ciledug, dan 2 dari Paroki Alam Sutera.

Penerimaan Sakramen Krisma tersebut berlangsung dalam misa konselebrasi dengan Uskup Agung Ignatius Suharyo sebagai konselebran utama, didampingi Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dan Romo Kanis, CICM.

Penyerahan anak-anak berkarunia khusus kepada Bapak Uskup dilakukan oleh Wakil Ketua DPH Paroki Ciledug Bp Aritasius Sugiya. “Kami menghantar 56 putra-putri kami yang berkarunia khusus untuk menerima Sakramen Krisma yang sungguh dirindukan oleh putra-putri kami bersama keluarganya,” kata Pak Ari, sapaan akrabnya.

Dalam homilinya, Bapak Uskup menyampaikan pesan bahwa setiap pribadi diciptakan dengan kasih Allah. Bapak Kardinal juga menyatakan terkesan dengan kata-kata penyerahan anak-anak berkarunia khusus oleh Wakil Ketua DPH, khususnya kata-kata “Putra-putri kami yang berkarunia khusus”.
Menurut Bapak Uskup, karunia khusus itu bukan dalam arti kesempurnaan fisik ataupun skill tertentu, tetapi lebih mendasar, bahwa mereka itu berkarunia.

“Homili saya tidak sebanding dengan pengorbanan bapak-ibu yang luar biasa sebagai orangtua anak berkarunia khusus. Anak-anak ini adalah anak-anak yang tidak bisa berdosa, anak-anak yang polos yang sepenuhnya menggantungkan harapan dan hidupnya pada Allah melalui orangtua dan keluarga tercinta beserta orang-orang di sekitarnya.”

Namun Bapak Uskup juga mengingatkan bahwa sikap yang mengandalkan kemampuan sendiri membuat kita terjebak pada kesombongan dan kepongahan dan mmbuat kita jauh dari Allah dan membuat hidup kita jauh dari damai sejahtera.
Ketika Bapak Uskup memberikan homili, suaranya yang teduh membuat suasana Gereja Bernadet hening. Beberapa orangtua, juga guru-guru, sempat meneteskan air mata dan menyekanya dengan tisu atau setidaknya berkaca-kaca ketika mendengarkan homili Bapak Uskup menekankan “anak-anak berkarunia khusus”, bukan “anak-anak berkebutuhan khusus”.

Seorang ibu dari salah satu anak-anak itu mengaku, “Saya tadi tersentuh sekali ketika dikatakan bahwa anak-anak itu adalah anak-anak Tuhan yang berkarunia khusus. Anak berkarunia khusus berarti anak-anak Tuhan yang membutuhkan cinta kasih dari orang-orang di sekitarnya. Biasanya selama ini yang selalu kita dengar adalah anak spesial atau anak berkebutuhan khusus.”

Bahkan seorang bapak yang untuk pertama kalinya mendengar homili Bapak Uskup, mengaku sungguh tersentuh hatinya dengan kata-kata “anak berkarunia khusus”, sehingga tak terasa air matanya pun meleleh di pipinya. “Terasa melayang dan nggak napak,” kata istrinya melukiskan bagaimana reaksi sang suami.

Sementara itu penata ibadat, Pak Triyono, memberikan kesaksiannya. “Wah… waktu gladi bersih anak-anak kacau… Susah diatur. Ada anak yang menjambak rambut ibunya sambil njerit-njerit nggak jelas. Lalu saya lerai. Saya bawa anak itu keluar dari gereja. Sepele sekali, saya petikkan rambutan langsung diam… Tapi waktu mengikuti misa Bapak Uskup kemarin semua anak bisa diam tertib. Luar biasa aura Bapak Uskup,” katanya, Kamis lalu.

Pada misa Penerimaan Sakramen Krisma tersebut petugas liturgi seperti koor, pemazmur, dan 4 misdinar yang terdiri dari guru-guru SLB Tri Asih. Guru dan staf sekolah itu juga hadir semua.

Undangan yang hadir adalah Bp T Sumarji, Ketua Pengurus Yayasan Tri Asih, Sr Vera PIJ, Sr Agusta PIJ, Sr Asumpta PIJ, dan Sr Rosa PIJ.
Teks: Angela Tatiana Widyawati, Arum Pranastuti, ps/ Foto-foto: Carolus Wahyuntoro Aji, Walter Arya.