“Perayaan Tahun Baru adalah penanda berakhirnya satu masa dan dimulainya masa yang baru. Di Indonesia ini kita mengenal beberapa peringatan atau perayaan tahun baru. Ada tahun baru Hijriah untuk saudara-saudari kita umat Muslim. Ada yang umum kita lakukan bersama-sama tahun baru Masehi. Nah hari ini kita merayakan Tahun Baru Imlek sesuai tradisi saudara-saudari kita Tionghoa atau etnis China.”

Demikian disampaikan Romo Lamma Sihombing, CICM, saat Misa Syukur peringatan Tahun Baru Imlek 2571 di Gereja St Bernadet Pinang, Sabtu 25 Januari 2020, Jam 07.00. Misa dihadiri sekitar 400-an orang dengan dominasi pakaian warna merah. Umat yang hadir bukan saja dari saudara-saudari kita Tionghoa tapi juga umat yang lain.

Lebih lanjut Romo Lamma mengungkapkan, perayaan tahun baru Imlek bukanlah perayaan keagamaan melainkan perayaan tradisi Tionghoa. “Maka Gereja terbuka untuk ikut juga merayakan sebagai ungkapan syukur. Karena sejatinya perayaan tahun baru adalah ungkapan syukur atas tahun yang sudah kita lewati, baik suka maupun duka yang sudah kita jalani. Dan seraya memohon agar tahun yang akan datang yang akan kita jalani membawa kelimpahan berkat, baik kesehatan maupun kesejahteraan.

Romo Lamma menambahkan, hari itu bertepatan dengan Gereja merayakan pesta pertobatan Santo Paulus, yang kisahnya didengar dari bacaan Injil. Bagaimana St Paulus yang dulunya menganiaya para pengikut Kristus dan menghambat pengajaran Kabar Gembira berbalik 180 derajat bertobat menjadi pengikut Kristus dan menjadi pewarta Kabar Sukacita dengan penuh semangat.

Menurut Romo Lamma, kisah tersebut mengingatkan orang akan sosok Presiden Republik Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Di era pemerintahan Gus Durlah kebebasan untuk merayakan hari raya tahun baru Imlek dibuka seluas-luasnya. Hal ini berbeda 180 derajat dengan masa-masa sebelumnya di mana perayaan tahun baru Imlek dibatasi.

Suasana Imlek begitu terasa ketika kita memasuki pintu masuk gereja berkat dekorasi yang sebagian disiapkan oleh Wilayah St Yohanes yang mendapat giliran membuat dekorasi sebagai peserta terakhir lomba dekorasi altar. Aneka lampion juga terpasang di berbagai sudut. Hiasan bunga berwarna merah dan aneka aksesori menambah kuat suasana Imlek di Gereja Pinang.
Romo Lamma pun dibuat kagum saat prolog dibawakan oleh Lektor dengan bahasa Mandarin yang fasih dan lancar. “Tadi itu saat mendengar prolog dalam bahasa Mandarin yang lancar, rasanya kita tidak sedang berada di Ciledug. Tapi itulah kekayaan yang kita miliki. Kita bersyukur dengan beraneka budaya dan tradisi masing-masing tetapi kita tetap hidup rukun,” harapnya.

Kemeriahan perayaan tahun baru Imlek ini dipersiapkan oleh Wilayah Fabiola. Koor dengan nuansa Mandarin yang apik mengiringi misa pagi itu dengan dirigen Ibu Arum Pranastuti.

Kebahagiaan umatpun terasa ketika diumumkan untuk anak-anak yang hadir misa pagi itu akan dibagikan angpo dan kepada seluruh umat yang hadir akan diberikan bingkisan berupa jeruk dan kue kranjang. Dan setelah misa umat diajak beramah-tamah di tenda bawah menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia. Dan mereka yang bersio tikus akan mendapat hadiah khusus.

Yang menarik dari kemeriahan acara ini adalah ketika Romo Lamma meminta perwakialan panitia untuk maju ke mimbar untuk menyampaikan sesuatu. Ternyata tidak ada satupun yang mau maju. Semua kompak menjawab, “Tidak ada panitianya, Romo. Semua kita siapkan bersama-sama..."
7
“Karena tidak ada yang mau, kalau begitu panitianya Romo, ya?” kata Romo Lamma. Kemudian Romo Lamma secara kusus berteri makasih kepada Wilayah Fabiola yang telah mempersiapkan misa dan segala-galanya pagi hari itu, sehingga kita semua dapat merasakan kebahagiaan.
Selamat memasuki tahun yang baru. Semoga berkat Tuhan melimpah bagi kita semua.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto: Jassen Novaris, Kevin Meydio/ Video: Jassen Novaris/KOMSOS