Romo Lammarudut Sihombing, CICM, di akhir homili Misa Malam Akhir Tahun 2019 di Gereja Santa Bernadet Ciledug, Selasa (31/12), membacakan sepenggal puisi. Entah apa judulnya, isi puisi itu tentang persahabatan abadi.
Cara menutup homili dengan membaca puisi tersebut memberikan suasana segar bagi seluruh umat di gereja lantai atas yang kemudian memberikan aplaus. Berikut ini puisi yang dibacakan Romo Lamma:
Angin bertiup di malam kelabu/ Pakai selimut bergambarkan hati/ Tahun lama boleh berlalu/ Namun persahabatan kita tetap abadi/
Puisi tersebut sebenarnya merupakan tali simpul dari seluruh homili yang disampaikan sebelumnya. Pertama-tama Pastor Kepala Paroki Ciledug itu mengatakan bahwa dalam beberapa jam lagi tahun 2019 akan berakhir. “Waktu terus bergerak tak terbendung, waktu tak pernah terhentikan, apapun keadaan kita,” kata Romo Lamma.

Romo Lamma mengajak agar kita memaknai peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi dalam tahun 2019 sebagai bekal untuk memasuki tahun 2020, agar hidup berubah menjadi lebih baik. Ditekankan bahwa sebagai orang beriman, hidup menjadi lebih baik itu berarti berubah atau melakukan pertobatan.
Berangkat dari bacaan Injil hari itu, Yoh 1:1-18, “Pada mulanya adalah Firman; dst..” Romo Lamma mengatakan bahwa Allah masuk dalam sejarah umat manusia. Hal itu menjadi nyata dalam peristiwa inkarnasi, yang berarti Allah menjelma menjadi manusia.

Penjelmaan Allah menjadi manusia terjadi dalam peristiwa Natal yang berarti kelahiran. Tetapi Romo Lamma serta merta mengingatkan bahwa kelahiran adalah awal dari penderitaan. Kelahiran Yesus di dunia adalah awal penderitaanNya. Karena itu Natal sebagai kelahiran Yesus harus dilihat dan dipahami dalam keseluruhan sejarah kehidupanNya sampai pada puncak penderitaan salib.

Dengan demikian, inkarnasi atau penjelmaan Allah menjadi manusia yang berarti bahwa Allah masuk dalam sejarah manusia tersebut merupakan bukti bahwa Allah mau menjadi sahabat yang akan terus menemani manusia dalam penderitaannya.

Karena Allah sudah bersedia menjadi sahabat manusia, ujar Romo Lamma, kita pun hendaknya bersedia menjadi sahabat bagi semua orang. Demikianlah kita bisa memahami dan menghayati bunyi Pesan Natal Bersama PGI-KWI tahun 2019, "Hiduplah sebagai Sababat bagi Semua Orang", karena Allah telah lebih dulu bersedia menjadi sahabat manusia melalui penjelmaanNya.
Tahun lama boleh berlalu, namun persahabatan kita tetap abadi.
Selamat memasuki Tahun Baru 2020.
Teks: ps/ Foto-foto/ Video: Bambang Gunadi/ KOMSOS