Acara yang bertajuk Makan Siang Nusantara 2019 “Senyummu ... Bahagiaku” diadakan tepat di hari Natal 25 Desember 2019 di Rumah Makan Ampera Jl Ciledug Raya. “Ada 151 undangan dari orang-orang hebat pahlawan lingkungan hidup,” demikian Ibu Endang Widiyanti, selaku MC, menyebut para pengumpul barang bekas ini.

Gelaran ini diadakan serentak se-Keuskupan Agung Jakarta yang dikoordinir oleh Pemikat – Pertemuan Mitra Kategorial KAJ. Hari ini ada sekitar 5.000-an orang yang menghadiri acara serupa yang tersebar di paroki-paroki dan komunitas dari Bekasi, Jakarta, dan Tangerang. Ciledug salah satunya.
Dan yang membanggakan ada sekitar 2.000-an relawan yang terlibat dan donatur yang cukup banyak. Tiga orang perwakilan Pemikat KAJ hadir pada acara siang itu, yaitu Mbak Nita, Mas Gerald, dan Mas Felix.

Nama asli dari kegiatan ini adalah Makan Siang Natal yang awalnya dilakukan oleh Komunitas Sant' Egidio sejak tahun 1982. Jadi untuk tingkat dunia sudah memasuki tahun ke-37. Dan masuk ke Jakarta mulai tahun 1996, jadi sudah 24 tahun.
Nah mulai tahun 2010 barulah Pemikat KAJ masuk turut serta mengembangkan kegiatan ini agar jangkauannya lebih luas lagi. “Puji Tuhan kegiatan yang tadinya hanya di Jakarta itu saat ini sudah menjangkau Bekasi dan Tangerang,” ujar Mas Erlin saat pembekalan relawan di Aula Gereja St Theresia Menteng, Sabtu 21 Desember 2019.

Lebih lanjut Mas Erlin menjelaskan apa spiritualitas Makan Siang Natal, yakni untuk membimbing orang melihat misteri cinta Allah di tengah manusia dan menjadi salah satu jalan Injili menuju kebahagiaan. Dan dengan Makan Siang Natal membuka hati setiap orang dengan mengangkat martabat kemanusiaan yang ada di dalam diri setiap orang.
“Maka harapannya, semakin tahun semakin banyak orang-orang yang terlibat dan semakin banyak pula orang-orang yang dapat kita layani sehingga Natal sungguh hadir bagi semua orang khususnya mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Seperti moto kami, Beta Sapa, “bergandengan tangan sayangi yang papa,” jelas Mas Erlin.

Sementara itu Teguh Bidiono, Koordinator Nasional Sant'Egidio yang dikutip dalam siaran pers KAJ-Sant'Egidio, mengatakan, wajah Sang Anak yang berada di kandang Natal mengingatkan kepada kita akan wajah anak-anak miskin. Natal adalah pesta kemurahan hati.
Pelaksanaan Makan Siang Natal di Bernadet dikoordinir oleh Ibu Stephanie Natalia Sutedjo yang juga Ketua WKRI Cabang St Bernadet. Ibu Fanny, sapaan akrabnya, menjelaskan tahun ini pertama kali kita mengadakan sendiri karena tahun lalu kami masih gabung pelaksanaannya dengan Dekenat Tangerang 1.
Ibu Fanny menjelaskan, pemilihan siapa yang mau kita undang ini juga tidak mudah, karena beberapa komunitas yang tadinya sudah bersedia ternyata membatalkan. Beruntung ada Ibu Titin Sulopo dari WK Ranting Sesilia yang mengusulkan untuk mengundang para pengumpul barang bekas yang sering berkeliling di sekitar rumah kita.

Awalnya Ibu-ibu yang lain agak ragu dengan usulan itu, namun karena Bu Sulopo sudah mencoba dan dapat mengumpulkan 20 orang untuk diundang, ibu-ibu yang lain pun jadi semangat.
Karena target peserta hanya dibatasi 200 orang, maka untuk kali ini jangkauannya hanya WK Ranting Yohanes dan Ranting Sesilia. Selanjutnya dibuat kelompok sesuai lokasi para pengumpul barang bekas itu sering berkeliling, yaitu Kebantenan 1 dan 2 untuk Wilayah Yohanes, Gang Masjid, Fatahilah, Tanah Seratus, dan Peninggilan untuk Wilayah Sesilia. Ternyata cara ini efektif, karena dalam waktu singkat data tamu yang akan diundang sudah terkumpul. Dan terbukti semua yang didata itu hari.

Dalam pelaksanaan Makan Siang Natal para tamu yang kita undang selain kita jamu dengan menu makan siang yang istimewa, masing masing peserta juga diberi kado. Selain itu kepada para tamu itu juga masih diberikan goodie bag yang berisi aneka produk sponsor.
Pak Sanuari yang sehari hari berkeliling di sekitaran Masjid Fatahilah mengungkapkan senang sekali diajak ke tempat seperti ini dan bisa makan bersama di restoran. “Sering juga saya lewat di depan restoran ini, nggak nyangka kalau hari ini ada yang ngajak saya makan di sini. Makanannya enak. Trimakasih juga saya dapet hadiah,” ungkapnya.
-ok.jpg?1577673912586)
Dalam obrolan sebelum makan Pak Sanuari bercerita, dulunya ia berjualan koran. “Eh lama-lama jualan koran nggak laku, kata orang sekarang pada baca di hp aja,” katanya.
-ok.jpg?1577674057978)
Yang cukup mengejutkan, Pak Sanuri ternyata hafal nama-nama wartawan senior seperti Almarhum Pak Swantoro (Kompas), bahkan berita meninggalnya Arswendo Atmowiloto pun dia perhatikan.

Frater Steve, CICM, yang hadir juga siang itu mengungkapkan, “Saya tadi tidak tahu ini acara apa. Saya hanya disuruh hadir menggantikan Romo Lamma Sihombing, CICM, Pastor Paroki. Sebetulnya capek dan ngantuk semalem ikut mendampingi Misa dua kali yang berakhir sekitar jam 22.30, lanjut ikut menemani tamu dari komunitas muslim yang berkunjung ke Bernadet.”
-ok.jpg?1577674384720)
“Pagi hari tadi Misa mulai jam 06.00, lanjut Misa ke-2 dan pesta Natal anak-anak. Setelah sampai di sini dan tahu apa acaranya, wow… ini luar biasa. Inilah Natal yang istimewa. Kita bisa makan bersama dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung atau bahkan terpinggirkan. Kita bisa berkumpul bersama tanpa sekat-sekat perbedaan sebagai orang Katolik. Ini Natal yang sesungguhnya,” ujar Frater Steve.

Komentar dari Pemikat, “Pelaksanaan Makan Siang Natal seru dan berhasil. Kegembiraan tamu undangan terasa, apalagi mau diajak joget dan nyanyi-nyanyi bareng. Ice breaking-nya berhasil. Peserta terlihat menikmati acara selama 3 jam.”

Dan apa komentar pelayan restoran/pramusaji? “Wah saya tadi kaget melihat tamu-tamu yang datang. Ternyata yang diundang tidak seperti tamu biasanya. Seneng, Pak saya ikut melayani saudara-saudari yang mungkin belum pernah masuk ke sini, apalagi melihat mereka makan lahap sekali,” katanya.

Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Rafaela Chandra, Bambang Gunadi