Pada Minggu Adven ke-4 ini (21-22/12) di pintu masuk Gereja Bernadet lantai atas ada dua sosok ondel-ondel. Itulah kreasi Wilayah Thomas sebagai bagian dari karya mereka dalam mengikuti lomba dekorasi altar.
Keduanya tidak diletakkan di sekitar altar karena memang dimaksudkan sebagai sambutan selamat datang kepada umat yang akan mengikuti misa. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Wilayah Thomas memahami dekorasi altar tidak sebatas lokasi sekitar altar, melainkan menempatkannya dalam keutuhan peribadatan sejak umat memasuki gereja.

Pak Edwin Suryadi sebagai perancang karya tersebut, Sabtu siang (21/12), mengatakan bahwa Wilayah Thomas ingin menghadirkan budaya Betawi dengan representasi kedua sosok ondel-ondel tersebut. Karena ditampilkan pada Minggu Adven ke-4, kain yang dikenakannya pun semuanya dominan warna ungu.

Karena hari raya Natal tinggal satu dua hari lagi, tentu saja sangat sayang kalau kedua ondel-ondel tersebut tidak lagi dipakai. Karena itu, Tim Dekorasi Panitia Natal-Paskah Felis akan memanfaatkannya untuk dekorasi Natal. Caranya mudah, tinggal mengganti kain-kain warna ungu dengan warna yang sesuai dengan warna liturgi Natal.

Menurut penuturan Pak Edwin, untuk menghasilkan karya bersama seperti dekorasi altar, yang penting diperhatikan adalah prosesnya karena di situ terlibat banyak orang. Konsepnya seperti apa, properti-properti yang diperlukan apa saja, harus jelas untuk semua yang terlibat.

Dengan nada merendah, Pak Edwin meminta agar menanyakan kepada Pak Pak Budi Mandiro, yang sudah dikenal reputasi artistiknya, tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengerjaan dekorasi seputar altar, meskipun dari segi konsep sudah dibicarakan bersama sebelumnya.


Kalau dilihat sekilas, dekorasi altar Wilayah Thomas tampak biasa-biasa saja. Orang mungkin baru akan menyadari keistimewaannya kalau melihat lebih dekat fitur-fitur dekoratifnya yang lebih detail, seperti pemilihan tanaman hiasnya, perpaduan tanaman satu dengan tanaman lain, pernak-perniknya, serta jalinan tata warna yang dibuat. Semuanya tampak terkonsep, bukan asal taruh, sehingga tidak membosankan.


Pak Budi Mandiro juga termasuk orang yang sangat hati-hati dalam menjaga hasil karya. Ketika ada orang yang mau berfoto bersama di dekat ondel-ondel, spontan dia berpesan, "Awas, kaki jangan sampai merusak pot...!"
Terima kasih untuk Wilayah Tomas.
Teks & Foto: ps