Pak Bambang Hermanto, anggota DPH pendamping Prodiakon, dan istri termasuk salah satu pasutri yang merayakan HUP, Minggu, 24 November lalu. Saat itu dia bertugas sebagai Prodiakon.

Tidak lama sesudah pengucapan kembali janji pernikahan, Pak Bambang bercerita. “Saya berbisik ke istri, ‘Jadi inget peristiwa 25 tahun yang lalu ya, Bu?’ Dan istri saya tersenyum. Ini acara yang bagus dan harus terus diselenggarakan sehingga menjadi sarana memupuk cinta hidup berumah tangga. Trima kasih banget untuk Tim SKK,” kata Pak Bambang Hermanto pula.

Lalu Pak Bambang Hermanto menceritakan, awalnya meskipun hari itu mendapat jadwal tugas Prodiakon, dia tidak akan bertugas. “Mau duduk berduaan dengan istri,” katanya.
Tetapi melihat umat yang hadir cukup banyak dan belum ada yang menggantikan tugasnya, Pak Bambang Hermanto pun minta izin ke istri, “Bu saya tugas Prodiakon, diiyakan, dan ditambahi, ‘Biasanya juga duduk sendiri… Nanti aja pas mengulangi janji pernikahan mendekat, ya’,” katanya menceritakan bisikan mesra sang istri.

Itulah, kata Pak Bambang Hermanto, salah satu bentuk dukungan keluarga untuk Prodiakon. “Misa duduk sendiri, pulang misa nggak bisa jalan-jalan atau mampir makan di luar karena suami atau istri harus antar komuni orang sakit,” katanya.

“Maka pada momen HUP ini saya juga titip ucapan terima kasih untuk para istri atau suami dan keluarga yang telah turut mendukung tugas pelayanan Prodiakon,” ujarnya. Pesan ini disampaikan karena Pak Bambang Hermanto adalah pendamping Prodiakon.
Peserta lain adalah pasutri Adiek Suroto dari Wilayah Hubertus yang waktu itu merayakan HUP yang ke-33. “Acara semacam ini sangat bagus,” kata Pak Adiek, sapaan akrabnya, diamini oleh Pak Yulianto dari Metro Permata yang baru pertama kali ikut acara semacam ini.

Pak Adiek menambahkan, acara semacam ini sangat bermanfaat, terutama bagi pasangan dengan usia sudah melewati masa perkawinan perak, karena bisa lebih mendekatkan lagi dengan pasangan kita masing-masing.
“Merasa fresh dan muda lagi. Saat pemercikan air suci setelah kita memperbaharui janji perkawinan akan lebih membangun kenangan saat kita menikah dulu kalau dinyanyikan lagu-lagu pernikahan atau wedding song,” usul Pak Adiek.
Saat acara ramah-tamah di tenda bawah, Pasutri FX Margono-Elizabeth dari Wilayah Sesilia didaulat maju ke depan untuk menerima kenang-kenangan, karena pasutri ini telah melewati usia pernikahan ke-51, jauh di atas rata-rata peserta lainnya.

Dalam pesannya Pak Margono menyampaikan, “Perkawinan yang sudah memasuki usia 51 tahun tentu kami syukuri, dan ini karena penyelenggaraan Tuhan. Kalau ditanya resepnya apa, ya sederhana, jalani saja, mengalir.”
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: KOMSOS