Tantangan hidup berkeluarga di zaman modern saat ini tidaklah mudah. Banyak godaan yang dijumpai pada perjalanan hidup perkawinan. Maka cinta yang telah bersemi yang menjadi modal awal hidup perkawinan harus terus dipelihara dan dipupuk, sehingga cinta itu semakin lama bukan semakin memudar tetapi terus bertumbuh.

Demikianlah sambutan Roma Lamma Sihombing pada acara ramah-tamah Hari Ulang Tahun Perkawinan (HUP), Minggu 24 November 2019, di tenda bawah Gereja Pinang.

Sebagai Pastor Paroki Romo Lamma menyatakan turut bergembira dan bersyukur kepada pasangan-pasangan suami-istri yang merayakan HUP hari itu. Ada yang 40 tahun, ada yang baru 5 atau 10 tahun, tetapi ada juga yang sudah 51 tahun.

“Terima kasih juga kepada panitia penyelenggara dan Seksi Kerasulan Keluarga yang sudah mau bersusah-susah mengusahakan acara seperti ini. Semoga acara kebersamaan seperti ini menjadi sarana memupuk ikatan cinta hidup berkeluarga,” harap Romo Lamma.

Acara ini merupakan rangkaian dari acara peringatan hari ulang tahun perkawinan (HUP) menyusul pembaharuan janji perkawinan dalam misa sebelumnya yang dipersembahkan oleh Romo Lamma Sihombing CICM bersama Romo Thomas CICM yang akrab disapa Romo Santos, dengan iringan paduan suara Fabiola 4 dan 5.

Dalam homilinya Romo Santos, yang sedang liburan dari tugas misinya di Belgia, mengungkapkan rasa bahagianya karena bisa misa di tengah ratusan umat yang memenuhi Gereja. Terlebih ada begitu banyak pasangan yang merayakan hari ulang tahun perkawinan dan akan memperbaharui janji perkawinan yang dulu pernah diucapkan.

“Hal seperti ini sangat langka di Belgia. Saya biasanya, kalau misa, hanya bersama 15 sampai 25 umat. Gerejanya besar dan megah tapi bangkunya kosong, berbanding terbalik dengan di sini. Gerejanya tenda tapi bangkunya semua penuh terisi. Maka megahnya gereja itu bukan sebagai ukuran. Dan keluarga adalah gereja mini, maka jika keluarganya kuat gerejanya akan kuat,” tutur Romo Santos.

Menurut koordinator acara, Ibu Arum Pranastuti, dengan dukungan Tim Seksi Kerasulan Keluarga dan DPH Pendamping, ada 79 pasang pasutri yang ikut acara ini. Jika dilihat rentang waktu pernikahan mereka, Juni-November atau 6 bulan, pasti lebih banyak lagi pasutri yang ber-HUP tetapi tidak mengikuti acara ini.

“Masih butuh perjuangan untuk menjaring peserta. Semoga ke depan semakin banyak pasutri yang tertarik. Acara HUP sengaja digabung agar pesertanya lebih banyak sehingga dapat dikemas secara menarik,” kata Mbak Arum, sapaan akrabnya.

Yang menarik, dalam acara ramah ramah-tamah, konsumsinya potluck. Para peserta memberi kontribusi beraneka hidangan yang bisa disantap bareng-bareng. “Panitia hanya mengkoordinir saja. Dan puji Tuhan semua dicukupkan, bahkan berlebih sampai acara selesai, dan acara berjalan dengan meriah,” kata Mbak Arum.

Selamat atas suksesnya perayaan HUP umat Santa Bernadet!
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: panitia HUP/Pewarta Foto Komsos