Sesi pertama dari pelatihan pendamping atau pemerhati keluarga pada Minggu 17 November 2019 membahas topik “Menjadi Pribadi Plus”.
“Tuhan menciptakan manusia spesial. Tidak ada yang benar-benar sama meskipun dari sel telur yang sama. Selain mempunyai akal budi (manusia) juga mempunyai kepribadian,” jelas Ibu Johana Rosalina Kristyanti, Ph.D, yang memandu pelatihan tersebut.

Maka untuk mengetahui kepribadian masing-masing peserta, di awal sesi pertama diadakan tes kepribadian (Personality Quiz). Kepada semua peserta yang berjumlah 83 orang dibagikan lembar soal isian pilihan yang sesuai atau mendekati kepribadian masing-masing.
Hasilnya kepribadian Sanguinis ada 9 orang, Melankolis 19 orang, Koleris 21 orang, Phlegmatis ada 34 orang. “Tidak ada kepribadian yang salah,” ungkap Bu Rosa.
Tes tersebut, katanya, bertujuan untuk mempelajari kepribadian, sehingga kita dapat menghetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing tipe dan belajar menonjolkan kelebihan dan mengurangi kelemahan. Akhirnya kita dapat memahami orang lain dan menyadari jika mereka berbeda dengan kita bukan berarti mereka salah.

Dunia itu, jelasnya lagi, membutuhkan semua tipe kepribadian. Tuhan menciptakan orang Phlegmatis yang damai sebagai orang istimewa untuk menjadi bantalan emosi bagi tiga watak lainnya, untuk memberikan keseimbangan dan kestabilan.
“Bayangkan kalau semua Sanguinis, yang ada semua hanya senang-senang tanpa terorganisasi. Apa jadinya jika semua Koleris? Semua memimpin, tidak ada pengikutnya. Demikian halnya jika semua Melankolis, monoton. Ada yang tidak beres, akan tertekan.
“Kepribadian apapun jangan diekspresikan secara berlebihan atau ekstrem. Karena hal positif yang dibawa ke titik ekstrem akan berubah menjadi negative,” pesan Bu Rosa.

Di akhir sesi satu, sebelum makan siang, salah satu peserta, yaitu Mas Widianus dari Lingkungan Sesilia 4 merasa beruntung mengikuti pelatihan ini. “Padahal saat ditunjuk Ketua Lingkungan untuk mengikuti acara ini rasanya berat banget sampai sampai Pak Setyo, Ketua Lingkungan, pun menemani agar saya mau mendaftar. Akhirnya saya berangkat bertiga dengan Pak Yoko,” katanya.

“Baru sesi satu saja materinya sudah kerasa bermanfaat. Ini kalau di luaran seminar seperti ini pasti bayarnya mahal. Jadi saya beruntung banget ikut acara ini dan akan ikut sampai selesai,” imbuh Mas Widianus berjanji.
Teks & Foto: Bambang Gunadi