Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Ignatius Kardinal Suharyo menerimakan Sakramen Krisma kepada 148 peserta dalam Misa Kudus di Gereja Santa Bernadet, Minggu 3 November 2019. Selaku konselebran utama, Bapak Uskup didampingi Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM.

Gereja mengajarkan bahwa Sakramen Krisma merupakan salah satu dari tiga sakramen inisiasi Kristen, yaitu Baptis, Krisma dan Ekaristi. Di dalam sakramen Krisma kita menerima kepenuhan Roh Kudus sehingga kita dapat secara penuh dan aktif berkarya dalam Gereja.

Pada upacara penerimaan Sakramen Krisma tahun ini Wilayah Kristoforus mendapat tugas sebagai panitia bersama Tim Seksi Katekese dan Tim Liturgi Paroki, sementara dalam perayaan Ekaristi Sekolah Sang Timur memandu nyanyian, sedangkan Sekolah Abdi Siswa mendapatkan tugas tata laksana.

Anggota DPH Eti Herisusanti menyerahkan para calon Krisma kepada Uskup KAJ. Perayaan Ekaristi berjalan lancar dan khidmad. Para peserta dan orangtua/pendamping memenuhi gereja lantai atas sementara umat lain mengikuti misa di tenda bawah.

Dalam kotbahnya, Bapak Uskup menyampaikan bahwa kita mesti bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang semakin berhikmat, semakin menyerupai Yesus Kristus Sang Hikmat sendiri.

“Contoh seorang yang berhikmat, yang memiliki roh kebijaksanaan dan pengertian, adalah Zakheus, yang tak lain adalah seorang pemungut cukai, seorang yang kaya. Apa yang membuat Zakheus menjadi pemurah hati? Jawabannya tentu saja karena Roh Kudus,” kata Uskup yang dilantik menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus 5 Oktober 2019 itu.

Manusia mampu menjadi pribadi yang berhikmat apabila ia mempunyai pengertian yang benar akan siapakah Allah itu. Untuk menjelaskan hal tersebut, Bapak Uskup menyampaikan cerita tentang anak yang mencuri permen.

Adalah seorang anak yang senang sekali makan permen, demikian awal cerita itu. Karena sudah terlalu banyak makan permen, ia diperingatkan ibunya agar tidak mencuri permen yang disimpannya. Tetapi anak itu tetap mencuri permen, mengira tidak ada orang yang melihat tetapi sang ibu mengetahuinya.

“Nak, meskipun tidak ada orang yang melihat kamu mencuri permen, tahukah kamu bahwa Allah mengetahuinya?” Tetapi anaknya itu malah menjawab, “Oh ya saya tahu, dan Allah menyuruh saya mengambil dua…” Spontan umat tergelak mendengar cerita tersebut.

Bapak Uskup lalu menjelaskan makna cerita itu. Anak tersebut mempunyai pengertian yang benar tentang Allah. Allah itu bukan yang menakutkan dan suka menghukum, tetapi yang penuh kasih. Zakheus, sebagaimana diceritakan dalam Injil hari itu, Lukas 19: 1-10, menjadi pribadi yang berhikmat atau memiliki roh kebijaksanaan karena dia punya pengertian yang benar akan siapakah Allah itu, siapakah Yesus itu, yaitu yang penuh belas kasih.

“Paham pengertian akan Allah sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Jika pahamnya salah, maka tingkah laku orang tersebut akan salah juga,” kata Bapak Uskup. “Kepada kita dikaruniakan roh untuk menjadi pribadi-pribadi yang berhikmat. Kuncinya satu, pengalaman akan Allah yang benar akan mencapai pada pengertian bahwa hidup adalah anugerah. Anugerah itu siap untuk dibagikan, sama seperti Zakheus yang mau membagikan hartanya,” ujar Bapak Uskup menutup kotbahnya.


Sebelum berkat penutup, anggota DPH B Bambang Hermanto menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan, selamat kepada krismawan dan krismawati, terima kasih kepada Uskup KAJ Ignatius Kardinal Suharyo yang telah menerimakan Sakramen Krisma sekaligus ucapan selamat atas dilantiknya menjadi Kardinal dalam consistorium (Sidang Kardinal) 5 Oktober lalu. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada panitia serta petugas pelayanan lainnya.


Usai misa ada sesi foto bersama per kelompok sekolah asal peserta, para petugas liturgi dan petugas-petugas lainnya. Sesudah itu Bapak Uskup dipersilakan menuju ruang PPRI untuk beramah tamah dan makan siang bersama dengan DPH, panitia Krisma, dan awak Komsos.

Teks: Yollanda, Karin/ Foto-foto: Jassen Novaris, Walter Arya, Ana Manurung, Rulianti