HPS di Paroki Ciledug, Hasil Olahan Jagung Banyak Variasinya dan Unik

30 Oktober 2019
  • Bagikan ke:
HPS di Paroki Ciledug, Hasil Olahan Jagung Banyak Variasinya dan Unik
Kreasi makanan berbahan dasar jagung dengan gambar St Bernadet.

Keterlibatan Gereja Santa Bernadet dalam rangka Hari Pangan Sedunia (HPS) dirayakan pada hari Minggu (27/10) di Gereja Pinang. Sesuai dengan tema “Mencintai Pangan Lokal” yang dikeluarkan oleh Komisi Pengembangan Sosisal dan Ekonomi (PSE) KWI, seksi PSE paroki mengadakan lomba hasil olahan bahan makanan lokal berbahan dasar jagung. Sebanyak 64 lingkungan dari 85 lingkungan ikut serta dalam kegiatan ini.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 20.24.48-ok

Dari tahun ke tahun lomba HPS selalu dipadati pengunjung.

HPS menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Di Paroki Ciledug, biasanya setelah misa kedua selesai seluruh umat dapat menikmati aneka ragam makanan lokal. Sebelumnya makanan yang dilombakan tersebut sudah melalui penilaian dari dewan juri.

baby8-ok

Ada tumpeng dengan bahan dasar jagung.

Para jurinya adalah Ibu H Juhana, Ibu Santi, dan Ibu Yaya, yang semuanya adalah lulusan tata boga serta sudah sering menjadi juri di pelbagai organisasi seperti PKK, IGTK, serta kecamatan-kecamatan.

baby22-ok

Menilai makanan tak cukup dilihat tapi harus juga  dicicipi.

Kegiatan yang hanya bisa dinikmati satu kali setahun ini selalu dibanjiri umat yang hadir. Jumlah peserta lomba pun meningkat, dari tahun sebelumnya yang hanya 58 lingkungan menjadi 64 lingkungan di tahun ini.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 20.24.52-ok

Pengunjung dapat menikmati makanan dengan menukarkan kupon.

Dipersiapkan sungguh-sungguh

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Ibu Cicilia Fatmawati (Ketua PSE) bersama dengan tim mempersiapkan perayaan HPS ini dengan sungguh-sungguh. Hal itu dilakukannya agar semua umat dapat merayakannya, juga menikmati makanan dengan gembira.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 20.25.05-ok
Para juri tengah menilai makanan hasil olahan jagung. 

“Kami juga ingin memperkenalkan pangan lokal ini kepada generasi muda, yang mungkin lebih banyak makan makanan cepat saji (fast food),” ujar bu Cicil. Selain itu untuk menghindari kekurangan makanan yang disediakan, PSE juga membuat tambahan makanan bagi umat yang hadir.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 20.25.06-ok

Seorang juri sedang melakukan penilaian.

Kupon yang telah dibagikan pun langsung bisa ditukarkan dengan makanan pada stand yang sudah tersedia. Rommo Lamma yang masih mengenakan jubah putihnya menyempatkan diri hadir di tengah-tengah acara ini.

 WhatsApp Image 2019-10-27 at 20.24.55-ok_1

Romo Lamma mengaku senang dengan acara HPS kali ini.

“Romo senang sekali ada acara seperti ini. Tentunya ini lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Inilah kebersamaan,” ungkap kebahagiaan Romo Lamma sambil berkeliling mengunjungi stand-stand makanan.

Edukasi penting

baby3-ok

Stan salah satu lingkungan dari Wilayah Loyola.

Kegiatan perayaan ini hanyalah salah satu cara memaknai hari pangan yang juga dilakukan oleh seluruh dunia. Di dalamnya terdapat edukasi yang penting, salah satunya adalah menyadarkan umat bahwa pangan lokal sangat beragam, tidak hanya nasi yang biasa kita konsumsi tetapi juga ada jagung, singkong, dan umbi-umbian lain yang bisa diolah.

baby19-ok

Pelbagai kreasi makanan berbahan dasar jagung siap dinilai.

“Kami juga tidak mengira bahwa hasil olahan jagung bisa menjadi variasi makanan yang cukup banyak dan unik seperti ini, ada bubur jagung, ada puding, bahkan tumpeng. Kita juga jadi memberi contoh kepada generasi muda, ini loh makanan utama kita meskipun mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menggantikan nasi,” jelas bu Cicil yang ditemui setelah kegiatan HPS selesai.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 20.24.49-ok

Lihat-lihat dulu sebelum menukarkan kupon.

Beri peluang KLMTD

Tentunya perayaan hari pangan tidak akan berhenti sampai sebatas sermonial saja. Bu Cicil menjelaskan, rencana ke depannya seksi PSE paroki akan mengadakan kegiatan sejenis seperti seminar ataupun demo masak. Tujuannya agar dapat memberikan peluang-peluang usaha bagi umat khususnya umat Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Difabel (KLMTD) untuk berwirausaha.

baby13-ok

Puding jagung (Maria Goretti 3); Nasi jagung dan lauknya (Maria 2).

Semakin banyak yang berwirausaha dengan mengolah pangan lokal maka akan semakin banyak juga yang mengkonsumsinya. Makanan yang akan kita konsumsi juga akan sangat beragam dan pastinya akan lebih bergizi.

Hasil penilaian juri

Berdasarkan hasil penilaian juri, maka keluar sebagai Juara 1 Lingkungan Anna 1 (No peserta 1); Juara 2 Lingkungan Fabiola 2 (37), dan Juara 3 Lingkungan Fabiola 5 (32). Sementara untuk Harapan 1 diraih oleh Lingkungan Theresia 2 (17); Harapan 2 Lingkungan Loyola 2 (21); dan Harapan 3 Lingkungan Maria 4 (55). Selamat untuk para pemenang!

baby31-ok

Para juri dan Seksi PSE sebagai penyelenggara HPS 2019.

Tema Nasional KWI

Sekadar catatan, menurut Sekretaris Eksekutif KWI, Romo Ewaldus Ewal, HPS dikoordinir oleh Komisi PSE KWI, Keuskupan-keuskupan, dan Tarekat-tarekat. Tema yang diangkat secara nasional sama, yaitu dari KWI, tetapi Keuskupan-keuskupan diharapkan menerjemahkan tema tersebut menjadi lebih konkret lewat aksi nyata sesuai dengan konteks masing-masing. (mirifica.net, diunduh 31/10/19). Aksi nyata di Keuskupan Pontianak, misalnya, salah satunya adalah gerakan menanam sayur di pekarangan sendiri, berbeda dengan keuskupan lainnya.

AYO! Konsumsi Pangan Sehat, Segar, dan Sejahtera!

Teks: Margaretha Elsa/ Foto-foto: Walter Arya/Rafaela Chandra/Jassen Novaris/KOMSOS

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna