SMP Strada Bhakti Utama melaksanakan tugas pelayanan misa di Gereja Santa Bernadet Pinang, Minggu (27/10). Sekolah yang beralamat di Jalan Bromo Pesanggrahan, Jakarta Selatan itu menerima paket tugas three in one, yaitu koor, tata laksana, dan parkir. Misa dipimpin oleh Pastor Kepala Paroki Ciledug, Romo Lammarudut Sihombing, CICM.
Tugas koor dilaksanakan oleh 23 siswa dari kelas 7, 8, dan 9, dengan dirigen Chris Marbun (siswa) dan Ibu Lucia Damayanti (Kepala Sekolah); tata laksana oleh siswa-siswa SMP, sedangkan untuk parkir guru-gurunya terlibat, termasuk 4 orang ibu guru SD yang membantu jaga parkir motor di Taman Pinang.

Berbeda dari tugas yang pernah dilakukan sebelumnya, kali ini koor membawakan lagu-lagu dengan cengkok (irama lagu) keroncong. Maka umat yang ikut misa pada waktu itu bisa menyaksikan sajian lagu Cahaya Suci (gaya Sunda dengan aransemen Paul Widyawan, Madah Bakti 220) dan lagu-lagu lain yang dibawakan dalam irama keroncong.

Melatih siswa-siswa SMP menyanyikan lagu-lagu keroncong menjadi tantangan tersendiri. Bukan saja karena lagu keroncong berbeda dengan lagu-lagu misa yang sudah mereka kenal, tetapi juga karena keroncong masuk dalam genre musik tradisional, yang bagi anak-anak belasan tahun itu tentu tidak serta merta bisa "masuk" dalam rasa musikalitas mereka.
“Latihan musik keroncong untuk anak-anak cengkok-nya rada susah,” kata Ibu Titik, salah seorang pelatihnya, sambil tertawa. "Karena itu pas tampil di gereja didampingi guru-guru," imbuhnya.
Untuk persiapan pelayanan di Gereja Bernadet itu latihan dilakukan 5 kali, termasuk sekali berlatih bersama para pengiring. Sedangkan yang melatih adalah Ibu Lucia Wahyu Damayanti (Kepala Sekolah) dan Ibu Maria Titik Lestari (guru).
Personel pengiringnya terdiri dari Pak Doni (keyboard), Pak Yohanes (cuk, alat musik khas keroncong yang biasanya dipasangkan dengan cak), Pak Yudhis (bass), dan Valen (gitar).

Latihan tersebut dilakukan sesudah pulang sekolah, jam 14.00-15.00, di SMP Strada Bhakti Utama yang beralamat di Jl Bromo, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Oleh karena musiknya keroncong, alat-alat pengiringnya pun khas yang harus disediakan sendiri. “Alat-alat pengiringnya dibawa dengan GoBox,” jelas Bu Titik.
Rupanya hasil usaha keras untuk menghadirkan warna musik dengan nuansa berbeda itu cukup menarik perhatian dan mendapat apresiasi. Romo Lamma di akhir misa, misalnya, secara khusus berterima kasih dengan menyebut koor tersebut yang langsung disusul tepuk tangan umat.
“Ada bapak-bapak yang bilang bagus dan sempat memvideokan dengan HP lagu penutup Nderek Dewi Maria,” kata Bu Titik.

Terima kasih, SMP Strada Bhakti Utama, yang sudah memberikan pelayanan dengan warna lain dalam misa di Gereja Bernadet. Tetap semangat dalam berkreasi untuk melayani Tuhan dan sesama!
Teks: ps/ Foto-foto & Video: SMP Strada Bhakti Utama